Menuju konten utama

Suara Bundaran UGM Kutuk Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Massa menggelar aksi solidaritas di Universitas Gadjah Mada menuntut pengusutan teror penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus.

Suara Bundaran UGM Kutuk Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus
Aksi bertajuk "Suara Ibu Indonesia Mengutuk Percobaan Pembunuhan pada Pembela HAM: Kami Bersama Andrie Yunus" di Bundaran UGM, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (14/3/2026). Tirto.id/Fatimah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Muka gerbang Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dijejali massa, pada Sabtu (14/3/2026) sore. Perempuan, laki-laki, tua, remaja, ibu-ibu, mahasiswa, sampai pengemudi ojek online (ojol) menjajarkan diri menyuarakan solidaritas terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.

Aksi bertajuk "Suara Ibu Indonesia Mengutuk Percobaan Pembunuhan pada Pembela HAM: Kami Bersama Andrie Yunus" ini mengecam terorisme berupa penyiraman air keras yang menimpa sang aktivis.

Pantauan Tirto di lokasi, massa mulai mendatangi titik demonstrasi sekitar pukul 15.30 WIB. Aksi berupa mimbar terbuka. Pengeras suara bukan hanya memperdengarkan orasi, tapi juga memutar lagu milik Efek Rumah Kaca yang berjudul 'Seperti Rahim Ibu'.

Sebagian demonstran menggenggam bunga, sebagai tanda kasih. Tapi juga menjujung poster bernada dukungan untuk saling menguatkan dan terus berani.

"SORI, ORA WEDI."

"Hari ini Andrie, besok bisa jadi kita semua!" tertulis pada poster lainnya.

Massa juga sempat melantunkan doa, yang dipimpin secara Kristiani dan Islami. Acara dipungkasi dengan orasi oleh ibu-ibu.

"Serangan penyiraman air keras secara sengaja yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Kamis (12/3/2026) malam di Jakarta merupakan intimidasi terang-terangan yang sangat keji pada pembela HAM," seorang ibu memulai orasinya.

Perempuan berjilbab biru tua itu mengayakan, tidak pernah ada presedennya, ketika air keras digunakan untuk melukai atau membunuh, pelakunya menyasar korban secara acak.

"Air keras adalah senjata yang dipilih oleh pelaku yang sangat tahu siapa yang akan menjadi korbannya. Penggunaan air keras sebagai senjata merupakan sinyal bahwa serangan kepada Andrie Yunus memang direncanakan," lontarnya.

Seorang ibu di sebelahnya melanjutkan, menurut mantan penyidik KPK Novel Baswedan yang pernah disiram air keras pada 2017 hingga salah satu matanya buta permanen, penyiraman air keras ke arah muka seperti yang dialami Andrie biasanya bermaksud untuk membunuh.

"Menurutnya [Novel Baswedan], apa yang dialami Andrie bisa dikategorikan sebagai percobaan pembunuhan," tukas ibu berbaju pink.

"Kami, Suara Ibu Indonesia, tidak bisa diam menyaksikan kekerasan yang begitu sadis kepada orang sipil tak bersalah dan tak bersenjata. Ada dua alasan mengapa kami tidak bisa diam," timpal ibu berjilbab abu-abu.

Dalam aksi ini, para ibu-ibu ini menegaskan tiga tuntutan.

1. Menuntut Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap pelaku teror kepada Andrie Yunus dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari ke depan (21 Maret 2026);

2. Menuntut Polri untuk membuka kepada publik siapa saja pelaku teror kepada aktivis-aktivis pro-demokrasi dan apa motifnya; dan

3. Menuntut Pemerintah untuk mengelola negara secara kompatibel, bersih, dan berpihak kepada rakyat.

Baca juga artikel terkait KONTRAS atau tulisan lainnya dari Siti Fatimah

tirto.id - Flash News
Reporter: Siti Fatimah
Penulis: Siti Fatimah
Editor: Hendra Friana