tirto.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mendorong pengurangan emisi tidak hanya dari operasional internal, tetapi juga melalui rantai pasok atau supply chain. Perusahaan menilai kerja sama dengan pemasok energi menjadi bagian penting dalam mendukung target dekarbonisasi hingga mencapai net zero emission pada 2060.
AVP Sustainability Strategy & Program Telkom Indonesia Liza Mahavianti Syamsuri mengatakan pemasok energi seperti PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) menjadi salah satu kelompok vendor yang berkaitan erat dengan operasional Telkom.
"Vendor-vendor penyedia energi seperti misalnya PLN, Pertamina, seperti itu adalah vendor-vendor yang sama ini mendukung operasional kami," kata Liza dalam LeadsTalk #19 bertajuk Peran Supply Chain Management dalam Mendorong Strategi Dekarbonisasi.
Menurut Liza, kebutuhan energi Telkom tergolong besar karena perusahaan telekomunikasi harus menjaga operasional jaringan selama 24 jam sehari sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat konsumsi listrik menjadi salah satu faktor penting dalam upaya perusahaan menekan emisi.
"Kita kan beroperasi 24/7. Nah, ini energinya sangat besar. Kita rely banget dengan PLN," ujarnya.
Karena itu, Telkom perlu membangun hubungan yang erat dengan pemasok energi untuk mendukung agenda dekarbonisasi. Menurut Liza, PLN sebagai pemasok utama listrik juga memiliki program sendiri untuk menuju pengurangan emisi.
"Bagi kita yang hubungan yang sangat erat dengan PLN agar mereka juga mendukung, karena mereka juga pasti punya program sendiri menuju ke sana," kata dia.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Telkom dalam mengelola emisi di sepanjang rantai pasok. Namun, perusahaan membedakan pendekatan terhadap setiap kelompok vendor berdasarkan karakteristik dan tingkat kesiapan mereka dalam menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Selain pemasok energi, Telkom mengelompokkan supply chain ke dalam beberapa domain, mulai dari transaksi intra-grup, vendor teknologi, hingga kontraktor dan penyedia jasa pendukung.
Untuk vendor teknologi berskala besar, misalnya, Telkom telah memasukkan aspek ESG dalam proses pengadaan. Vendor yang mengikuti proses bidding akan dinilai berdasarkan kinerja ESG sebagai salah satu komponen penilaian.
Sementara untuk vendor yang lebih kecil dan belum memiliki kapasitas yang memadai dalam menerapkan ESG, Telkom memilih pendekatan bertahap melalui pengenalan dan peningkatan kesadaran mengenai praktik keberlanjutan.
Liza mengatakan penguatan rantai pasok tersebut nantinya semakin penting ketika Telkom mulai memperluas perhatian pada emisi Scope 3. Saat ini, perusahaan masih memprioritaskan penguatan penghitungan dan mitigasi emisi Scope 1 dan Scope 2.
"Scope 3 ini akan kami perkuat setelah kami yakin bahwa di emisi Scope 1 dan 2 kita sudah berusaha memitigasinya," ujarnya.
Sebagai informasi, dalam climate transition plan, Telkom menargetkan penurunan emisi sekitar 20 persen hingga 2030. Pada periode 2030-2040, perusahaan akan mulai lebih fokus pada Scope 3, sebelum mengejar target net zero pada 2060.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































