Menuju konten utama

Starling dan Gempuran Coffee Shop hingga Kopi Gerobak Kekinian

Di tengah gempuran kopi kekinian, penjaja kopi keliling konvensional atau Starling masih memiliki pelanggan setia.

Starling dan Gempuran Coffee Shop hingga Kopi Gerobak Kekinian
Pedagang kopi Starling, Tarono, menjajakan dagangannya di kawasan Grand Depok City (GDC), Kota Depok, Kamis (23/7/2026). FOTO/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika saya berhenti di sebuah SPBU di Jalan Margonda Raya, Depok, untuk mengisi bensin motor saya. Di tengah lalu-lalang kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi, perhatian saya tertuju pada sebuah motor dengan boks bertuliskan Sejuta Jiwa.

Tepat di depan SPBU itu, seorang penjual kopi bermotor yang di belakangnya terdapat boks kopi Sejuta Jiwa tengah duduk menunggu pembeli.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Aaron Montolalu, (21). Sudah setahun terakhir Aaron bekerja sebagai penjual kopi keliling di bawah jenama Janji Jiwa. Dari kejauhan, tampilannya nyaris tak berbeda dengan penjual kopi keliling pada umumnya.

Bedanya, kopi yang dijual berasal dari jaringan kedai kopi modern yang kini mulai merambah penjualan keliling ataupun memangkal di pinggir jalan.

Aaron bercerita bahwa penghasilannya bergantung pada jumlah kopi yang berhasil dijual. Sistemnya menggunakan persentase penjualan, sehingga tidak ada gaji tetap setiap bulan.

"Kalau penjualan bagus ya lumayan. Ada teman saya bisa sampai Rp1 juta sampai Rp1,2 juta seminggu, belum bonus," kata Aaron saat bercerita kepada Tirto, di depan SPBU Jalan Margonda Raya, Depok, Kamis (23/7/2026).

Tidak ada target yang mengikat dari perusahaan. Menurut Aaron, semakin banyak kopi yang terjual, semakin besar pula pendapatan yang diterima. Sebaliknya, ketika penjualan sepi, penghasilannya ikut menurun.

Aaron juga menjelaskan bahwa berbeda dengan bayangan banyak orang, dirinya tidak benar-benar berkeliling. Motor yang digunakan membuatnya lebih memilih menetap di satu titik yang dianggap ramai.

"Kalau kami pakai motor susah berhentinya. Makanya rata-rata memangkal saja," ujar Aaron.

Pedagang Kopi starling vs Kopi bermerek

Penjual kopi keliling Sejuta Jiwa, Aaron Montolalu, sedang memangkal di Jalan Raya Margonda, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026).. FOTO/Putri Az zahra

Percakapan itu membuat saya bertanya-tanya. Di tengah banyaknya kopi keliling dari berbagai merek, bagaimana nasib penjual kopi keliling yang sejak lama akrab di pinggir jalan?

Penjual kopi keliling atau biasa disebut Starling, akronim dari Starbucks Keliling. Istilah ini merujuk pada pedagang minuman ringan seperti, teh, susu, dan kopi bungkus, yang menjajakan dagangannya menggunakan sepeda atau gerobak di pinggir jalan, area perkantoran, atau pusat keramaian.

Rasa penasaran membawa saya melanjutkan perjalanan. Menjelang siang, saya menyusuri Jalan Kukusan di sekitar akses Tol Kukusan hingga masuk ke wilayah Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Berkali-kali saya memperlambat laju motor setiap melihat gerobak penjual minuman di pinggir jalan. Namun, hingga matahari semakin terik, satu pun Starling konvensional tak saya temukan.

Fenomena itu terasa menarik. Di ruas jalan yang dulu mudah ditemui penjual kopi keliling, kini justru lebih banyak gerobak minuman kekinian, es teh, hingga kopi dengan merek besar.

Saya memutuskan menghentikan pencarian sejenak dan kembali ke wilayah Depok. Sore harinya, saya mencoba menyusuri kawasan Grand Depok City (GDC). Tepat di depan Kampus Jakarta Global University, akhirnya saya menemukan seorang penjual Starling kaki lima yang sedang duduk menunggu pembeli.

Namanya Tarono, (56). Sudah satu tahun terakhir Tarono berjualan di lokasi tersebut. Awalnya Tarono sempat berkeliling mencari tempat yang ramai, tetapi kini memilih memangkal karena merasa sudah menemukan lokasi yang cocok.

Tarono mengaku usaha ini untuk menggantikan usaha sebelumnya. Dari hasil berjualan kopi, Tarono masih berusaha membantu untuk uang jajan kuliah anak bungsunya, meskipun semua keperluan rumah sudah tercukupi dari ke tiga anaknya yang sudah berkerja.

"Kalau lagi ramai, dagangan bisa sampai Rp300 ribu sehari. Paling bersihnya sekitar Rp150 ribu, sisanya buat ngongkos anak saya" tutur Tarono.

Saya bertanya ke Tarono apakah pedagang kopi Starling merasa tersaingi karna banyaknya kopi bermerek yang juga sudah mulai turun ke jalan?

Tarono merasa tidak ada persaingan dengan kopi bermerek keliling lainnya.

"Enggak saya mah, tergantung kitanya. Kalau saya sih enggak pengaruh. Cuman tergantung perdagangan saya kan kalau orang jual Rp7 ribu, saya jual Rp5 ribu bisa masih ada untungnya," kata Tarono.

Baginya, harga menjadi cara paling sederhana untuk mempertahankan pelanggan. Tarono juga sengaja memilih berjualan di dekat penjual makanan karena besar peluang pembeli mencari minuman lebih besar setelah makan.

Saya sempatkan duduk untuk menunggu pembeli dari Starling Tarono. Namun, karena tak kunjung datang, saya memutuskan untuk berkeliling lagi mencari pembeli untuk melihat pandangan pembeli terkait pedagang Starling yang masih bertahan di antara banyaknya kopi bermerek yang juga turun ke jalan.

Tak jauh dari dagangan Tarono, tepatnya di alun-alun Kota Depok, terdapat Starling yang terlihat banyak pelanggan anak muda. Saya pun berbincang dengan ketiga pemuda tersebut.

Namanya, Zaki (17), Abdul (17), dan Fahri (17). Ketiga pelajar ini mengaku cukup sering membeli minuman di Starling ketika sedang kumpul untuk bermain.

"Karena harganya terjangkau. Buat remaja seperti kita yang masih sekolah dan sering nongkrong di sini, jadi harga yang terjangkau ya Starling, dibanding kopi-kopi yang brand gede," ujar Fahri.

Ketiganya biasanya berkumpul di lokasi tersebut mulai sekitar pukul 16.00 hingga 16.30 WIB. Mereka berharap harga kopi Starling tetap terjangkau agar tetap bisa dinikmati oleh kalangan pelajar.

"Harapannya sih harganya tetap standar saja, jangan sampai naik lagi," harap Abdul.

Ucapan itu menjadi penutup perjalanan saya hari itu. Dalam satu hari, saya bertemu dua wajah berbeda dari dunia kopi keliling. Di satu sisi ada merek besar yang membawa konsep kedai ke pinggir jalan dengan sistem kemitraan.

Di sisi lain, ada Starling konvensional yang bertahan dengan gerobak sederhana, harga yang lebih terjangkau, dan pelanggan setia.

Di tengah gempuran kopi kekinian, keduanya ternyata memiliki ruangnya masing-masing. Bedanya, jika kopi bermerek menjual nama dan pengalaman, starling kaki lima tetap mengandalkan kedekatan dengan pelanggan serta secangkir kopi ditaruh di gelas plastik yang sederhana masih menjadi teman perjalanan banyak orang.

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto