tirto.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk TLKM resmi mengumumkan rencana pembangunan platform kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) vertikal untuk melayani kebutuhan dunia usaha pada 2027. Langkah strategis ini diambil guna menyediakan solusi AI yang lebih aman bagi sektor industri, sekaligus meminimalisir risiko kebocoran data sensitif yang sering terjadi pada platform AI publik.
Executive General Manager Digital Product Telkom, Komang Budi Aryasa, menyebut layanan AI yang dikembangkan perusahaannya merupakan solusi bagi segmen industri (Business to Business/B to B).
"Pada saat kita mendapat request B to B dari industri healthcare, large language model (LLM) di industri healthcare itu berbeda dengan industri pemerintahan. Sehingga, kita harus membangun satu kapabilitas model di industri kesehatan, di industri pemerintahan, kemudian di industri retail, dan lain-lain. Jadi, di 2027 kita akan masuk ke industri-industri vertikal tersebut untuk bisa kita mendapatkan solusi AI di B to B," jelas Komang dalam Telkom Business Update, di Uncle Z Kopitiam, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Kata Komang, penyajian layanan AI kepada industri ini pada akhirnya diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan yang ada di Tanah Air untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka.
Namun, seiring dengan ketergantungan para pekerja dengan ChatGPT maupun Gemini AI, sering kali perusahaan mengalami kebocoran data. Komang mencontohkan, karyawan sering kali meminta bantuan AI dari OpenAI maupun Google itu untuk membuat ringkasan materi rapat.
Pada saat menganggap dokumen ke dalam kedua AI tersebut, terkadang secara tidak sadar karyawan yang bersangkutan seperti memberi makan pesaing.
"Pada saat kita upload dokumen itu, maka dokumen itu tersimpan di server mereka. Pada saat ada orang lain yang mem-prompt, mem-prompt hal yang sama terhadap itu, itu bisa di-deliver dokumen kita ke orang lain, bisa jadi kompetitor kita, bisa jadi orang-orang yang tidak bertanggung jawab, nah terjadilah kebocoran data. Nah, hal-hal itu harus diantisipasi oleh perusahaan, memang tidak mudah," lanjut Komang.
Karena potensi kebocoran data tersebut, tidak jarang perusahaan yang kini melarang penggunaan AI dari kedua perusahaan teknologi asing tersebut. Bahkan, pada perusahaan tertentu, ada yang mengeluarkan modal lebih besar untuk merancang AI bagi internal perusahaan.
Berbeda dengan ChatGPT maupun Gemini AI, Komang memastikan, solusi AI yang kini sedang dikembangkan TLKM akan menjaga dokumen perusahaan dengan aman.
"Adopsinya sebenarnya pada saat kita implementasikan AI di beberapa perusahaan itu cukup lumayan, nah khusus untuk yang chat. Chat ini kadang-kadang memang harus sering di-train, sering dikasih knowledge lah, ilmu ya, seperti orang gitu ya, bahkan kalau dia dikasih ilmu, sering kan kita di-train, sering kalau chat itu namanya berhalusinasi dia, jadi apa yang kita tanyakan kadang-kadang jawabannya beda, itu halusinasi, sehingga perlu knowledge tambahan," tukas Komang.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































