Menuju konten utama
Mozaik

Tendangan Kungfu, dari Jurus Shaolin ke Lapangan Hijau

Kungfu mengajarkan kerendahan hati, kasih sayang, dan pengendalian ego. Namun, di sepak bola, ia justru diidentikkan dengan kekerasan dan kebrutalan.

Tendangan Kungfu, dari Jurus Shaolin ke Lapangan Hijau
HEADER MOZAIK Tendangan Kungfu. tirto.id/Tino

tirto.id - Pada malam dingin 25 Januari 1995 di Selhurst Park, Eric Cantona, pemain bintang Manchester United yang baru saja diusir wasit Alan Wilkie, berjalan menuju ruang ganti dengan amarah menumpuk. Di tengah riuh ejekan penonton, seorang suporter Crystal Palace, Matthew Simmons, melontarkan makian bertendensi rasial.

Mendengar itu, Cantona langsung berlari ke arah tribun, lalu melompat melewati papan iklan dan menghantam Simmons dengan tendangan melayang. Tak berhenti di situ, ia juga memukulnya berkali-kali.

Rekaman insiden tersebut berulang kali diputar media, diberi label “tendangan kungfu”, dan memicu kehebohan.

Selama dua hari, menurut manajer Alex Ferguson, adegan itu ditayangkan televisi sebanyak 93 kali dalam dua hari. “Itu lebih sering diulang daripada film-film penembakan JFK (John F. Kennedy),” ujarnya, dilansir oleh The Guardian.

Cantona dijatuhi larangan bermain selama beberapa bulan, denda besar, bahkan sempat terancam hukuman penjara. Namun bertahun-tahun kemudian, ia menyebut momen itu sebagai yang terbaik dalam kariernya, lebih berharga dari gol dan gelar juara.

“Saya memiliki banyak momen bagus tetapi yang saya sukai adalah ketika saya menendang hooligan,” imbuhnya.

Tiga dekade berselang, kejadian serupa berulang. Di Stadion Citarum, Semarang, Fadly Alberto Hengga, pemain Bhayangkara FC dan Timnas Indonesia U-17, menendang punggung Raka Nurkholis, pemain Dewa United, dengan "jurus" serupa.

Pelatih Timnas U-20 Nova Arianto langsung mencoret nama Fadly dari skuad Piala AFF U-19. PSSI, melalui Erick Thohir dan Yunus Nusi, mengutuk keras tindakan itu dan mendorong tindak lanjut berupa investigasi disiplin. Fadly kemudian meminta maaf, menyebut tindakannya bodoh.

Dalam pemberitaan, kedua peristiwa itu sama-sama menggunakan istilah "tendangan kungfu". Padahal, kungfu merupakan seni bela diri yang berakar pada disiplin dan pengendalian diri. Saat istilah itu dipakai untuk menyebut aksi brutal di lapangan, makna filosofisnya terhapus.

tendangan kungfu Fadly Alberto

Aksi brutal “tendangan kungfu” Fadly Alberto di ajang Elite Pro Academy U-20 . FOTO/: Instagram @smgfootball

Jejak Genealogi Tendangan Kungfu

Label "tendangan kungfu" yang melekat pada budaya populer bermula ketika media Barat meminjam imajinasi visual dari film aksi Hong Kong era 1970-an.

Sebelumnya, publik akrab dengan perkelahian jalanan yang kaku atau teknik tinju tradisional. Lalu, kemunculan Bruce Lee lewat film-film aksi, seperti The Big Boss (1971) dan Enter the Dragon (1973), mengubah itu semua. Ia memperkenalkan koreografi pertarungan yang lincah dan teatrikal.

Bruce Lee juga meruntuhkan stereotipe Barat tentang pria Asia. Karakternya yang kerap melawan ketidakadilan membuat kungfu berubah menjadi simbol pemberdayaan dan perlawanan.

Demam kungfu mulai menyebar ke Amerika saat David Carradine memerankan Kwai Chang Caine di serial TV Kung Fu (1972-1975). Sejak itu, generasi aktor berikutnya berhasil memperkenalkan kungfu lewat berbagai film lain, seperti Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), Shaolin Soccer (2001), dan Kung Fu Hustle (2004).

Menurut Paul Foster, dalam artikelnya berjudul “The Geopolitics of Kung Fu Film”, hal itu mendorong penonton global mengenal estetika bela diri Cina, mulai dari qinggong/neigong, gaya bertarung sinematis, hingga elemen qi, dalam adegan, yang kemudian ikut memengaruhi sinema aksi di Hollywood.

Publik tiba-tiba punya referensi baru. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang biomekanika (ilmu yang mempelajari pergerakan manusia, otot, tulang, dan sendi), tendangan kungfu memiliki sistem gerak kompleks.

Kungfu—dalam bentuk modernnya disebut wushu—menekankan aliran dan kelenturan. Analisis kinematika Chung-Yu Chen dan kolega (1998) menunjukkan, tendangan melingkar kungfu memiliki pusat massa yang dinamis. Gerakan tersebut memanfaatkan ayunan lutut, momentum rotasi, dan lengan asimetris untuk menyeimbangkan tubuh di udara. Hasilnya adalah gerakan yang anggun sekaligus mematikan.

Wartawan olahraga pun mengadopsi istilah "tendangan kungfu" dan mengidentikkannya dengan kekerasan, terutama setelah insiden Eric Cantona pada 1995. Setiap tekel tinggi, dua kaki, atau tendangan brutal langsung dilabeli "tendangan kungfu".

Bahasa akhirnya dibentuk oleh citra hiburan. Kungfu, yang berakar pada disiplin serta kendali diri, direduksi menjadi label generik untuk aksi brutal di lapangan.

Membedah Filosofi Kungfu

Kungfu bertahan ribuan tahun karena fondasi etika yang disebut Wu De, kebajikan bela diri. Seturut kajian yang terbit di Springer Nature (2025), Wu De menuntut penguasaan teknik sekaligus pengendalian ego, dengan nilai kasih sayang, kerendahan hati, dan disiplin emosi. Tujuan akhirnya adalah membentuk karakter. Filosofi ini menyerap konsep Daoisme, seperti Wu Wei dan strategi Sunzi, yang menekankan bahwa kemenangan sejati adalah bertahan hidup dan menghindari pertempuran. Kekerasan justru merupakan pilihan terakhir.

Secara umum, kungfu sering dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu aliran utara dan selatan. Aliran utara dikenal dengan gerakan yang luas, dinamis, dan kaya tendangan tinggi. Gaya Changquan, misalnya, menampilkan keluwesan dan jangkauan gerak yang lebar, sementara Baguazhang mengandalkan pola langkah melingkar yang unik.

Sebaliknya, aliran selatan cenderung lebih membumi, dengan kuda-kuda kuat dan dominasi teknik tangan jarak dekat. Di sini, gaya Wing Chun dan Hung Gar menonjol karena efisiensi gerakan dan fokus pada pertarungan praktis.

Ilustrasi Kungfu

Ilustrasi Kungfu. foto/istockphoto

Selain pembagian geografis, kungfu juga kerap diklasifikasikan menjadi internal dan eksternal. Aliran internal, seperti Tai Chi, menekankan kontrol napas, keseimbangan, dan pengelolaan energi tubuh. Sementara itu, aliran eksternal, misalnya Shaolin Kung Fu, lebih menitikberatkan pada kekuatan fisik, kecepatan, dan ketahanan tubuh.

Meski terlihat berbeda, keduanya pada dasarnya saling melengkapi.

Kungfu dalam Silang Budaya Populer

Kungfu menjelma, dari seni pertarungan yang lahir di biara-biara Cina, menjadi fenomena budaya global abad ke-20.

Akar penyebarannya bermula dari diaspora pasca-Perang Saudara Cina (1927-1949). Ketika itu, banyak master bela diri melarikan diri dari represi ideologis, lalu membawa warisan leluhurnya ke Hong Kong, Taiwan, Amerika, dan Eropa. Demi bertahan hidup, mereka mulai membuka perguruan secara terbuka.

Seturut studi The International Journal of the History of Sport (2018), di Taiwan masa itu, pemerintah mulai mempromosikan bela diri secara global, menetapkan aturan standar untuk kompetisi nasional, serta melatih instruktur dan atlet untuk berpartisipasi dalam kompetisi wushu (kungfu modern) internasional.

Popularitas kungfu kian tak terbendung lewat layar perak aktor Bruce Lee pada dekade 1970-an. Menariknya, perguruan tradisional tetap menjamur dan menjaga kemurnian silsilah. Pusat-pusat kuno seperti Pergunungan Wudang kembali bangkit pasca-Revolusi Kebudayaan pada 1966-1976.

Wilayah lain di Desa Chenjiagou mempertahankan Taijiquan sejak era Ming, sementara Hung Fut berkembang di Amerika lewat Grandmaster Tai Loi Yim.

Kungfu juga menemukan ekspresi baru dalam subkultur hip-hop Amerika. Klan Wu-Tang, pada 1993, mengadopsi filosofi Shaolin untuk menghadapi kerasnya hidup di New York. Mereka menamai distrik tempat tinggalnya, Staten Island (wilayah kumuh dan rawan segregasi rasial), sebagai Shaolin. Mereka menyandingkan perjuangan biksu dengan realitas kemiskinan dan rasisme.

Di Indonesia, jejak kungfu juga berakulturasi menjadi aliran silat lokal, salah satunya adalah Silat Beksi yang memiliki pengaruh kuat dari dialek dan teknik kungfu Hokkien.

Dari situ, kungfu terbukti sebagai bahasa universal. Ia lahir dari kebutuhan bertahan hidup, ditempa oleh kontemplasi spiritual, lalu bermetamorfosis menjadi seni yang mengajarkan cara paling efisien untuk melumpuhkan, sekaligus mengajar bahwa kekerasan harus dihindari.

Karenanya, ironis ketika jurnalisme modern mereduksi warisan tersebut menjadi label "tendangan kungfu" untuk aksi brutal sesaat di lapangan hijau. Kungfu sejatinya mengajarkan manusia menaklukkan diri sendiri sebelum menaklukkan orang lain.

Baca juga artikel terkait SEPAK BOLA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin