tirto.id - Kepala SMKN 4 Yogyakarta, Nurlatifah Hidayati, memberi klarifikasi terkait sekolahnya yang mengeluhkan program makan bergizi gratis (MBG). Dia menegaskan, SMKN 4 Yogyakarta tetap ingin melanjutkan program MBG yang dicanangkan oleh Prabowo Subianto tersebut.
Nur, sapaan akrabnya, menyebut sekolahnya masih beradaptasi dalam menjalankan program MBG yang mulai menerima sejak Februari 2025.
"Ini program pemerintah dan sudah memiliki aturan sendiri, sekolah ditunjuk ya kami terima," ujar Nur saat diwawancarai di kantornya pada Selasa (6/5/2025).
Dia membenarkan, ada keluhan terkait pelaksanaan MBG di SMKN 4 Yogyakarta. Namun, itu bersifat internal. Misalnya, ada siswa yang menemukan ulat dalam hidangan sayurnya, ada paket makanan yang lauknya terlewat, serta rasa hidangan yang berubah akibat melebihi waktu layak konsumsi.
Keluhan internal ini, juga membahas terkait proses distribusi MBG ke siswa yang memakan waktu sekitar tiga jam. Padahal, semua komponen sekolah telah memiliki tugas dan tanggung jawab.
"Itu lelah banget, tiap hari harus menyelesaikan itu. Padahal, ada tugas pokok yang harus diselesaikan. Butuh waktu sekitar tiga jam, dari ambil, menunggu makan, dan mbaleke," sebutnya.
Namun, Nur menekankan bahwa keluhan internal itu bagian dari dinamika di sekolah.
"Sebetulnya kami sudah diantisipasi. Kelimpungan, hanya karena distribusi sejak pengambilan, pembagian, dan penyerahan kembali," ujarnya.
Dalam upaya menanggulangi masalah itu, Nur tengah menata jadwal piket. Dia akan memberdayakan tenaga di SMKN 4 Yogyakarta sebanyak 20 orang untuk lima hari kerja. Tenaga ini akan dipilih dan diperkirakan mampu mengemban tugas distribusi MBG.
"Kami akan piketkan, satu hari butuh empat. Ini pola yang akan saya terapkan pada minggu depan. Saya akan cari orang yang pekerjaannya [punya waktu kosong saat jam makan siang], seperti keuangan tidak bisa, satpam juga tidak bisa karena mengawasi keamanan," jelasnya.
Terkait dengan paket MBG yang terdapat ulat, Nur membenarkan itu terjadi di sekolahnya. Tapi, kasusnya hanya hitungan jari sejak berjalan pada Februari 2025. Sementara penerima MBG di sekolahnya meliputi kelas 10 dan 11 yang total siswanya 1.258 orang.
"Temuan ulat, itu satu dari sekian banyak, saya anggap tidak heboh," lontarnya.
Nur juga mengaku telah melaporkan temuan tersebut pada pemasok MBG ke SMKN 4 Yogyakarta.
"Sudah saya sampaikan, sekecil apa pun selalu saya sampaikan," tandasnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Suhirman, mengaku telah mengkonfirmasi pelaksanaan MBG di SMKN 4 Yogykarta.
"Kami akan temukan dengan SPPG, supaya hal yang kurang dilengkapi bersama. Supaya MBG di SMK 4 berjalan dengan baik," lontarnya dihubungi wartawan, pada Selasa.
Suhirman membenarkan ada kendala tenaga terhadap pendistribusian MBG. Namun, dia menegaskan itu hanya kendala kecil yang dapat diselesaikan oleh internal SMKN 4 Yogyakarta.
"Yo sakjane ora pateko, cuma beberapa. Karena tiap hari itu. Tapi kami sudah sampaikan ke kepala sekolah supaya dikondisikan agar tetap berjalan MBG," kata dia.
Terkait dengan antisipasi kasus serupa, Suhirman mengatakan, sebaiknya sekolah menyampaikan permasalahan ke dinasnya. Sehingga, dapat dilakukan penyelesaian masalah dengan pihak yang berkaitan langsung.
"Tidak langsung membuat pernyataan yang tidak pas," kata dia.
"Karena sekolah sudah diberikan MBG juga harusnya sekolah mengimbangi pelaksaan ini. Kemanfaatan lebih besar daripada nambah pekerjaan guru. Itu [MBG] manfaatnya lebih besar," tegasnya.
Penulis: Siti Fatimah
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























