tirto.id - Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai masih memiliki ruang penguatan dalam jangka panjang seiring prospek bisnis dan transformasi perseroan. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, saham Telkom telah naik sekitar 38,83 persen. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan tren pergerakan saham Telkom masih menunjukkan penguatan.
"Kalau kita lihat secara pergerakan harga, ini selalu membentuk pola higher high, di mana harga tertingginya selalu tertembus dan membentuk kenaikan kembali," kata Reza dalam InvesTalk Series TLKM-Transformasi Strategis TLKM: Spin-Off, Infra Digital & Arah Pertumbuhan 2026, Kamis (22/1/2026).
Dari sisi aliran dana, investor asing turut menopang pergerakan saham Telkom. Reza mencatat net inflow investor asing mencapai Rp581,6 miliar dalam sebulan di pasar reguler. Akumulasi asing juga terjadi sepanjang 2025 di mana investor asing secara konsisten meningkatkan kepemilikan saham Telkom. "Di grafik dari Januari 2025 sampai Desember 2025, investor asing sangat masif untuk entry ataupun mengakumulasi saham Telkom," kata Reza.
Selain potensi kenaikan harga, daya tarik Telkom bagi investor jangka panjang juga ditopang oleh kebijakan dividennya. Reza menilai perseroan memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten dalam lima tahun terakhir, dengan pay out ratio yang cukup tinggi dibandigkan rata-rata sektoralnya.
"Telkom ini adalah salah satu saham yang konsisten untuk memberikan dividen setiap tahunnya. Dan untuk jadwalnya ini juga rutin di sekitar Mei sampai Juni di mana memang itu salah satu aspek yang menarik," tuturnya.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga saham Telkom di level Rp4.000. Sementara itu, konsensus 23 analis menempatkan target rata-rata di Rp3.892, dengan 18 analis memberikan rekomendasi beli dan lima lainnya menahan.
"Jadi memang secara overall eh analis itu merekomendasikan untuk buy, ya, dengan target average-nya itu di angka 3.892. Jadi memang masih ada potensial upside itu sekitar 3 sampai 5 persen," kata Reza.
Untuk jangka menengah, Reza memperkirakan level resistensi saham Telkom berada di Rp4.170 dan Rp4.800. Menurut dia, investor dapat mempertimbangkan akumulasi ketika harga mengalami pullback ke kisaran Rp3.400-Rp3.500.
"Kalau berkaca dari historical price, target resistance terdekat ada di 4.170 dan 4.800 sebagai high sebelumnya. Jadi, bisa entry ketika pullback di 3.400-3.500, dengan potensi upside sekitar 15-20 persen," ujarnya.
Ruang pertumbuhan tersebut juga berkaitan dengan transformasi bisnis yang tengah dijalankan Telkom. Investor Relations Telkom Izzuddin Al Azzam mengatakan perseroan sedang mengubah model bisnis dari operator telekomunikasi tradisional menjadi strategic holding.
"Kami sedang bertransisi dari operator telekomunikasi tradisional menuju strategic holding atau entitas induk," kata Izzuddin.
Sebagai bagian dari transformasi, Telkom akan menyederhanakan struktur anak usaha dari lebih dari 60 perusahaan menjadi sekitar 20 perusahaan. Penyederhanaan dilakukan melalui penggabungan bisnis sejenis, pelepasan aset noninti, dan penyesuaian anak usaha dengan pilar bisnis utama.
"Telkom itu sekarang memiliki lebih dari 60 anak usaha di berbagai sektor. Targetnya nanti dari 60 itu ke 20-an anak usaha," ujarnya.
Transformasi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan aset dan infrastruktur yang telah dibangun Telkom selama bertahun-tahun. Salah satu aset yang menjadi fokus adalah jaringan fiber.
Telkom mengelola lebih dari 179.000 kilometer jaringan fiber optic backbone yang mencakup lebih dari 500 kota dan kabupaten di Indonesia serta terhubung dengan jaringan internasional.
Pengelolaan jaringan tersebut akan diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga memperluas pemanfaatannya kepada pihak ketiga.
"Objektifnya adalah meningkatkan penetrasi, yang sebelumnya hanya dipakai di internal level, sekarang bisa dipakai di third party level," kata Izzuddin.
Selain bisnis fiber, Telkom juga membuka peluang kerja sama dengan strategic partner untuk mengembangkan bisnis data center. Menurut Izzuddin, kemitraan tersebut dapat memperluas akses pasar sekaligus membuat kebutuhan belanja modal untuk ekspansi lebih efisien.
"Telkom membuka opsi untuk strategic partnership untuk bisnis data center ini," ujarnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































