tirto.id - Sejak pagi, orang-orang sudah berkumpul di Joglo Sekolah Air Hujan, Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hari itu, 9 September 2026, mereka nampak repot menyiapkan prosesi adat Kenduri Banyu Udan.
Ritual tahunan ini digelar untuk yang kesebelas kalinya, sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun ke VII dari Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Para anak muda berdandan dan memasang pernak-pernik kelengkapan kostumnya.
Tanah di dusun Tempursari masih agak basah, sebab pagi harinya sempat diguyur hujan. Pagi itu masih nampak mendung, sekitar pukul 08.30 WIB doa-doa kenduri mulai dilantunkan dan menggema dari pengeras suara. Sementara di jalan depan pendopo, puluhan "prajurit lombok abang" yang berbaju merah sudah berbaris untuk arak-arakan. Mereka membawa dua gunungan yang ditandu bambu. Di depan ada gunungan hasil bumi, di belakangnya gunungan buntelan air hujan.
Gunungan itu diarak mengelilingi kawasan sekitar pendopo, lengkap dengan ubo rampe dan kendi berisi air hujan yang dibawa menuju panggung utama.
Menurut Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, prosesi yang disebut Kirab Bergodo ini merupakan wujud rasa syukur dan pemuliaan atas berkah air hujan bagi kehidupan manusia.
Rangkaian Kenduri Banyu Udan ini menjadi aksi nyata kepedulian komunitas dalam membangun kembali hubungan harmonis manusia dengan semesta serta mengedukasi publik mengenai pengelolaan air hujan demi mengatasi krisis air bersih. Selaras dengan tema yang diusung hari itu, yakni “Ngrumat Banyu Udan Ngrumat Panguripan” atau Merawat Air Hujan, Merawat Kehidupan.
Gunungan Air Hujan dan Hasil Bumi sebagai Makna Keberlimpahan
Gunungan pertama berisi buah-buahan hasil bumi, gunungan kedua berupa air hujan yang dikaitkan dengan kesuburan tanah di sekitar Tempursari.
Rombongan pengarak gunungan itu datang dari Paguyuban Bergodo Manggolo Yudho Candi III, warga Sardonoharjo yang setiap tahun dipercaya melangsungkan kirab dalam rangkaian Kenduri Banyu Udan.
Agus Purwanto, Ketua Paguyuban Bergodo Manggolo Yudho, mengatakan, kirab tahunan ini telah menjadi ikon warga dan wadah partisipasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh desa, ibu-ibu, hingga generasi muda, agar makna kebermanfaatan air hujan yang digalakkan Komunitas Banyu Bening terus lestari. Ia sebagai bagian dari warga pun mendukung agenda kenduri tersebut.
Setiap pasukan yang irit-iritan berseragam merah atau disebut “prajurit lombok abang” memangku peran tersendiri. Gunungan adalah salah satu dari dua gunungan yang diarak dalam Kenduri Banyu Udan, berisi buah-buahan hasil bumi, yang dikaitkan langsung dengan berkah air hujan.
Hasil bumi berupa sesayuran dan buah-buahan itu dimaknai sebagai bukti nyata bahwa air hujan menyuburkan tanah di sekitar Tempursari. Gunungan ini jadi representasi hubungan sebab-akibat, berawal dari ada air hujan, kesuburan, hingga hasil bumi melimpah.
“Gunungan yang berupa buah-buahan hasil bumi, juga air hujan ini kan ada kaitanya dengan kesuburan tanah di daerah sini. Karena dengan adanya air hujan, kita berusaha menyimpan dan memelihara kelestarian sumber air untuk penghidupan masyarakat sekitar,” kata Mugiono, anggota kirab Bergodo Manggolo Yudho saat ditanya mengenai makna prosesi kirab.
![[HEADER] Dua gunungan yang diarak dalam Kirab Kenduri Banyu Udan.. tirto.id/Abdul Aziz Kenduri Banyu Udan](http://mmc.tirto.id/image/2026/09/10/header-dua-gunungan-yang-diarak-dalam-kirab-kenduri-banyu-udan._15663_ratio-16x9.jpg)
Dalam kirab, gunungan hasil bumi diarak berdampingan dengan gunungan kedua berupa "buntelan" air hujan. Keduanya sengaja ditampilkan sebagai satu kesatuan, yang menyimbolkan bahwa hasil bumi tidak bisa dilepaskan dari sumber air.
“Air hujan ini ada kaitannya dengan kesuburan tanah di daerah sini. Dengan adanya air hujan, kita berusaha menyimpan dan memelihara kelestarian sumber air untuk penghidupan masyarakat,” katanya.
Beriringan dengan para prajurit perempuan yang membawa besek bunga yang ditabur mengiringi kirab. Penaburan bunga ini dimaknai sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta, selaras dengan wujud terima kasih komunitas dan warga atas nikmat yang mereka terima dari alam sepanjang tahun.
Tarian Riris Mangenjali, Simbol Memuliakan Hujan
Sesudah kirab, sekumpulan anak muda lengkap dengan pakaian adat bersiap. Mereka hendak membawakan Pagelaran Tari “Riris Mangenjali”. Satu, dua, tiga, kemudian empat penari naik ke panggung, membawa kendi kecil. Mereka berjinjit dan berlenggok, dengan gerakan tangan menengadah dan mengelilingi satu kendi besar di tengah. Kendi-kendi yang dibawa penari dituangkan di pojok dusun sebagai pengingat bahwa air merupakan hak seluruh makhluk hidup.
“Di dalam prosesi Riris Mangenjali ada rangkaian doa agar air ini mampu mendinginkan keadaan. Semoga krisis air, perubahan iklim, hingga berbagai bencana alam yang melanda dapat segera mereda dan membuat keadaan menjadi tentram dan damai,” tutur Bu Ning pada Tirto, Rabu (9/9/2026).
Tari “Riris Mangenjali” dibawakan oleh anak-anak Sanggar Banyu Bening dan digarap langsung oleh para pengajar sanggar. Menurut Bu Ning, prosesi tersebut adalah simbol introspeksi diri manusia.
Tarian ini memuat makna memuliakan hujan, kata “riris” berarti hujan, sementara “mangenjali” berarti memuliakan. Tembang yang melantun mengiringi tarian pun berisi ungkapan berbahasa Jawa tentang rasa syukur atas berkat air hujan dari Tuhan sekaligus pemanjatan doa agar krisis air, perubahan iklim, dan bencana alam yang tengah melanda tanah air dapat segera mereda.
Doa juga dikhususkan untuk bencana erupsi gunung berapi dan Karhutla yang tengah melanda Kalimantan dan beberapa daerah di Indonesia. Prosesi ini juga melambangkan transfer knowledge, dengan penyerahan tongkat estafet pengetahuan dan regenerasi kepedulian lingkungan kepada generasi muda.
“Hari ini manusia hanya tahu mengambil tanpa pernah mengembalikan, sehingga makhluk lain teraniaya. Penuangan di pojok dusun adalah simbol bahwa kita tidak boleh menguasai air secara sepihak,” kata Bu Ning.

Dari Kenduri hingga Gerakan Edukasi
Komunitas Banyu Bening berdiri sejak 2012 dan setiap tahun mereka melangsungkan kenduri banyu udan yang melibatkan warga sekitar. Melalui gerakan tari dan tembang Jawa, Sekolah Air Hujan Banyu Bening berusaha menyentuh kesadaran publik. Bu Ning menyadari bahwa mengubah cara pandang masyarakat terhadap air tanah menuju air hujan membutuhkan bahasa budaya yang mengakar.
“Karena kita mengubah mindset masyarakat dari air tanah untuk menjadi air hujan itu butuh waktu yang panjang, ternyata itu butuh bahasa yang pas juga. Nah dari situlah kemudian kayaknya kita perlu ada satu wadah yang orang itu kemudian tertarik,” kata Bu Ning.
Pada 2019, komunitas ini meresmikan Sekolah Air Hujan sebagai wadah menyampaikan pesan-pesan tentang kemandirian air melalui pengelolaan air hujan yang bertanggungjawab kepada masyarakat luas, lengkap dengan kelas reguler tiap Sabtu secara daring maupun luring. Mereka juga mulai aktif mempublikasikan kegiatan lewat media sosial untuk menjangkau audiens lebih luas. Dari sana, komunitas ini berkembang dan mendapat atensi dari berbagai pihak.
Awalnya kelas non-reguler bagi pengunjung dijadwalkan lebih dulu untuk memfasilitasi tamu-tamu yang datang. Kemudian kelas mulai dijadwalkan hingga diadakan rutin ruang diskusi lintas sudut pandang bernama “Ngopi Banyu Udan”, singkatan dari Ngobrol Perkara Ilmu Banyu Udan. Sanggar tari dan budaya yang melahirkan Riris Mangenjali sendiri baru berjalan tujuh tahun, tumbuh berbarengan dengan penguatan sekolah ini.

Bu Ning adalah lulusan IAIN Sunan Kalijaga, dengan gelar sarjana dari Fakultas Syariah. Ia sendiri menyebut kuliah di jurusan itu awalnya karena permintaan orang tua, bukan pilihan hatinya sendiri.
Setelah menuntaskan studi sesuai keinginan orang tua, ia mengaku baru benar-benar mengikuti dorongan hatinya masuk ke bidang pemberdayaan masyarakat.
Inisiasi Komunitas Banyu Bening pun bermula dari bagaimana ia melihat urgensi kebutuhan air buat manusia dan semua makhluk. Kemudian digerakkan oleh kesadaran bahwa manusia semestinya berperan dalam menjaga keseimbangan alam, termasuk air hujan.
Bu Ning mengaku prihatin dengan berbagai persoalan lingkungan yang sebetulnya berakar dari bagaimana manusia memandang dan memperlakukan air. Menurutnya, kekeringan bukan sebagai bencana alam murni, melainkan akibat kegagalan cara berpikir manusia dalam mengelola air, dan solusinya ada di air hujan yang selama ini justru diabaikan.
Katanya, problem utama masyarakat adalah tak acuh bahwa kondisi air sudah parah, dan tidak tahu solusinya, karena minim edukasi. Ia menyayangkan bagaimana masyarakat terbiasa mengambil air tanah tanpa pernah mengembalikannya, padahal air yang diminum hari ini bisa jadi tampungan berusia ribuan tahun. Ketimpangan antara mengambil dan mengembalikan inilah yang mempercepat degradasi air tanah dan memperluas kerentanan kekeringan.
“Dari dulu air hujan itu ada, tapi masyarakat kita yang gagal dalam berpikir. Jadi hari ini bukan bencana alam, tapi bencana pikir manusia,” kata dia.
Merawat Hujan untuk Swasembada Air
Alih-alih terus bergantung pada air tanah yang makin terkuras, Bu Ning mendorong pemanfaatan air hujan, sumber yang menurutnya gratis, melimpah, dan bisa diakses siapa saja, walau selama ini dianggap negatif, seperti dikaitkan dengan penyakit hingga bencana banjir.
Berangkat dari pemahaman ini, Komunitas Banyu Bening terus bergerak untuk membangun kesadaran kolektif tentang swasembada air. Bu Ning mengaku bahwa penyampaian tentang pemanfaatan air hujan memerlukan strategi yang menyentuh semua masyarakat, keterbukaan akses pengetahuan, sekaligus praktik baik yang bisa diteladani.
Salah satu upaya untuk membumikan pengetahuan tersebut adalah lewat Kenduri Banyu Udan. Kenduri ini dipandang bukan sekadar seremoni tahunan, tapi sebagai strategi budaya untuk menyampaikan pesan konservasi air lewat bahasa yang bisa diterima berbagai lapisan masyarakat, serta ruang refleksi dan regenerasi. Bagi Bu Ning, wacana ilmiah saja tidak cukup, maka perlu bahasa yang pas agar sampai ke masyarakat luas.
“Sebetulnya kami diawali otodidak, kemudian belajar ke banyak pihak,” kata Bu Ning tentang perjalanan awal komunitasnya mempelajari pengelolaan air hujan. "Harapannya, kita bisa membahasakan itu ke dalam bahasa masyarakat, karena elemen masyarakat ini kan beragam sekali.”
Dari proses itu lahir teknologi yang mereka sebut ISLAH, kependekan dari Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan, yakni sistem menampung air hujan agar bisa dimanfaatkan sepanjang tahun, bukan cuma selama musim hujan berlangsung.

Komunitas Banyu Bening juga memperkenalkan konsep “5M”, yakni menampung, memanfaatkan, meminum, mengembalikan ke dalam tanah, dan mandiri.
“Kalau kita tidak mengembalikan, kita berdosa besar, karena hari ini yang kita minum adalah tampungan leluhur kita. Kita juga harus mengembalikan tampungan ini untuk generasi setelah kita,” ujarnya.
Bagi Bu Ning, swasembada air adalah syarat yang sering dilupakan sebelum bicara swasembada pangan.
“Bagaimana swasembada pangan bisa terjadi kalau kita tidak swasembada air?” katanya, merujuk pada konsep yang di komunitasnya kerap disebut Hamemayu Hayuning Bawono, menjaga keselamatan dan keseimbangan semesta.
“Dan salah satu potensi yang luar biasa di Indonesia swasembada air ini dengan memanfaatkan dan mengelola air hujan,” imbuhnya.
Sekolah ini pun mengembangkan proses elektrolisa air hujan menjadi air beroksigen untuk perawatan kulit dan luka, serta air berhidrogen untuk konsumsi, sebagai cara membahasakan manfaat air hujan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Jadi H2O ini di pecah menjadi air yang bermuatan hidrogen untuk diminum, dan kemudian air oksigen yang bermuatan oksigen yang kita kenal dengan air asam ini untuk peruntukan lain termasuk perawatan kulit,” jelasnya.
Selama 15 tahun bergerak, praktik baik Banyu Bening sudah ditiru di sejumlah daerah, dari Merauke, beberapa kota di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra, hingga Jawa Timur dan Jawa Barat. Advokasi kebijakan pun terus didorong, merujuk pada Undang-Undang Sumber Daya Air. Kota Palu bahkan sudah punya Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air serta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Di Yogyakarta sendiri, regulasi serupa belum ada.
“Kami 15 tahun bergerak, saya rasa perubahannya memang belum sesignifikan yang kami bayangkan, tapi kami tidak akan pernah lelah,” ujar Bu Ning. “Air itu hak paling mendasar. Ini komitmen kami dan harus terus kami perjuangkan.”

Sejauh ini, menurutnya, respons masyarakat cukup baik. Meski memerlukan berbagai macam cara untuk akhirnya bisa diterima, komunitas ini akan terus menggalakkan konservasi air hujan lewat kegiatan-kegiatan edukatif. Mereka pun membuka akses bagi warga untuk turut memanfaatkan tampungan air hujan secara gratis.
“Tidak seperti membalik tangan, tapi kita akan pernah berhenti. Karena tantangan kita adalah soal merubah mindset,” katanya.
Usai tarian “Riris Mangenjali”, Bu Ning memberi sambutan.
“Air hujan adalah air kehidupan. Maka jagalah kehidupan ini dengan cara memanfaatkan dan mengelola air hujan secara tepat," ujarnya di hadapan warga dan tamu yang hadir.
Ia mengajak semua pihak, bukan hanya komunitasnya, untuk sama-sama merumat air hujan sebagai bagian dari mitigasi bencana ke depan. “Kita menjadi bagian yang memayu hayuning bawana.”
Sementara itu, para penari kirab dan warga yang hadir kemudian bersiap berduyun-duyun mengikuti arah gunungan dibawa. Setelah kirab selesai, mereka mulai berebut gunungan sayur dan buah-buahan hasil bumi yang diarak. Setiap orang membawa pulang seikat kangkung, cabai, terong, tomat dan beraneka hasil bumi.
Seluruh rangkaian acara ditutup secara interaktif melalui aksi Flashmob Air Hujan yang diikuti oleh anggota komunitas dan warga yang hadir, sebelum semua orang kembali membaur di pelataran Joglo, menyeruput wedang seger, hasil racikan minuman dari air hujan.
Penulis: Dina T Wijaya
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id

































