tirto.id - Jaket bertuliskan Finisher 100K tampak melekat di badan Akhmad Nizar Bayu Aftoni Dwi Ananda. Saat Jember Yang Itu menghampirinya di tengah rapat Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jember di salah satu kafe di Kabupaten Jember, pria yang akrab disapa Nizar Edo itu tengah duduk santai bersama rekan-rekannya.
Tidak ada kesan berlebihan dari sosok pria berusia 35 tahun tersebut. Perawakannya proporsional, pembawaannya tenang, dan sekilas tidak tampak seperti atlet yang baru saja menyelesaikan salah satu lomba lari lintas alam paling bergengsi di dunia.
Karakternya yang humble makin terasa saat dia berseloroh. Nizar kerap dibilang masih seperti pemuda berusia 20-an tahun setiap kali bertemu orang baru.
Namun, di balik kesederhanaan itu, Nizar adalah pelari berpengalaman. Buktinya: Nizar baru saja menembus jalur pegunungan Alpen dan melintasi tiga negara dalam ajang Courmayeur-Champex-Chamonix (CCC) yang merupakan bagian dari UTMB World Series 2026 di Prancis.
Tak sekadar berpartisipasi, pria asal Desa Tegalrejo, Kecamatan Mayang, Jember, Jawa Timur, ini pun berhasil menuntaskan rute sejauh 101 kilometer dengan elevasi positif sekitar 6.050 meter. Hebatnya lagi, dia menyentuh garis finis dengan catatan waktu 17 jam 36 menit 13 detik dan dinobatkan sebagai pelari Indonesia tercepat kedua yang finis di kategori CCC.
Nizar sekaligus mencatatkan salah satu rekor paling membanggakan sepanjang perjalanan satu dekade kariernya sebagai pelari ultra trail.
Bagi sebagian orang, angka 101 kilometer mungkin hanya sekadar jarak. Namun, bagi Nizar, angka itu adalah taruhan daya tahan tubuh di tengah medan dan cuaca ekstrem, perubahan rute yang tidak bisa ditebak, serta kebutuhan menjaga tubuh tetap mampu bergerak hingga garis finis.
“Targetnya sebenarnya finis di bawah 15 jam. Cuma realitas di lapangan ternyata 17 jam 36 menit,” ujar Nizar di sela kegiatannya di Jember, Minggu (6/9/2026) malam.
Melesetnya target tersebut bukan karena Nizar menyerah pada beratnya medan. Justru, ganasnya cuaca Alpen yang memaksa skenario awal penyelenggara bergeser.
Ketika Badai Mengubah Perhitungan
Kategori CCC seharusnya menempuh jarak sekitar 99 kilometer. Namun, demi keselamatan peserta, panitia terpaksa mengubah sejumlah bagian rute akibat kondisi cuaca yang memburuk.
Perubahan rute ini membuat jarak tempuh membengkak. Berdasarkan catatan perangkat GPS milik Nizar, lintasan yang dia lalui membentang hingga sekitar 107 hingga 109 kilometer—lengkap dengan tambahan elevasi.
Menjelaskan perjuangannya di Benua Biru, Nizar menyebut badai sebagai tantangan paling krusial.
Sebenarnya, dia sudah mengantisipasi suhu dingin. Dua pekan sebelum bertolak ke Prancis, Nizar sempat menjalani training camp di Dataran Tinggi Dieng untuk adaptasi dan aklimatisasi. Namun, dingin ternyata bukan musuh utamanya.
Terpaan angin kencang di jalur Alpen-lah yang menguras fisiknya tanpa henti, baik di area ketinggian maupun saat melintasi lembah.
“Yang sulit dialami itu anginnya. Beda sekali. Mau di atas pegunungan atau di bawah lembah, sama saja kena hantam terus. Di puncak gunung, badai kencang sekali. Pas turun ke bawah anginnya juga tetap kencang,” tuturnya sambil mengenang kondisi saat event kemarin.
Kondisi ini menjadi ujian berat karena trail running tidak sekadar mengandalkan kecepatan kaki. Pelari harus mahir membaca medan, menghemat stamina, mengontrol asupan nutrisi, serta mengambil keputusan cepat saat alam bergejolak.
Latihan intensif di Indonesia terasa jauh berbeda ketika harus berhadapan langsung dengan realitas lanskap Alpen.

Selama menetap di Prancis sejak 23 Agustus, Nizar hampir tidak mendapati hujan hingga hari perlombaan pada 28 Agustus. Namun, begitu peluit start dibunyikan, badai angin langsung menyambut para peserta.
Bagi Nizar, dalam ultra trail, garis finis bukanlah satu-satunya tujuan. Kemampuan menjaga organ tubuh tetap berfungsi optimal adalah inti dari strategi.
Bukan Sekadar Adu Cepat
Nizar juga diuji oleh persoalan lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu logistik nutrisi. Asupan nutrisi amat krusial dalam perlombaan yang memakan waktu belasan jam. Sayangnya, hidangan di titik bantuan tidak semuanya akrab dengan lidah maupun prinsip pelari Indonesia.
“Kalau makanan, jelas kurang familier. Roti sebenarnya masih masuk, tapi jenis rotinya beda dengan yang biasa kita makan di sini,” ujarnya.
Dia juga ekstra hati-hati memilih makanan karena keterbatasan opsi halal.
“Sebagai muslim, saya harus memastikan karena ada daging yang tidak halal. Bahkan untuk minuman seperti cola, tempat kemasannya terkadang bekas wadah bir. Jadi, saya harus cari alternatif minuman lain untuk mempertahankan pasokan tenaga,” ungkap Nizar sambil memainkan jemari di atas meja.
Meski begitu, Nizar memetik pelajaran berharga bahwa persiapan ultra trail internasional bukan sekadar menambah kilometer latihan. Pelari wajib menguasai karakteristik lingkungan, prediksi cuaca, penyesuaian nutrisi, pemenuhan mandatory gear, hingga pemahaman sistem keselamatan lomba.
Panitia UTMB World Series 2026 sendiri menerapkan standar keselamatan yang sangat ketat. Seluruh peserta wajib membawa perlengkapan wajib (mandatory gear) yang disesuaikan dengan dinamika cuaca. Informasi mengenai kondisi cuaca juga diberikan sebelum perlombaan sehingga peserta dapat mempersiapkan perlengkapan yang tepat.
“Prakiraan cuaca dari BMKG setempat sangat akurat. Dua hari sebelum kompetisi, kami sudah dapat pemberitahuan resmi. Jadi, kami tahu harus menyusun strategi apa untuk menerjang medan tersebut,” ucapnya lugas.
Menurut Nizar, standar kepanitiaan dan kedisiplinan mitigasi risiko seperti ini patut dicontoh oleh penyelenggara maupun komunitas trail running di Tanah Air.
Sepuluh Tahun dari Jember Menuju Alpen
Yang spesial dari Nizar adalah langkahnya menuju panggung UTMB World Series tidak dirintis lewat jalur pembinaan atlet profesional sejak dini. Semua justru baru bermula saat dirinya jadi mahasiswa.
Nizar mulai menekuni olahraga lari sekitar 2016 saat menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang. Kala itu, dia mewakili fakultasnya dalam ajang Olimpiade Brawijaya.
Sebelum jatuh hati pada lari, Nizar aktif di cabang sepak bola dan futsal. Lalu, komunitas lari di Malang-lah yang mengenalkannya pada dunia lari lintas alam.
Bergabung dengan komunitas Run Malang Run (RMR), Nizar mulai menjelajahi trek alam pegunungan di Jawa Timur. Gunung Bromo, Arjuno, dan deretan puncak lainnya menjadi tempat pertamanya memahami karakter trail running.
Lari menjelajah alam ternyata membawanya menemukan sensasi yang tak didapatnya di jalan raya.
“Lari trail itu lebih menantang dan menyenangkan karena pemandangannya terus berganti. Saat lewat rute baru, kita tidak pernah tahu tantangan apa di depan. Belum lagi faktor cuaca yang fleksibel berubah,” jelasnya.
Hanya berjarak setahun sejak menekuni lari, Nizar memberanikan diri masuk arena kompetisi. Pada 2016, dia menjajal Bromo Tengger Semeru Ultra kategori 30 kilometer.
Meski perlengkapan trail masa itu masih sangat terbatas, Nizar justru keluar sebagai juara pertama.
Sejak saat itu, kompetisi demi kompetisi dia jalani. Nizar pun telah kehilangan jejak hitungan kompetisi yang pernah dia ikuti. Dari event lokal hingga nasional, Nizar telah berlari di berbagai wilayah Indonesia. Hampir seluruh pulau besar di Indonesia pernah disinggahinya untuk berlomba.
Di tingkat nasional, prestasinya konsisten. Nizar berhasil menembus tiga besar Kejuaraan Nasional Lari Trail pada 2022 dan mengulang capaian serupa pada 2025.
Puncaknya, tepat pada tahun kesepuluh perjalanannya sebagai pelari, kesempatan menjajal panggung dunia akhirnya tiba.

Tiket ke Prancis dari Danau Toba
Kesempatan Nizar tampil di UTMB World Series 2026 tidak didapat secara cuma-cuma. Sistem kepesertaan UTMB World Series menerapkan dua jalur, yaitu undian (ballot) dan jalur prestasi (direct entry). Nizar berhasil mengamankan tiket direct entry berkat keberhasilannya merebut posisi tiga besar pada ajang Trail of the Kings di Danau Toba, Sumatra Utara.
“Saya kemarin lewat jalur direct entry karena masuk top three di Trail of the King Danau Toba. Jadi, dapat hak istimewa langsung daftar tanpa perlu ikut undian lagi,” jelasnya sembari tersenyum menyandarkan punggungnya ke kursi.
Dari Danau Toba, langkahnya melesat ke Chamonix, Prancis. Kategori CCC yang diikutinya melintasi rute dari Courmayeur (Italia), melewati Champex (Swiss), dan berakhir di Chamonix (Prancis).
Meski tidak menyusuri seluruh lingkar Mont Blanc layaknya kategori utama UTMB 100 mil, rute CCC tetap menyajikan medan teknis yang amat berat.
Bagi Nizar, atmosfer persaingan UTMB World Series berada di level yang berbeda dari perlombaan lokal yang pernah dia ikuti selama 10 tahun terakhir.
“Kalau kata pelari-pelari, UTMB itu ibarat ibadah hajinya pelari trail,” ujarnya bangga sambil menepuk pelan dada kirinya.
Bukan hanya faktor medan yang membuatnya megah dan bergengsi. Manajemen perlombaan, keselamatan peserta, hingga pengelolaan rute menjadi bagian yang membuat pengalaman mengikuti UTMB berbeda.
Pulang untuk Membangun Jember
Setelah bertahun-tahun beraktivitas di Malang, Nizar kini memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, Jember.
Dia tidak lagi berkarier di sektor perbankan maupun industri manufaktur. Nizar memilih mengelola usaha mandiri, di antaranya bisnis jersey olahraga serta membantu bisnis keluarga. Keputusan ini memberinya ruang gerak yang lebih fleksibel untuk berlatih sekaligus memajukan keolahragaan lokal.
Kepulangannya membawa misi untuk menghidupkan ekosistem trail running di Jember.
Nizar kini rutin berlatih bersama teman-temannya di kawasan Batu Jubang, Kecamatan Mumbulsari, Jember. Dia membagikan pemetaan rute berbasis data GPS, menentukan titik istirahat (check point), serta mengajarkan aspek keselamatan lari.
“Yang paling utama itu faktor safety. Kedua, kesadaran menjaga kelestarian alam. Bagaimana caranya kita menikmati lintasan lari tanpa merusak lingkungan,” tegasnya sambil menyatukan kedua telapak tangan.
Pandangan Nizar ini diamini oleh Ketua Harian ALTI Jember, Azwar Anas. Anas menilai Nizar sebagai sosok panutan yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman.
Menurut Anas, Nizar telah menjadi salah satu panutan bagi pelari muda Jember, khususnya mereka yang mulai tertarik dengan trail running.
“Mas Nizar itu sangat humble dan tidak pelit ilmu. Setiap kali latihan pasti dibimbing, seperti bagaimana mengasah feeling di tanjakan, mengatur strategi nutrisi, sampai recovery. Apa pun yang ditanyakan adik-adik pasti dijawab detail,” kata Anas yang duduk di sebelah Nizar.
Kehadiran Nizar menjadi suntikan motivasi bagi generasi baru pelari di Jember. Terlebih, Nizar merupakan putra daerah yang berhasil membawa nama Jember ke panggung perlombaan internasional.
“Kalau ikut latihan dan ada Mas Nizar, anak-anak langsung makin semangat,” tambah Anas tersenyum.
Saat ini, peminat trail running di Jember diperkirakan mencapai 40 hingga 50 orang dan terus bertambah. Lanskap Jember seperti Batu Jubang, Panti, Kali Jompo, Perkebunan Durjo, hingga Rembangan dinilai memiliki potensi besar sebagai arena latihan alam.
“Untuk ukuran Jember, potensinya luar biasa. Meski gunungnya tidak setinggi daerah lain, perbukitannya sangat variatif dan cocok untuk latihan trail,” pungkas Anas.

Dari Batu Jubang, Menatap Dunia
Bagi Nizar, pencapaian di Alpen bukanlah titik henti. Dia masih mengintip peluang untuk kembali ke UTMB World Series dengan persiapan yang jauh lebih matang. Jika kesempatan itu datang, dia ingin menjajal kategori utama yang lebih ekstrem, yaitu kategori 100 mil.
Namun, fokus utamanya untuk saat ini adalah memperkuat fondasi trail running di Jember.
“Inginnya nanti bisa balik lagi ke sana, entah di kategori CCC lagi atau mencoba tantangan UTMB 100 mil,” ujar Nizar mantap.
Perjalanan Nizar, dari seorang mahasiswa yang pertama kali mencoba lari di Olimpiade Brawijaya 2016, menaklukkan rute-rute ekstrem Nusantara, hingga akhirnya mengibarkan bendera Indonesia di garis finis CCC UTMB World Series setelah perjuangan 17 jam 36 menit 13 detik, membuktikan bahwa prestasi tingkat dunia bisa lahir dari mana saja.
Dia tumbuh di Jember, menemukan jalannya di Malang, dan akhirnya menguji kemampuan di Pegunungan Alpen nun di Eropa sana.
Kini, setelah menembus badai dan menyelesaikan rute 101 kilometer melintasi Italia, Swiss, dan Prancis, Nizar telah pulang. Bukan untuk berhenti berlari, melainkan untuk membakar semangat pelari-pelari muda Jember agar berani melangkah menaklukkan dunia.
==========
Rekam Prestasi Akhmad Nizar Bayu Aftoni Dwi Ananda (2024-2026)
2024
- Merbabu Skyrace 50K (Juara 3)
- Bali Trail Running Ultra 55K (Juara 1)
- Dieng Caldera Race 75K (Juara 3)
- Mantra116 68K (Juara 3)
- Bromo Tengger Trail Run 21K (Juara 1)
- Bali Ultra Trail 52K (Juara 3)
- Eksibisi PON XXI Lari Trail 83K (Peringkat 4)
- Bromo Desert Race 50K (Juara 2)
- Bontang International Ultra Trail 60K (Juara 3)
- Siksorogo Lawu Ultra 80K (Juara 2)
- Siksorogo Lawu Ultra 7K (Juara 1)
- Tahura Trail Running Race 42K (Peringkat 4)
- CTC Night Trail Ultra 50K (Juara 3)
- Bali Trail Running Ultra 100K (Juara 3)
- Mantra116 38K (Juara 3)
- GBLK Trail 42K (Juara 1)
- Dieng Trail Run 12K (Juara 3)
- Ijen Green Trail 50K (Juara 1)
- Ijen Green Trail 7K (Juara 2)
- Melarikan Diri 7.2K (Juara 3)
- Trail Of The King by UTMB 100K (Juara 3 dan tiket direct entry UTMB World Series 2026)
- Kejurnas Lari Trail 100K (Juara 3)
- Jatim Ultra 100K (Juara 1)
- CTC Night Trail Ultra 80K (Juara 3)
- UTMB World Series Kategori CCC 101K (Finisher/Pelari Indonesia Tercepat Kedua)
=============
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























