Menuju konten utama

Tiga Bank BUMN Diduga Danai Perusak Lingkungan di Sumut

TuK Indonesia menyebut dana yang diberikan bank bukan sekadar urusan bisnis, tapi berdampak langsung pada tata kelola lingkungan.

Tiga Bank BUMN Diduga Danai Perusak Lingkungan di Sumut
Warga korban banjir bandang dan longsor duduk di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka,Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Minggu (7/12/2025). Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan bahwa status tanggap darurat di Tapanuli Tengah diperpanjang 14 hari, karena masih ada 19 desa yang terisolir. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz

tirto.id - Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia mengungkap adanya tiga bank badan usaha milik negara (BUMN) yang terlibat dalam pembiayaan terhadap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan Sumatra Utara dan dikaitkan dengan krisis lingkungan.

Hal ini disampaikan Kepala Departemen Advokasi & Pendidikan Publik TuK Indonesia, Abdul Haris, dalam konferensi pers secara daring pada Senin (22/12/2025).

Haris menjelaskan bahwa dari total 20 bank pemberi pinjaman terbesar, bank Cina mendominasi pembiayaan kepada perusahaan yang memiliki andil besar terhadap kerusakan lingkungan. Dari daftar tersebut, bank BUMN berada dalam posisi kedua pemberi pinjaman terbesar.

"Dari pembiayaan atau 20 ranking bank ini, adalah tiga bank utama di Indonesia atau tiga bank BUMN di Indonesia," ujar Haris.

Haris menyebut keterlibatan atas pembiayaan bank BUMN terhadap perusahaan penyebab kerusakan juga merupakan hal yang baru. Terlebih bank tersebut selama ini selalu mengeklaim sebagai pelopor keuangan berkelanjutan dan pembiayaan hijau.

"Dan fakta yang terjadi di Sumatera membuktikan sebaliknya. Bahwa kerusakan lingkungan hidup dan korelasinya dengan pembiayaan begitu sangat besar bagi lingkungan hidup kita," tuturnya.

TuK Indonesia menyebut pembiayaan yang diberikan bank bukan sekadar urusan bisnis, tetapi memiliki dampak langsung pada tata kelola lingkungan.

Apalagi, Haris menuturkan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera Utara saat bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan berkaitan dengan melemahnya daya dukung lingkungan akibat aktivitas industri skala besar yang didukung pembiayaan perbankan.

"WALHI menjelaskan dengan sangat gamblang sekali bahwa ini adalah bencana ekologis, di mana sebuah karakteristik yang sangat berbeda, ini lebih dikaitkan dengan bagaimana sebuah daya dukung daya tampung lingkungan yang tidak kuat menghadapi fenomena ekologi tadi, fenomena lingkungan tadi, atau curah hujan yang tinggi tadi," katanya.

"Dan itu diakibatkan oleh, teman-teman mengidentifikasi serangkaian perusahaan-perusahaan. Ya, beberapa perusahaan, setidaknya ada tujuh perusahaan yang terlibat aktif melakukan eksploitasi di Sumatera Utara, yang dihubungkan dengan bagaimana bencana di sana terjadi," lanjut Haris.

Baca juga artikel terkait PERBANKAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Insider
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah