Menuju konten utama

Solusi Galon AMDK: Awasi Distribusi & Limbahnya

Baik galon guna ulang maupun sekali pakai punya risiko kesehatan. Pengawasan distribusi dan pengendalian limbahnya mesti diperkuat.

Solusi Galon AMDK: Awasi Distribusi & Limbahnya
Pekerja memindahkan galon di salah satu depo pengisian air minum dalam kemasan Daan Mogot, Jakarta, Sabtu (7/8/2021). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

tirto.id - Debu menyapu Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, pagi itu. Lalu lintas padat. Muka motor bersirobok dengan pantat kuda besi lain. Suara klakson mobil lamat-lamat terdengar di udara.

Di antara itu semua ada Suhendri yang berjalan sambil mendorong gerobak dagangan sendirian. Pelan tapi mantap, pria usia 31 itu menjaga langkahnya agar tetap stabil.

Suhendri memulai perjalanannya dari daerah Rawa Mekar Jaya, Serpong, menuju kelurahan tetangga, tepatnya di Jalan Suplir, Desa Lengkong Gudang Timur. Tempat itu jadi lokasi favoritnya memarkir gerobak berisi taoge, ketupat, tahu goreng, dan kerupuk sekitar 6 tahun terakhir.

Di gerobak dagangan ketoprak, biasanya ada beberapa botol kaca berisi air untuk “mengikat” semua bumbu. Namun Suhendri justru memilih memakai botol plastik air mineral. Setiap hari dia merebus air mentah kemudian memasukkannya ke botol yang ujungnya sudah dilubangi itu.

“Sekarang botol kaca susah nyarinya. Pakai ini juga lebih murah karena ada di mana-mana,” kata Suhendri kepada Tirto, Minggu (27/11/2022).

Suhendri mengaku paham bahaya botol plastik bagi lingkungan, tetapi tidak tahu ada kerugian jangka panjang jika menggunakannya untuk konsumsi sehari-hari. Yang dia tahu selama ini semua konsumennya baik-baik saja.

Sekitar 10 menit dari tempat Suhendri berjualan, ada Sutahar alias Jusmin yang berjualan gorengan mulai dari pukul 11 siang sampai tengah malam. Sekilas dagangan Jusmin lebih menyerupai pedagang cuanki.

“Saya sudah dari tahun 1990-an jualan di sini,” kata Jusmin asal Indramayu yang tahun ini menginjak usia 48.

Jusmin sama seperti Suhendri. Dia menggunakan galon air sekali pakai yang dipakai berulang kali untuk adonan. “Kalau untuk saya minum itu lain lagi,” kata Jusmin. Untuk konsumsi pribadi Jusmin membawa menggunakan botol minum sendiri.

Dia menggunakan galon air yang semestinya dibuang setelah dipakai itu karena alasan kemudahan. Menurutnya lebih merepotkan kalau pakai galon biasa--jenis polycarbonate (PC). Jusmin tidak tahu bahwa galon itu benar-benar hanya untuk dipakai satu kali.

Seperti Suhendri pula, selama ini dia mengaku tidak ada konsumen yang mengeluh sakit setelah makan dagangannya. “Orang juga malah bilang enak. Teman saya dari Pamulang rela ke sini dulu cuma untuk makan bakwan goreng Pak Jusmin,” ucapnya semringah.

Riset dari William Manuel Son pada 2019 menjelaskan mengapa banyak pedagang keliling yang pakai botol plastik sekali pakai secara berulang. Berdasarkan wawancara sekitar 20 pedagang, dia mengatakan hal itu karena “kurangnya pengetahuan mengenai kode botol plastik 1 PET dan dampaknya tentang kesehatan.”

Kode 1 PET adalah kode untuk botol sekali pakai. Cirinya bening, tipis, dan bakal rusak jika kena panas. Para pedagang yang ia tanya beroperasi di sekitar sekolah dasar di Semarang. Mereka menjual mulai dari cilok, bakso, nasi goreng, cilor, pempek, dan gulali.

Dikatakan bahwa mereka hanya peduli pada aspek keuntungan tanpa mempertimbangkan “kelayakan hasil jual” meski sebagian besar konsumen adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Plastik Bukan Solusi Akhir

Selain soal kesehatan individual, plastik juga terkait erat dengan kesehatan masyarakat secara umum bahkan lingkungan sebab benda ini akhirnya akan menjadi sampah jika tidak dikelola secara tepat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik di Indonesia tahun 2020 lalu mencapai 11,56 juta ton. Setahun kemudian, naik menjadi 11,6 juta ton. Tahun lalu Indonesia berada di peringkat kelima penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia, menurut Meijer.

Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) mencatat pada 2020 lalu limbah kemasan plastik di Jawa saja mencapai 189 ribu ton per bulan atau sekitar 6.300 ton per hari.

Kemasan plastik dibuat oleh banyak produsen untuk menjaga higienitas dan kualitas produk, termasuk mereka yang membuat Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Para produsen memang menggiatkan daur ulang, tapi kemampuan daur ulang di Indonesia hanya 22 ribu ton.

Menurut peneliti asal Inggris Nicola Dreolin dkk dalam “Development and Validation of a LC–MS/MS Method for The Analysis of Bisphenol A in Polyethylene Terephthalate” (2019), ada kandungan BPA cukup tinggi dalam kemasan plastik daur ulang.

BPA (bisphenol A) adalah bahan kimia industri. Ketika berlebihan masuk ke dalam tubuh, dia disebut berperan memicu berbagai penyakit termasuk gangguan kesuburan. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat (AS) menyebut paparan BPA yang aman untuk tubuh adalah 5 miligram per kilogram berat badan.

Oleh karena itu, beberapa produsen AMDK kini mencetak galon sekali pakai, yang berbahan dasar polyethylene (PET) dan bebas BPA.

Perbincangan tentang galon BPA ramai seiring dengan rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merevisi Peraturan BPOM No. 31/2018 tentang Label Pangan Olahan beberapa waktu lalu. Secara garis besar, label peringatan BPA akan diwajibkan.

“Produk kemasan AMDK yang mengandung atau berpotensi mengandung BPA seperti kemasan galon polikarbonat (PC) perlu diberikan label 'Produk Berpotensi Mengandung BPA'," kata Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Rita Endang saat diskusi Urgensi pelabelan BPA pada Produk Air Minum dalam Kemasan untuk Keamanan Konsumen, Sabtu (26/11/2022).

Meski belum ada laporan mengenai dampak buruk air minum dari galon guna ulang terhadap kesehatan konsumen dalam jangka panjang, BPOM menemukan kadar BPA yang melebihi batas aman di galon tersebut, yaitu lebih dari 0,6 bpj (bagian per juta).

Rencana ini diprotes oleh beberapa pihak. Mereka menganggapnya tebang pilih alias diskriminatif. Misalnya Asosiasi di Bidang Pengawasan dan Perlindungan terhadap Para Pengusaha Depot Air Minum (Asdamindo).

“Kami gabung asosiasi selama ini sudah 10 tahun, tidak ada keluhan dan komplain dari para konsumen--bahwa mereka menderita penyakit. Kami kan memakai galon yang sama dengan yang diproduksi kawan-kawan dari industri air minum dalam kemasan,” ujar Sekjen Asdamindo, M Imam Machfudi Noor awal November lalu.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Rita Endang dan Kepala BPOM Penny Lukito belum menjawab ketika dikonfirmasi. Humas BPOM juga tidak merespons soal pertanyaan terkait penggunaan galon sekali pakai.

Pentingnya Edukasi dan Peran Negara

Kemasan plastik berbahan PC dan PET sama-sama berisiko buruk jika terpapar sinar matahari. Itulah yang terjadi sekarang. Galon PC, yang paling banyak dipakai saat ini, dikirim ke konsumen dengan truk terbuka sehingga terpapar sinar matahari berjam-jam.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut sebanyak 204 toko atau 61% responden mengangkut AMDK dengan truk terbuka, sedangkan yang menggunakan truk dengan tutupan terpal hanya 5 toko atau 1%. Sebanyak 81% memakai angkutan roda dua atau roda tiga dan 13% saja yang menggunakan truk atau mobil tertutup.

Paul Westerhoff dan rekannya di Universitas Arizona AS mengatakan air dalam kemasan botol plastik PET tak luput dari perubahan kualitas jika terus terpapar matahari.

Dalam penelitian berjudul “Antimony Leaching from Polyethylene Terephthalate (PET) Plastic Used for Bottled Drinking Water” (2008) mereka menemukan hanya butuh 38 hari untuk membuat senyawa antimoni yang digunakan dalam pembuatan botol plastik berkembang melebihi batasan aman--dan kemudian mengontaminasi air di dalamnya.

Penelitian lain dari China dan Meksiko serupa. Mereka menemukan adanya senyawa merusak--termasuk BPA--dalam botol plastik setela h terkena panas terus-menerus. Tingkatan yang digunakan waktu itu adalah sekitar 65 derajat Celcius-- setara dengan suhu botol air terkena panas matahari di dalam mobil.

Infografik Bisphenol A

Infografik Bisphenol A

James Salzman dalam buku Drinking Water: A History (2012) menukil bahwa pengawasan air minum, di AS misalnya, memang tidak seimbang. Air keran yang aman diminum diawasi pemerintah, sedangkan AMDK dikategorikan sebagai pangan dan diawasi mandiri oleh FDA--semacam BPOM. Pengawasan FDA terhadap AMDK hanya dilakukan mingguan.

Ketika ada produk yang terkontaminasi pun, AMDK hanya membatalkan produk cacat tersebut, sedangkan yang lain dijual seperti biasa tanpa menunggu tes yang lebih komprehensif. Tidak semua negara bagian juga punya aturan terkait AMDK yang memadai.

Di Indonesia, jangankan pemerintah daerah, pusat pun belum punya kebijakan tersebut--seperti misalnya pelabelan BPA. BPOM baru berencana mewajibkan produsen mencantumkan tulisan cara penyimpanan pada label AMDK.

Contoh pelabelan yang dimaksud BPOM antara lain, “Simpan di tempat bersih dan sejuk, hindarkan dari matahari langsung, dan benda-benda berbau tajam” atau “Berpotensi Mengandung BPA” pada label produk AMDK yang menggunakan kemasan plastik PC.

Namun, label “Berpotensi Mengandung BPA” tidak perlu dicantumkan pada produk AMDK dengan hasil analisis BPA tidak terdeteksi atau dengan nilai Limit of Detection (LoD) ≤ 0,01 bpj.

Pakar polimer dan material yang juga profesor di Universitas Indonesia (UI), Mochamad Chalid, menilai kemasan plastik umumnya mengalami peluruhan (leaching). Plastik PC akan melepas monomer BPA (Bisphenol A), sedangkan PET melepaskan EG (Etilen Glikol).

Keduanya merupakan bahan kimia berbahaya jika dikonsumsi secara terus-menerus. Baik BPA maupun EG tidak hanya luruh akibat kenaikan suhu menjadi 60⁰ Celsius. Suhu normal pun bisa memicu proses leaching jika galon atau botol plastik dipakai terlalu lama.

"Dia akan lebih mudah lepas (leaching) jika terjadi dua hal, yaitu suhu tinggi dan penggunaannya panjang atau lama," ujar Chalid. Potensi leaching PC lebih besar jika melihat galon guna ulang selama ini baru didaur ulang setelah 4-5 tahun pemakaian.

Begitu pula dengan PET. Penelitian BPOM menemukan bahwa tipe plastik ini lebih aman, tapi tetap ada potensi leaching. "PET juga sama dengan PC, dia bisa melepaskan EG ataupun Asetaldehida. Namun ada kelebihan dari PET, yaitu pemakaiannya tidak berulang. Kalau hanya sekali, masih bisa terkontrol," katanya

Bagi James, perdebatan soal plastik AMDK tidak akan besar jika negara bisa menjamin ketersediaan air bersih bagi warga. “Pada akhirnya, mungkin air kemasan tetap menyusahkan justru karena melambangkan privatisasi yang begitu mencolok, penciptaan produk yang bisa dipasarkan dari sesuatu yang seharusnya adalah hak kita,” catat James.

Hal yang sama diungkapkan oleh Rolf Halden, peneliti dari Universitas Negara Bagian Arizona, AS. Seharusnya, AMDK adalah produk pelengkap dalam situasi tak biasa, ketika kita berada di luar rumah dan harus mencegah dehidrasi, tak peduli jenis botolnya apa.

“Bagi konsumen biasa, benar-benar tidak ada manfaatnya menggunakan semua botol-botol ini,” kata Halden yang lebih memilih memakai botol guna ulang berbahan logam.

==========

Liputan ini merupakan hasil pelatihan "Zat-Zat Kimia dalam Pangan dan Kemasan: Menguji Pengawasan dan Perlindungan Pemerintah" oleh AJI Jakarta. Tulisan ini diperbarui pada 4 Januari 2022 dengan memasukkan pandangan dari pakar yang otoritatif, guna memastikan terpenuhinya kaidah keberimbangan (proporsionalitas).

Baca juga artikel terkait PLASTIK SEKALI PAKAI atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino