Menuju konten utama

Telkom Pangkas Anak Usaha Jadi 20-an, Bidik Unlocking Value

Telkom akan memangkas lebih dari 60 anak usaha menjadi sekitar 20 entitas untuk menyederhanakan bisnis, fokus pada bisnis utama, dan membuka nilai aset.

Telkom Pangkas Anak Usaha Jadi 20-an, Bidik Unlocking Value
Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini menyampaikan paparan saat pembukaan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (26/8/2026).PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui gelaran BATIC 2026 mempertegas arah transformasi perusahaan ke depan melalui TLKM30 yang memungkinkan Telkom untuk mengeksplorasi potensi digital di masa depan melalui penguatan operational excellence, penyederhanaan portofolio, optimalisasi aset strategis, serta pergeseran menuju strategic holding guna menciptakan nilai yang lebih tinggi bagi perusahaan dan pemegang saham. ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Telkom berencana memangkas jumlah anak dari lebih dari 60 perusahaan menjadi sekitar 20 perusahaan. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi Telkom dari operator telekomunikasi tradisional menuju strategic holding.

Investor Relations Telkom Izzuddin Al Azzam mengatakan penyederhanaan struktur anak usaha dilakukan dengan menggabungkan bisnis yang sejenis, melepas aset noninti, serta menyelaraskan anak usaha dengan pilar bisnis utama perseroan.

"Telkom itu sekarang memiliki lebih dari 60 anak usaha di berbagai sektor. Targetnya nanti dari 60 itu ke 20-an anak usaha," kata Izzuddin dalam InvesTalk Series TLKM: Transformasi Strategis TLKM: Spin-Off, Infra Digital & Arah Pertumbuhan 2026.

Menurut Izzuddin, perubahan tersebut diharapkan membuat masing-masing entitas lebih fokus menjalankan bisnisnya. Di sisi lain, Telkom sebagai induk dapat lebih berkonsentrasi pada penciptaan nilai dari bisnis utama.

"Menggabungkan bisnis yang sejenis, melepaskan aset-aset noncore, dan menyelaraskan anak usaha ke pilar bisnis yang lebih utama, yaitu telekomunikasi," ujarnya.

Telkom saat ini tengah bertransisi menjadi strategic holding dengan empat pilar bisnis utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B International, dan B2B IT Service.

Dengan struktur tersebut, Izzuddin mengatakan anak usaha diharapkan dapat bergerak lebih lincah menghadapi persaingan, sementara Telkom di level holding dapat lebih fokus mengoptimalkan nilai bisnis.

"Mereka bisa lebih agile dalam menghadapi persaingan industri yang ada. Sementara di level holding, Telkom juga bisa lebih fokus dalam menciptakan value creation atau mengoptimalkan value creation yang ada."

Salah satu bisnis yang menjadi bagian dari transformasi tersebut adalah fiber. Telkom telah melakukan spin-off tahap pertama bisnis fiber kepada TIF atau InfraREKIA, dengan tujuan agar aset jaringan tersebut dapat dimanfaatkan lebih luas.

Izzuddin mengatakan Telkom ingin mengubah pemanfaatan jaringan fiber yang sebelumnya banyak digunakan untuk kebutuhan internal agar dapat melayani pihak ketiga.

"Objektifnya adalah meningkatkan penetrasi, yang sebelumnya hanya dipakai di internal level, sekarang bisa dipakai di third party level."

Jaringan fiber Telkom saat ini mencapai lebih dari 179.000 kilometer dan mencakup lebih dari 500 kota dan kabupaten di Indonesia. Infrastruktur tersebut juga terhubung dengan jaringan internasional.

Setelah dipisahkan, bisnis fiber diharapkan dapat beroperasi lebih fleksibel, termasuk dalam mengembangkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan utilisasi jaringan.

Menurut Izzuddin, pemisahan tersebut juga membuka peluang bagi investor untuk melihat bisnis fiber secara lebih spesifik, termasuk dari sisi valuasi.

"Jadi, seperti yang dibilang Mas KFI tadi, sehingga investor juga bisa lebih menilai bahwa, oh, ternyata bisnis fiber Telkom memang mendapatkan multiple EV/EBITDA yang lebih tinggi dibandingkan yang sekarang dinilai Telkom, cuma dari bisnis yang sekarang," ujarnya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Kavi Ananta sebelumnya menilai pemisahan bisnis fiber dapat menjadi salah satu cara untuk membuka nilai aset yang selama ini berada di dalam bisnis operator telekomunikasi.

Menurut Kavi, infrastruktur fiber secara global maupun regional umumnya mendapat valuation multiple yang lebih tinggi dibandingkan operator telekomunikasi.

"Ini memberikan benefit, yaitu unlocking value dari valuasi para emiten itu sendiri."

Ia juga menilai pemanfaatan jaringan fiber untuk pihak ketiga dapat memperbaiki arus kas perusahaan.

"So, improving free cash flow dari cara seperti ini sangat memungkinkan."

Transformasi struktur bisnis tersebut berlangsung ketika saham Telkom juga masih dinilai memiliki ruang penguatan oleh analis. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan tim riset BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga saham Telkom di level Rp4.000.

"Kalau melihat prospeknya, cukup positif. Dari BRI sendiri, tim riset sudah melihat bahwa target Telkom itu di angka Rp4.000."

Reza juga mencatat saham Telkom telah naik 38,83 persen dalam satu tahun terakhir. Menurut dia, investor asing turut menunjukkan minat melalui akumulasi saham Telkom sepanjang 2025.

"Di grafik dari Januari 2025 sampai Desember 2025, investor asing sangat masif untuk entry ataupun mengakumulasi saham Telkom itu sendiri."

Baca juga artikel terkait TELKOM atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana