tirto.id - Rangkaian diskusi pada hari kedua peringatan ulang tahun ke-10 Tirto.id bertajuk “Mozaik Tenthacle” yang digelar di Kopikina Kemang, Jakarta, Sabtu (8/8/2026), menghadirkan beragam topik hangat. Mulai dari pengelolaan keuangan pascapandemi, pemaknaan mindful living, hingga pemanfaatan air hujan sebagai solusi peradaban dibahas secara mendalam bersama para praktisi dan ahli.
Sesi diskusi finansial membuka ruang dengan mengulas fenomena mindful spending yang populer setelah maraknya revenge spending pascapandemi COVID-19. Perencana keuangan dan edukator, Kayleen, menilai bahwa lonjakan belanja pascapandemi terjadi akibat keinginan konsumsi yang sempat tertahan dan dorongan validasi sosial.
“Waktu pandemi kita itu memiliki sebuah keinginan tapi tertahan. Karena itu tertahan, kita nggak bisa spending, dan juga adanya keinginan untuk divalidasi secara sosial terutama dengan adanya media sosial,” jelas Kayleen.
Meski begitu, Kayleen menekankan bahwa pengeluaran tidak selalu berdampak negatif selama selaras dengan prinsip hidup. “Spending itu selama itu memang selaras dengan nilai dan tujuan hidup kita, itu nggak masalah kalau memang itu value-based,” tuturnya.
Untuk itu, ia menyarankan skema pengelolaan keuangan 50:30:20 (kebutuhan, keinginan, tabungan/investasi), atau setidaknya menyisihkan 10 persen pendapatan.
“Kalau nggak bisa 10 persen nggak apa-apa. Itu untuk investasi, baru sisanya kita bagi mau dibuat kebutuhan, kemudian keinginan,” tambahnya.
Konsultan keuangan Fajar Widi menambahkan bahwa mindful spending berfokus pada kesadaran penuh saat menyaring keputusan finansial. “Mindful itu kan sebenarnya berkesadaran. Jadi kita sadar secara penuh untuk melakukan screening terhadap sesuatu yang kita tuju secara finansial,” katanya.
Fajar menggarisbawahi bahwa kunci utama terletak pada kedisiplinan. “Selama kita ada framework anggaran itu sebetulnya itu terjawab. Kalau yang nggak terjawab itu adalah ketika kita mungkin framework-nya ada, cuma kitanya tidak berdisiplin, sama aja nanti,” tegasnya.
Berpindah ke sesi “Mindful Living, Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Tergesa-gesa”, diskusi meluruskan anggapan bahwa mindful living identik dengan memperlambat ritme hidup (slow living). Penulis sekaligus pendiri festival literasi Patjar Merah, Windy Ariestanty, berbagi pengalamannya yang tetap beraktivitas dengan tempo cepat.
“Slow living itu apa? Hidup pelan itu apa? Kalau aku jawab hidup pelan itu sangat berarti buat aku, aku tuh kesannya bohong sekali teman-teman,” kata Windy.
Bagi Windy, inti mindful living adalah kehadiran penuh pada setiap tindakan. “Oh kamu nggak apa-apa bergerak cepat asal satu, kamu hadir penuh dan sadar utuh,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena masyarakat yang sering abai akan hal ini: “Itu yang kadang-kadang kita tidak lakukan, kita bergerak lambat tapi kita nggak pernah hadir di sebuah tempat dengan kesadaran penuh.”
Musisi Lintang Larasati menyepakati hal tersebut dengan menekankan pentingnya niat di balik setiap pilihan hidup. “Hidup lebih pelan itu buat aku adalah mempunyai niat dalam melakukan apa pun yang kamu lakukan,” kata Lintang. “The most important question is always about why,” tambahnya.
Diskusi ini juga menyentuh keresahan sosial-politik warga negara. Windy mengungkapkan refleksi pribadinya di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.
“Setiap hari saya bertanya kenapa saya masih bertahan jadi warga negara Indonesia,” ungkapnya. Namun, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga harapan bersama.
“Menjadi mindful di sini berarti menyadari bahwa saya bukan satu-satunya orang yang sedang cemas. Ibu cemas, saya cemas, saya nggak tahu Indonesia besok seperti apa,” ujar Windy. Ia melanjutkan, “Hal yang paling bisa kita lakukan saat ini adalah satu, menyadari apa yang bisa saya lakukan supaya kondisi ini berubah berarti saya harus punya kontribusi untuk membuat orang lain merasa masih ada harapan.”
Sesi diskusi lainnya mendobrak stigma negatif masyarakat terhadap air hujan. Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih (Ning), menegaskan bahwa anggapan air hujan kotor dan asam adalah persepsi keliru yang menutup potensi akses air bersih gratis.
“Kalau kita ngomong normatif, ternyata di masyarakat itu mindset-nya sudah tersistem, terstruktur. 'Ih, air hujan kotor, air hujan tuh asam,' hampir semuanya begitu,” kata Ning. “Kenapa air hujan itu asam? Kenapa kok air hujan itu kotor? Kita bisa belajar bersama.”
Ning menjelaskan bahwa penguapan alami membawa unsur air murni ke atmosfer, sehingga air hujan pada dasarnya bersih sebelum menyentuh tanah atau atap.
“Coba kalau air tanah, sudah sampai ke tanah itu sesuai amal perbuatan kita masing-masing dalam menjaga lingkungan,” kelakarnya.
Untuk mengoptimalkan potensi ini, Banyu Bening mengedukasi konsep “5M” (menampung, mengolah, meminum, menabung, memandirikan) serta mengenalkan teknologi Isolah (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) dan elektrolisa air.
Gerakan ini didasari keresahan Ning atas eksploitasi air tanah dan ketergantungan pada air berbayar.
“Kalau masyarakat kita hanya tahu mengambil air tanpa mengembalikan, apa sih yang akan terjadi sepuluh, lima belas tahun ke depan?” ujarnya. “Kenapa kita nggak berpikir memanfaatkan air yang melimpah ini, yang jelas terlihat dari langit? Dan yang paling penting gratis, daripada air PAM yang kita bayar.”
Mengakhiri alasannya, Ning menegaskan, “Kita harus sadar bicara air bukan hanya bicara tentang sumber daya, tapi bicara air adalah bicara soal peradaban. Air ini hak publik, tidak hanya untuk generasi saat ini, tapi untuk peradaban ke depan.”
Rangkaian diskusi edukatif ini merupakan bagian dari gelaran hari kedua perayaan ulang tahun ke-10 Tirto.id bertajuk "Mozaik Tenthacle" yang berlangsung pada 7-8 Agustus 2026.
Kesuksesan seluruh rangkaian acara ini terselenggara berkat dukungan para sponsor, yaitu PLN, GOTO, Danone, BCA, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jaringan Prima, Bank Jakarta, Telkom Indonesia, Pertamina Gas Negara, MDKA, Bank Mandiri, Taspen, Finnet, serta didukung oleh Paragon Corp dan Kopikina.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































