tirto.id - Beroperasi dengan dua jenama berbeda sepertinya memang sudah jadi bagian dari DNA Toyota sejak dulu. Jika kini mereka punya Lexus sebagai jenama mobil mewah, dahulu kala Toyota pernah memiliki Toyopet, khusus untuk mobil-mobil kompak dan truk kecil yang dipasarkan pada kurun 1947 hingga awal 1960-an.
Toyopet, menurut keterangan resmi Toyota, merupakan hasil dari semacam sayembara untuk mencari nama bagi jenama mobil kecil Toyota. Dari jenama itulah beberapa mobil ikonik—bahkan setelah nama Toyopet dihapuskan—masih dipasarkan dengan menggunakan jenama Toyota, yaitu Crown dan Corona.
Crown, yang lahir pada 1955, dan Corona, yang muncul pertama kali pada 1957, bukan cuma menjadi sedan populer yang melambungkan nama Toyota di peta persaingan otomotif global, tetapi juga jadi titik awal tradisi unik. Meski didesain untuk semua kalangan, Toyota sering menamai mobil mereka, khususnya yang berjenis sedan, dengan nama-nama yang berkaitan dengan "mahkota".
Crown berarti mahkota dalam bahasa Inggris, sementara corona berarti mahkota dalam bahasa Spanyol. Makin lama, mobil-mobil Toyota yang menggunakan nama mahkota pun makin banyak. Ada Corolla, yang dalam bahasa Latin berarti mahkota kecil, yang dirilis pertama kali pada 1966. Setelah itu, pada 1982, lahirlah Camry yang berasal dari kata kanmuri yang juga berarti mahkota.
Kata orang, nama adalah doa, dan sepertinya doa Toyota untuk sedan-sedannya selalu terkabul.
Toyota Crown hingga kini masih diproduksi, menjadi model tertua Toyota kedua yang masih diproduksi setelah Land Cruiser.
Di sisi lain, Toyota Corona, meski sudah berhenti diproduksi pada 2001, sempat diproduksi sampai lebih dari 8,2 juta unit, belum termasuk Mark II yang juga sempat dikenal dengan nama Corona Mark II (6,5 juta unit).
Corolla? Jangan tanya. Mobil tersebut terlaris sepanjang sejarah otomotif dunia dengan lebih dari 50 juta unitnya telah terjual sejak pertama kali dirilis.
Terakhir, ada Camry yang punya jalan cerita unik. Di AS, ia adalah mobil penumpang terpopuler dalam seperempat abad terakhir, sekaligus satu dari tiga model mobil yang berkompetisi di NASCAR. Di Indonesia, ia identik dengan citra sebagai mobil pejabat. Akan tetapi, di negara asalnya sendiri, Jepang, ia justru tidak laku sehingga penjualannya disetop.
Riwayat Awal Camry
Generasi pertama Camry diproduksi sejak Maret 1982 dengan kode internal V10. Yang membuatnya istimewa pada zamannya adalah posisi mesin yang dipasang melintang berpenggerak roda depan, sesuatu yang belum pernah dilakukan Toyota sebelumnya pada mobil penumpang. Dengan begitu, tidak ada lagi poros penggerak yang memanjang dari depan ke belakang di bawah lantai, sehingga ruang kabin bisa dimaksimalkan.
Sayangnya, orang Jepang tidak terlalu tertarik. Desain Camry generasi awal dianggap kurang berkarakter. Interiornya terasa terlalu sederhana untuk selera pasar domestik Jepang. Konsumen Jepang waktu itu terbiasa dengan standar penyelesaian (finishing) yang tinggi, dan Camry pertama belum memenuhi ekspektasi itu.

Namun, Toyota tidak panik. Sebab, di seberang Samudra Pasifik, ceritanya berbeda. Camry masuk AS pada Januari 1983, dan dalam waktu kurang dari dua tahun sudah lebih dari 100 ribu unit terjual. Warga AS saat itu belum melupakan krisis bahan bakar 1970-an, dan mereka masih mencari mobil yang irit, andal, dan tidak rewel. Camry menjawab semua kebutuhan itu di saat rival-rival lokalnya seperti Ford Tempo dan Chevy Citation gagal bersaing dari sisi kualitas.
Dari sana, Camry terus tumbuh. Setiap generasinya membawa perubahan dalam bentuk dimensi yang lebih besar, kabin yang lebih senyap, dan teknologi yang lebih canggih. Hasilnya bisa dilihat lewat angka. Hingga 2025, Camry sudah terjual lebih dari 22 juta unit di seluruh dunia. Di Amerika, dominasi Camry bahkan lebih mengerikan lagi. Ia pernah menjadi mobil terlaris di Amerika selama 15 tahun berturut-turut dan masih terus berada di papan atas sampai sekarang.
Di Indonesia, Camry masuk secara resmi pada 1999. PT Toyota Astra Motor membawa masuk generasi IV berkode XV20 untuk menggantikan Corona yang sudah mulai uzur. Ada dua pilihan varian waktu itu: GLX dengan mesin 2.200cc empat silinder dan Grande dengan mesin 3.000cc V6.
Produksi lokal Camry kemudian dimulai di pabrik Karawang pada 2001. Setahun berselang, generasi XV30 diluncurkan dengan tampilan yang lebih segar dan mesin 2.400cc. Camry mulai membangun namanya secara perlahan di kalangan konsumen Indonesia yang menginginkan sedan mewah tanpa harus memilih merek Eropa.
Puncak kejayaan Camry sebagai "mobil pejabat" datang di era generasi XV40, yang diproduksi antara 2006 hingga 2012. Pada periode inilah Camry resmi menjadi kendaraan dinas para menteri, pejabat instansi, hingga kepala daerah, pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Barisan Camry hitam berplat merah di depan gedung kementerian menjadi pemandangan yang sangat familiar. Ia sudah menjadi penanda status. Jika sudah bisa naik Camry, tandanya Anda bukan orang sembarangan.
Generasi XV40 hadir dalam tiga varian: 2.4 G, 2.4 V, dan 3.5 Q, dengan kabin dilengkapi panel kayu, AC digital, dan sistem audio premium. Kemewahan-kemewahan itu tidak cuma tampil secara visual, melainkan bisa dirasakan begitu pintu ditutup dan mesin dihidupkan.
Masuk ke Lintasan Balap
Selain kemewahan, keampuhan mesin juga jadi keunggulan terbesar Camry dibanding kompetitornya. Ini terbukti dengan keberanian Toyota membawa Camry ke NASCAR Cup Series pada 2007, ajang balap yang selama puluhan tahun hanya diisi merek-merek AS, seperti Ford dan Chevrolet.
NASCAR adalah balapan unik. Secara tradisional, ajang ini memang dimanfaatkan oleh pabrikan-pabrikan untuk mendongkrak penjualan mobil di level domestik. Sampai-sampai ada frasa "Menang di hari Minggu, jualan di hari Senin" untuk menggambarkannya. Kredo tersebut sebelumnya hanya diikuti oleh pabrikan-pabrikan lokal AS, sampai akhirnya Toyota ikut-ikutan bermain.
Kehadiran Toyota awalnya tidak disambut baik. Banyak penggemar NASCAR yang merasa aneh melihat merek Jepang di lintasan. Hasilnya pun memang tidak langsung memukau. Sepanjang musim perdana 2007, Toyota hanya meraih dua posisi start terdepan dari 36 balapan dan hanya sekali finis di lima besar.
Namun, peruntungan Toyota dengan cepat berubah. Pada 9 Maret 2008, Kyle Busch membawa Camry milik Joe Gibbs Racing finis pertama di Atlanta Motor Speedway dalam balapan Kobalt Tools 500. Busch memimpin sepanjang 173 lap dan memberikan Toyota kemenangan pertamanya di Cup Series.
Sejak itu, Camry pun mulai diperhitungkan di ajang NASCAR. Pada 2025 lalu, ketika Denny Hamlin finis pertama di World Wide Technology Raceway, Toyota telah merasakan 200 kemenangan di NASCAR Cup Series.

Namun, di balik semua kejayaan itu, ada satu ironi besar yang jadi semacam duri dalam daging. Pada 2023, Toyota mengumumkan penghentian penjualan Camry di Jepang. Alasannya? Camry memang tidak pernah berhasil menaklukkan selera orang Jepang.
Terakhir, penjualan mobil itu di pasar domestik hanya mencapai kurang dari 6.000 unit atau kurang dari 0,1 persen pasar domestik Jepang. Secara keseluruhan, total Camry yang terjual di Jepang sejak 1980 hanya sekitar 1,3 juta unit.
Di Indonesia, kisah Camry masih berlanjut. Generasi terbarunya masuk ke Indonesia pada Februari 2025 lewat ajang IIMS, hanya dalam satu varian, yaitu Hybrid 2.5 HEV.
Sedan yang dulu identik dengan plat merah dan konvoi pengawalan kini hadir dengan teknologi hibrida, sesuai tuntutan zaman yang kian mendewakan efisiensi. Meski begitu, karakternya tidak banyak berubah. Camry tetap menjadi sedan yang menawarkan kelapangan kabin, kemewahan fitur, dan kekuatan mesin.
Kini, lebih dari empat dekade sejak pertama kali dirilis, Toyota Camry mengajarkan satu hal penting: hanya karena sesuatu tidak dihargai di suatu tempat, bukan berarti ia tidak berharga di tempat lain.
Camry sukar diterima di Jepang, tetapi menjadi mobil bergengsi di Indonesia dan pujaan di AS. Popularitas Camry boleh jadi tidak seuniversal Corolla, tetapi ia tetap layak menyandang mahkota miliknya sendiri.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























