Periksa Data

Tes COVID-19: RI Masih di Belakang Vietnam, Malaysia

Oleh: Hanif Gusman - 7 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Jokowi meminta jajarannya agar bisa melaksanakan 10 ribu tes PCR dalam sehari. Bagaimana realisasinya dalam dua minggu terakhir?
tirto.id - Pada Rabu (6/5/2020), Presiden RI Joko Widodo meminta agar seluruh jajarannya bekerja keras sehingga pandemi COVID-19 yang masih melanda Indonesia dapat dikendalikan dan mampu ditangani pada Mei 2020, sesuai dengan rencana awal.

Dalam rapat paripurna yang dilakukan secara daring, Jokowi ingin kurva kasus positif COVID-19 turun pada bulan Mei ini sehingga Indonesia dapat memasuki bulan Juli dengan lebih ringan. "Target kami di Bulan Mei ini harus betul-betul tercapai, sesuai target yang kami berikan yaitu kurvanya sudah harus turun dan masuk pada posisi sedang di bulan Juni, di bulan Juli harus masuk pada posisi ringan dengan cara apapun," kata Jokowi.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas daring membahas Laporan Tim Gugus Tugas COVID-19 di Istana Merdeka pada Kamis (19/3/2020), Jokowi telah menyampaikan agar rapid test atau tes cepat dapat dilakukan dengan cakupan yang lebih besar, agar deteksi dini kemungkinan indikasi awal seorang terpapar COVID-19 bisa dilakukan.

"Saya minta alat-alat rapid tes terus diperbanyak, juga memperbanyak tempat-tempat untuk melakukan tes dan melibatkan rumah sakit, baik pemerintah, milik BUMN, Pemda, rumah sakit milik TNI dan POLRI, dan swasta, dan lembaga-lembaga riset dan pendidikan tinggi yang mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan,” ujar Jokowi dilansir laman Sekretariat Kabinet RI.

Dalam rapat terbatas pada 30 Maret 2020, Jokowi kembali meminta jajarannya untuk memperhatikan ketersediaan alat rapid test dan polymerase chain reaction (PCR). Ia juga menginstruksikan agar tes tersebut diprioritaskan kepada tenaga medis dan keluarga, serta orang-orang yang berhubungan dengan pasien positif COVID-19.


Sebagai catatan, pada 16 Maret, jumlah kasus positif di Indonesia tercatat sebanyak 134 kasus. Sebanyak 8 pasien berhasil sembuh dan lima pasien meninggal. Selain itu, sebanyak 1.230 spesimen telah diperiksa dengan 1.083 diantaranya negatif.

Jumlah tersebut terus bertambah seiring waktu. Pada 16 April, misalnya, tercatat 5.516 kasus positif dengan 548 pasien sembuh dan 496 pasien meninggal. Menurut catatan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 per 4 Mei 2020, jumlah kasus positif sebanyak 11.587 kasus dengan 1.954 pasien sembuh dan 864 pasien meninggal.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan jumlah spesimen yang diuji setiap harinya. Jokowi dalam ratas pada 13 April meminta jajarannya agar bisa melaksanakan 10 ribu tes PCR dalam sehari. Dalam periode dua minggu terakhir (21 April-4 Mei 2020), jumlah uji PCR yang dilakukan berkisar pada angka 1.100 hingga 5.200 tes setiap harinya.


Pada 21 April, pengujian telah dilakukan terhadap 46.173 orang dengan hasil 39.038 orang negatif. Jumlah tes harian pada hari tersebut tercatat sebanyak 2.424 orang. Jumlah pengujian harian yang dilakukan bervariasi setiap harinya.

Jumlah tes terbanyak dalam sehari pada periode dua minggu terakhir yaitu pada 29 April 2020 dengan tes terhadap 5.240 orang. Sedangkan jumlah tes paling kecil pada 22 April 2020 dengan 1.188 tes.

Hingga 4 Mei 2020, pemerintah telah melakukan uji PCR terhadap 86.061 orang dengan 74.474 hasil negatif. Angka tersebut meningkat sebanyak 3.144 dibandingkan hari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, jumlah tes yang telah dilakukan tersebut masih tampak kecil.

Badan Pusat Statistik dalam laporan berjudul Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada 2020 sebanyak 269,6 juta jiwa. Artinya, jika dirasio per 1 juta penduduk, tes telah dilakukan terhadap 319 orang per 4 Mei 2020.

Rasio 319 orang per 1 juta penduduk tersebut lebih baik jika dibandingkan keadaan pada dua minggu lalu. Pada 21 April 2020 tercatat tes telah dilakukan terhadap 46.173 orang, atau sekitar 171 orang per 1 juta penduduk.



Tertinggal

Rasio tes COVID-19 per 1 juta penduduk di Indonesia memang menunjukkan tren yang meningkat. Namun jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, Worldometer mencatat Indonesia masih ketinggalan dari Vietnam hingga Malaysia.

Di kawasan ASEAN, Vietnam menjadi negara dengan jumlah tes terbanyak saat ini. Hingga 29 April, Vietnam telah melakukan tes terhadap 261.004 orang. Jika dirasio, tes telah dilakukan terhadap 2.681 orang per 1 juta penduduk.

Vietnam saat ini dianggap sebagai salah satu negara yang sukses berperang melawan COVID-19. Selain jumlah tes yang tinggi, kasus baru harian di negara tersebut 'hampir' tidak terlihat dalam dua minggu terakhir. Tercatat hanya ada dua kasus pada 24 April dan satu kasus pada 3 Mei 2020.

Selain itu, jumlah kasus positif di Vietnam tertahan di angka 271 dengan tren cenderung stagnan selama seminggu terakhir. Dalam laporan Tirto sebelumnya disebutkan, keberhasilan Vietnam tersebut dipengaruhi beberapa faktor seperti keputusan karantina wilayah yang cepat dan tracking kasus hingga orang keempat yang kontak dengan pasien positif.

Tes terbanyak kedua dilakukan Thailand. Negara tersebut telah melakukan tes kepada 227.860 orang hingga 4 Mei dengan rasio 3.264 orang per 1 juta penduduk.

Untuk ukuran rasio per 1 juta penduduk, Singapura menjadi negara tertinggi dengan tes yang telah dilakukan terhadap 25.200 orang per 1 juta penduduk. Hingga 27 April, pemerintah Singapura telah melakukan swab test (PCR) terhadap 143.919 orang.

Negara lain seperti Malaysia dan Filipina juga telah melakukan tes yang lebih banyak dibandingkan Indonesia, masing-masing yaitu Malaysia (205.598 orang), Filipina (126.164 orang). Beberapa negara di ASEAN yang berada di bawah Indonesia terkait jumlah tes adalah Myanmar dan Kamboja.

Myanmar telah melakukan tes terhadap 9.025 orang, atau 166 orang per 1 juta penduduk. Sementara itu, Kamboja telah melakukan tes terhadap 12.378 orang. Namun, Kamboja memiliki rasio tes yang lebih baik dibanding Indonesia, yaitu 740 orang per 1 juta penduduk.


Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight