tirto.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menilai komitmen manajemen penting untuk memastikan strategi dekarbonisasi dan agenda keberlanjutan tetap berjalan di tengah pergantian jajaran manajemen.
AVP Sustainability Strategy & Program Telkom Indonesia Liza Mahavianti Syamsuri mengatakan perubahan manajemen menjadi salah satu tantangan karena tim perlu kembali memberikan pemahaman mengenai agenda dan program sustainability kepada jajaran baru.
"Telkom ini beberapa kali mengalami pergantian manajemen. Kita perlu ketika manajemen baru itu kita perlu lagi mengenalkan sustainability dan juga program-programnya seperti apa ke manajemen yang baru," kata Liza dalam LeadsTalk #19 bertajuk Peran Supply Chain Management dalam Mendorong Strategi Dekarbonisasi.
Menurut Liza, pemahaman tersebut diperlukan karena strategi keberlanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab unit sustainability, tetapi harus diterapkan di seluruh Telkom Group.
Untuk memastikan penerapannya di anak usaha, Telkom memasukkan indikator environmental, social, and governance (ESG) ke dalam kontrak manajemen direksi. Salah satunya berupa target penurunan emisi yang menjadi bagian dari penilaian kinerja.
Liza mencontohkan, apabila sebuah anak perusahaan memiliki target penurunan emisi sebesar 10 persen dan berhasil mencapainya, kinerja tersebut dapat memperoleh nilai 110 persen pada indikator yang ditetapkan.
"Untuk KPI ESG itu ke performance index ESG. Kalau mereka mencapai penurunan emisi 10 persen maka nilainya bisa 110 persen," ujarnya.
Selain melalui indikator kinerja, Telkom membentuk sustainability council sebagai forum bagi pengelola ESG di masing-masing anak perusahaan. Forum tersebut digunakan untuk meningkatkan awareness, memberikan pelatihan, serta menyusun pedoman pelaksanaan sustainability di lingkungan Telkom Group.
Penguatan tata kelola juga dilakukan di tingkat holding. Telkom telah membentuk sustainability committee yang diketuai oleh anggota direksi dengan anggota dari berbagai fungsi yang berkaitan dengan aspek ESG, termasuk energi, network, human capital management, keamanan, dan data security.
Menurut Liza, pendekatan tersebut diperlukan karena pemahaman mengenai sustainability di perusahaan telekomunikasi tidak selalu sama dengan perusahaan yang memiliki emisi langsung lebih besar, seperti perusahaan tambang, energi, atau kelistrikan.
"Kalau teman-teman di Telkom itu pasti pertanyaan, kita kan sebenarnya malah mengurangi emisi karena kita enggak pakai kertas lagi," kata dia.
Padahal, operasional Telkom tetap menghasilkan jejak emisi yang signifikan karena jaringan telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus. Karena itu, peningkatan pemahaman karyawan menjadi bagian penting dalam mendorong strategi dekarbonisasi perusahaan.
Telkom kemudian memasukkan materi sustainability ke dalam platform pembelajaran perusahaan. Materi tersebut wajib dipelajari karyawan dan menjadi salah satu indikator dalam pengembangan karyawan.
Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap biaya dan manfaat dari agenda keberlanjutan. Liza mengatakan sustainability masih kerap dipandang sebagai biaya tambahan bagi perusahaan.
Padahal, investasi untuk keberlanjutan dapat menjadi langkah mitigasi agar perusahaan tidak menghadapi biaya yang lebih besar akibat risiko lingkungan pada masa mendatang.
"Bagaimana caranya agar timbul suatu kesadaran bahwa sustainability ini bukan cost, tapi sesuatu yang memang harus kita laksanakan agar nanti cost-nya enggak besar di kemudian hari," ujarnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































