Menuju konten utama

Bahasa Inggris Diserukan Dihapus dari Pelajaran Inti di Cina

Profesor matematika dari Universitas Nanjing membuat heboh setelah menyerukan agar Cina menghapus Bahasa Inggris dari pelajaran inti sekolah.

Bahasa Inggris Diserukan Dihapus dari Pelajaran Inti di Cina
Tang Jiafeng, pengajar di bidang Matematika untuk Ujian Masuk Pascasarjana. (FOTO/BaiduWiki)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Publik di Cina belakangan diperlihatkan oleh perdebatan seputar pembelajaran bahasa Inggris. Diskusi dan perdebatan mencuat setelah seorang profesor dari Universitas Nanjing mendorong agar bahasa Inggris dihapus dari pelajaran inti di negara tersebut.

Seturut media Singapura, ThinkChina, polemik tersebut bermuara pernyataan Tang Jiafeng. Ia merupakan seorang profesor bidang matematika dari Universitas Nanjing yang kini aktif sebagai guru les dan selebritas daring.

Perdebatan tentang bahasa Inggris di Cina bermula dari pernyataan publik Tang Jianfeng di media sosial pada 4 September lalu. Kala itu, ia secara terbuka mendorong agar bahasa Inggris dihapus sebagai mata pelajaran inti di sekolah dasar hingga universitas.

“Saya secara terbuka menyerukan agar bahasa Inggris dihapus dari statusnya sebagai mata pelajaran inti!” tulis Tang di media sosial Toutiao pada 3 September lalu.

Seruan itu diungkap Tang seiring keputusan Departemen Pendidikan Provinsi Liaoning yang menghapus mata pelajaran sejarah, geografi, dan biologi sebagai mata pelajaran yang digunakan untuk penentuan masuk SMA. Otoritas setempat menyebut bahwa langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban peserta didik yang kelewat banyak.

Menanggapi hal tersebut, Tang secara terbuka menyebut bahwa keputusan itu telah mengecewakannya. Menurutnya, alih-alih sejarah, mata pelajaran yang perlu dicopot dari status intinya adalah bahasa Inggris.

Tang menyebut bahasa Inggris adalah pelajaran yang “sebagian besar, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan” pada siswa setelah lulus sekolah. Oleh karenanya, mempertahankan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran inti disebut Tang hanya membuat sekolah-sekolah menghabiskan “waktu dan sumber daya” mereka.

Dalam pernyataannya, Tang juga membawa argumen seputar patriotisme dalam seruan itu. Menurutnya, pembelajaran mata pelajaran bahasa Inggris hanya bukti ketidakmampuan Cina terlepas dari pengaruh Barat.

“Sejarah orang Cina yang memuja hal-hal asing dan menjilat negara asing harus diakhiri,” katanya.

Pro-Kontra atas Seruan Tang Jiafeng

Sejak itu, warganet Cina pun memperdebatkan seruan Tang. Tak sedikit yang mendukung argumen itu. Pun, tak sedikit pula yang menentangnya.

Para pendukung argumen Tang menyebut bahwa pembelajaran bahasa Inggris di sekolah selama ini tak berhasil membuat mereka fasih. Sebagian juga menyinggung kemampuan teknologi penerjemahan berbasis AI yang kini makin canggih.

Sementara itu, para pengkritik ide Tang menyebut pandangan profesor matematika itu tak tepat. Tak sedikit yang mengatakan bahasa Inggris tetap diperlukan agar masyarakat Cina memiliki daya saing di taraf internasional.

Salah satunya adalah eks pemimpin redaksi Global Times, Hu Xijin. Menurutnya, argumen Tang terlalu sempit dan bersifat xenofobia.

Menurut Hu, bahasa Inggris secara faktual telah menjadi bahasa yang memimpin modernisasi selama berabad-abad. Berhenti mempelajarinya hanya karena urusan patriotisme, kata Hu, hanya akan kontraproduktif dengan jalan panjang Cina untuk mengubahnya.

“Mengubah masalah ini menjadi masalah yang sarat dengan ‘patriotisme’ hanya akan terbukti kontraproduktif, menyebabkan perselisihan ideologis dan kebingungan yang tidak perlu,” katanya.

Topik Mengurangi Bobot Bahasa Inggris Bukan Hal Baru di Cina

Seturut Canada Wuyou, topik perdebatan tentang pengurangan bobot bahasa Inggris dalam ujian di Cina bukanlah hal yang baru. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Kementerian Pendidikan Cina telah secara bertahap melakukannya.

Upaya untuk mengurangi bobot bahasa Inggris itu disebut telah mulai dilakukan sejak 2020 lalu. Saat itu, Kementerian Pendidikan Cina menerbitkan larangan bagi sekolah dasar dan menengah tingkat pertama untuk menggunakan buku teks berbahasa asing.

Pada 2021, Pemerintah Cina juga telah menurunkan bobot mata pelajaran bahasa Inggris. Dari yang semula menjadi salah satu mata pelajaran untuk ujian akhir, bahasa Inggris menjadi mata pelajaran untuk penilaian masuk SMA.

Kebijakan ini juga menuai kontroversi ketika dirilis. Yuan Li, mantan editor Kantor Berita Xinhua, menyebut kebijakan ini merupakan buah dari propaganda nasional yang menguat sejak merebaknya pandemi Covid-19. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa kebijakan ini hanya akan membuat Cina terisolasi dari dunia luar secara perlahan.

Baca juga artikel terkait BAHASA INGGRIS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar