tirto.id - Jensen Huang tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya hari itu. Pada 1 Juni 2026, CEO Nvidia tersebut menjadi pembicara kunci dalam konferensi GTC Taipei yang mempertemukan para pengembang AI Nvidia. Dengan mengenakan jaket kulit hitam khasnya, sosok berambut perak itu menyampaikan visinya tentang "eranya para agen".
Agen yang dimaksud adalah agen akal imitasi (AI) yang bisa melaksanakan tugas dengan lebih akurat dan efisien. Huang menyebut bahwa ini adalah era di mana AI akan benar-benar berguna bagi manusia; tidak cuma soal menjalankan tugas, tetapi juga bagaimana teknologi ini mampu menciptakan banyak lapangan kerja baru.
Lebih dari itu, Huang juga bicara tentang bagaimana AI agentik akan menjadi model aplikasi yang baru, bagaimana komputasi token AI dapat menciptakan peluang finansial baru, dan bagaimana Nvidia berada di sentral dari itu semua. Dan untuk menegaskan peran integral Nvidia di bidang AI, Huang pun menggunakan keynote speech tersebut untuk memperkenalkan produk terbaru yang menurutnya bisa melakukan segalanya, termasuk menjalankan agen AI di komputer perseorangan.
"Ini adalah chip terhebat yang pernah ada. Ini adalah N1X, yang kami buat bersama MediaTek. Ini adalah chip yang butuh waktu 33 tahun untuk dikembangkan. Anda ingin menjalankan program biologi digital? Bukan masalah. Anda ingin melakukan pemrosesan seismik? Bukan masalah. Astrofisika? Juga bukan masalah. Chip ini bisa menjalankan semuanya tanpa masalah. Ditambah lagi, ia juga bisa menjalankan agen AI. Sungguh komputer yang luar biasa. Saya bangga sekali," kata Huang yang langsung disambut tempik sorak peserta konferensi.
Dari ucapan Huang, kita bisa menarik hipotesis bahwa chip N1X tersebut memang berbeda dari chip-chip yang sebelumnya sudah ada. Lalu, apa saja sebenarnya yang ditawarkan olehnya?
Memori Terpadu
Nama resmi dari chip yang diperkenalkan Huang itu adalah RTX Spark. Chip ini bukan sekadar prosesor grafis seperti yang selama ini jadi produk andalan Nvidia. RTX Spark adalah sebuah "superchip" yang menggabungkan dua komponen utama komputer dalam satu keping silikon: CPU, yakni otak utama yang menjalankan sistem operasi dan aplikasi, serta GPU, yakni chip grafis yang mengolah gambar dan beban kerja AI.
Selama ini, kedua komponen ini hidup terpisah. Intel dan AMD membuat CPU, Nvidia membuat GPU, dan keduanya berkomunikasi melalui jalur data yang memakan waktu dan energi. RTX Spark menggabungkan keduanya dalam satu kolam memori terpadu berkapasitas hingga 128 GB. Inilah yang disebut dengan memori terpadu atau unified memory, dan sebelum ini belum pernah ada chip seperti ini di komputer berbasis Windows.
Dengan kapasitas 128 GB itu, RTX Spark memungkinkan laptop atau komputer personal menjalankan model bahasa besar (LLM) sekelas ChatGPT atau Claude tanpa bantuan server jarak jauh. Sebab, dengan memori terpadu sebesar itu, komputer pribadi sekalipun dapat memproses komputasi hingga satu juta token. Token sendiri merupakan satuan unit data yang dipakai LLM untuk memproses data serta menghasilkan respons.
Dari sisi GPU atau grafis, RTX Spark dilengkapi dengan arsitektur Blackwell milik Nvidia, dengan 6.144 CUDA cores dan tensor cores generasi kelima. Kemampuan GPU ini setara dengan kartu grafis Nvidia GeForce RTX 5070 yang selama ini hanya tersedia sebagai komponen terpisah di laptop gaming kelas atas. Di RTX Spark, semua itu terintegrasi dalam satu chip yang tipis dan hemat daya.
CPU-nya menggunakan arsitektur ARM, bukan x86 yang selama ini menjadi tulang punggung Windows melalui Intel dan AMD. Di sinilah kemudian ada pemisahan antara N1X, seperti yang diperkenalkan Huang, dan N1. Varian N1X yang paling bertenaga memiliki 20 inti CPU, terdiri dari 10 inti performa tinggi dan 10 inti efisiensi, dengan konsumsi daya antara 45 hingga 80 watt. Varian N1 yang lebih terjangkau hadir dalam konfigurasi 12 dan 10 inti CPU, dengan memori maksimal 64 gigabyte dan konsumsi daya antara 18 hingga 45 watt.
RTX Spark dikembangkan bersama MediaTek, perusahaan semikonduktor asal Taiwan yang dikenal sebagai pemimpin pasar dalam desain chip berbasis ARM. Dalam kolaborasi ini, Nvidia membawa keahlian GPU dan ekosistem perangkat lunaknya, sementara MediaTek menyumbangkan keahlian dalam efisiensi daya dan desain chip ARM. Chip ini memungkinkan dibuatnya laptop setipis 14 mm dengan bobot hanya 3 pon, dengan daya tahan baterai sepanjang hari.
Kelebihan dan Kekurangan RTX Spark
Lantas, benarkah chip RTX Spark ini dikembangkan dalam 33 tahun? Nah, sebenarnya, ucapan Huang tadi merujuk pada seluruh perangkat lunak Nvidia yang kini bisa berjalan di chip ini.
Sejak CUDA pertama kali diperkenalkan pada 2006, Nvidia telah membangun ekosistem perangkat lunak raksasa yang mencakup ribuan aplikasi AI, grafis, sains, dan komputasi. Semua itu, ditambah seluruh ekosistem Windows, kini dioptimalkan secara menyeluruh oleh Nvidia dan Microsoft agar bisa berjalan di RTX Spark. Itulah yang membuat chip ini berbeda dari sekadar prosesor baru.
Selama beberapa tahun terakhir, satu-satunya laptop yang mampu melakukan hal serupa adalah MacBook Pro besutan Apple dengan chip M-series-nya. Apple sudah bisa menggabungkan CPU dan GPU dalam satu chip memori terpadu sejak 2020 lewat chip M1. Selama enam tahun, tidak ada satu pun laptop Windows yang bisa menandinginya secara serius dalam hal kombinasi performa, efisiensi, dan kemampuan AI lokal.
Oleh karena itu, RTX Spark pun jadi produk pertama yang benar-benar layak disebut pesaing. Berdasarkan perbandingan benchmark menggunakan chip yang secara teknis setara, performa GPU RTX Spark diperkirakan berada di antara Apple M5 Pro dan M5 Max dalam uji sintetis dan aplikasi kreatif, sementara Nvidia diyakini memiliki keunggulan dalam gaming berkat driver yang lebih matang.
Namun, performa CPU RTX Spark masih tertinggal hampir 30 persen dibanding Apple M5 Max dalam uji single-core, dan hampir sepertiga lebih lambat dalam uji multi-core. Artinya, RTX Spark bukan chip yang sempurna. GPU-nya luar biasa, ekosistem perangkat lunaknya tak tertandingi, kemampuan AI lokalnya revolusioner, tetapi CPU-nya masih perlu terus dibenahi.
Selain itu ada juga tantangan struktural yang lebih besar. Mengingat RTX Spark dibangun dengan basis ARM, bukan x86, sebagian besar gim dan aplikasi Windows yang sudah eksis tidak akan bisa dijalankan karena tidak dirancang untuk arsitektur ini.
Program-program itu harus dijalankan melalui emulasi perangkat lunak yang mensimulasikan lingkungan x86, dan proses ini bisa memperlambat performa secara signifikan. Ini sebetulnya bukan masalah baru karena Qualcomm dengan chip Snapdragon X Elite-nya sudah lebih dulu menghadapi kendala yang sama di laptop Windows berbasis ARM.
Meski begitu, Nvidia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Qualcomm, yaitu pengaruh besar di industri game dan pengembang perangkat lunak. Di atas kertas, Nvidia bisa mendorong lebih banyak pengembang untuk membuat versi native ARM dari aplikasi dan game mereka. Namun, perlu dicatat bahwa ini belum tentu akan mereka lakukan.
Soal harga, well, sebaiknya jangan berekspektasi berlebihan. Kata orang Jawa, jer basuki mawa beya. Sesuatu yang berkualitas membutuhkan biaya yang lebih besar. Konfigurasi kelas atas laptop RTX Spark diperkirakan akan dijual di atas US$4.000 (sekarang sekitar Rp72 juta), atau setara dengan MacBook Pro yang paling mahal. Adapun laptop pertama yang menggunakan chip ini akan tersedia mulai musim gugur 2026 dari produsen seperti Dell, HP, Asus, Lenovo, MSI, dan Microsoft sendiri melalui lini Surface Laptop Ultra.
Terlepas dari beberapa kekurangannya, peluncuran RTX Spark ini tetap layak dibilang sebagai momen penting dalam dunia teknologi. Neil Shah, salah satu pendiri lembaga riset Counterpoint Research, bahkan menyebut kemunculan superchip ini sebanding dengan momen peluncuran iPhone, ChatGPT, dan DeepSeek dalam hal dampaknya terhadap industri.
Perbandingan itu mungkin terdengar berlebihan. Akan tetapi, konteksnya bisa dipahami. Ini pertama kalinya dalam sejarah Windows ada chip yang benar-benar memenuhi janji "PC berbasis AI" yang selama ini hanya jadi pepesan kosong.
Microsoft sebelumnya sudah mencoba menggaungkan konsep "AI PC" melalui lini Copilot+ sejak 2024, dengan menyematkan neural processing unit atau NPU ke dalam laptop dan menjanjikan pengalaman AI yang revolusioner. Tapi kenyataannya, laptop-laptop itu tidak mampu menjalankan model bahasa besar secara lokal.
Pada akhirnya, yang paling menarik dari RTX Spark bukan sekadar spesifikasinya. Ini adalah pertama kalinya Nvidia, perusahaan yang selama ini mendominasi chip AI di pusat data senilai triliunan dolar, memutuskan untuk turun langsung ke pasar komputer pribadi konsumen. Jika berhasil, ini bisa mengubah peta persaingan industri PC secara permanen, sekaligus memaksa Intel, AMD, Qualcomm, bahkan Apple untuk bergerak lebih cepat dan lebih kompetitif.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























