Menuju konten utama

Telkom Sulap Jaringan Fiber Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Telkom melakukan spin-off bisnis fiber untuk membuka akses ke pelanggan eksternal dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Telkom Sulap Jaringan Fiber Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Ilustrasi gedung kantor Telkom Indonesia. foto/Dok. Telkom
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengubah cara perseroan mengelola bisnis fiber dengan membuka pemanfaatan jaringan tersebut untuk pasar yang lebih luas. Langkah ini ditempuh untuk menciptakan nilai dari infrastruktur yang telah dibangun Telkom selama bertahun-tahun.

Investor Relations Telkom Izzuddin Al Azzam mengatakan perseroan ingin mengoptimalkan aset fiber yang selama ini menjadi bagian penting dari infrastruktur telekomunikasi Telkom. Salah satu caranya dilakukan melalui pemisahan atau spin-off bisnis wholesale fiber connectivity.

"Kami pengin menciptakan nilai dari infrastruktur yang sudah dibangun oleh Telkom selama bertahun-tahun melalui investasi yang sangat konsisten," kata Izzuddin dalam InvesTalk Series TLKM: Transformasi Strategis TLKM: Spin-Off, Infra Digital & Arah Pertumbuhan 2026.

Telkom telah menyelesaikan spin-off tahap pertama bisnis fiber pada RUPS Desember 2025. Aset dengan total nilai buku sekitar Rp5 triliun dialihkan ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia dan mendapat persetujuan dari 99,9 persen pemegang saham.

Pengalihan tersebut menjadi bagian dari upaya Telkom membuka pemanfaatan jaringan fiber untuk pelanggan di luar internal grup. Dengan demikian, infrastruktur yang sebelumnya banyak digunakan untuk kebutuhan internal dapat dimonetisasi melalui pasar third party.

Izzuddin mengatakan perubahan tersebut juga diarahkan untuk membuat pengelolaan jaringan menjadi lebih efisien.

"Objektifnya adalah meningkatkan penetrasi yang mana sebelumnya hanya dipakai di internal level, sekarang bisa dipakai di third party level," kata Izzuddin.

Telkom memiliki jaringan fiber yang membentang lebih dari 179.000 kilometer. Jaringan tersebut mencakup lebih dari 500 kota dan kabupaten di Indonesia serta terhubung dengan jaringan internasional.

Skala jaringan tersebut menjadi salah satu aset yang ingin dioptimalkan Telkom seiring perubahan model bisnis perseroan. Selain membuka akses kepada pelanggan third party, pemisahan bisnis fiber juga memungkinkan aset tersebut memiliki ruang untuk tumbuh dengan model bisnis yang lebih fokus.

Langkah tersebut mendapat perhatian dari Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Kavi Ananta. Menurut dia, pemisahan bisnis fiber berpotensi membuka nilai baru bagi Telkom karena karakter bisnis infrastruktur fiber berbeda dengan operator telekomunikasi.

"Ini memberikan benefit, yaitu unlocking value gitu dari valuasi para emiten itu sendiri, ya," kata Kavi dalam acara yang sama.

Kavi menilai bisnis infrastruktur fiber secara global dan regional umumnya mendapatkan valuasi yang lebih tinggi dibandingkan bisnis operator telekomunikasi.

"Kalau kita lihat dari, eh, comparison fiber infrastructure di global atau di regional, itu memang biasanya secara valuasi fiber itu, eh, dihargai multiple-nya lebih tinggi gitu dibandingin operator," ujarnya.

Baca juga artikel terkait TELKOM atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana