Sjafrie Sjamsoedin, Anak Kolong Kawan Prabowo di Lembah Tidar

Mantan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. ANTARA NEWS/Teguh Priyanto
Oleh: Petrik Matanasi - 12 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sjafrie Sjamsoeddin adalah anak tentara yang kariernya cemerlang dan teman seangkatan Prabowo di Akabri.
tirto.id - Nama Sjafrie Sjamsoeddin mulai berkilau sebagai petinggi tentara pada era akhir Orde Baru. Ia juga sempat menduduki jabatan strategis di berbagai periode kepresidenan, dan punya kedekatan historis dengan Prabowo Subianto yang kini jadi calon presiden di Pilpres 2019.

Karier militer Sjafrie bisa dibilang moncer, ia pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto, Pangdam Jaya, hingga jabatan wakil menteri pertahanan di era Presiden SBY. Karier tak terlepas dari garis tentara sang ayah, yang bernama Sjamsoedin Koernia yang merupakan kawan dari toko pejuang Sulawesi Andi Sose.



Sjafrie Sjamsoedin pada 1971 masuk militer. Sjafrie masuk sebagai taruna Akabri Darat di Lembah Tidar Magelang. Sjafrie lulus pada 1974, bersama Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Sjafrie pernah bercerita pada Salim Said, seperti ditulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:236), dari tiga pilihan kariernya di Angkatan Darat, di semua pilihan Sjafrie hanya memilih: Kopassandha. Sjafrie memilih korps baret merah yang kala itu masih bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang belakangan jadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dapat tugas diberbagai daerah tentu hal biasa bagi anggota korps baret merah termasuk Sjafrie. Kala jadi perwira baret merah berpangkat Letnan, Sjafrie ikut “mengamankan” tokoh Islam Aceh, Daud Beureueh, dari Aceh ke Jakarta.

Setelah Sjafrie lama berkarier di Kopassus, Sjafrie dapat tugas sebagai pengaman Presiden Soeharto, yang kala itu adalah mertua daripada Prabowo Subianto. Pada 1995, adalah tahun terakhir Sjafrie sebagai komandan Grup A Paspampres. Ia punya kenangan dengan tugasnya sebagai komandan Paspempres.

Pada tahun itu, Soeharto berkunjung ke Sarajevo, Soeharto tanpa rompi anti-peluru di daerah rawan penembak jitu. Sjafrie juga sempat mengamankan Soeharto saat dihadang oleh aktivis pemuda Fretilin di Kota Dresden, Jerman, pada April 1995.

“Saat itu pengawal resmi Pak Harto hanya tiga orang,” kata Sjafrie dalam buku kumpulan tulisan tentang Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories (2012:78-79).

Sjafrie sempat kewalahan oleh para demonstran di Dresden. Ia mengaku para wartawan banyak membantu menjalankan tugasnya hari itu. Saat insiden itu, para demonstran, kata Sjafrie, “tidak hanya mengacung-acungkan poster, tapi ada yang melempar-lempar telur, melempar kertas dan lainnya.”

Soeharto, menurut Sjafrie berusaha bersikap tenang dalam kejadian itu, tapi ada insiden. Hari itu, Luciano ‘Romano’ Valentim Conceixao salah satu demonstran punya beberapa hal untuk bikin sejarah. Pada wawancara dengan Vice, ia mengklaim sempat memukul kepala bagian belakang Soeharto dengan koran.

Banyak orang di Indonesia pada 1995 yang tidak tahu kejadian itu, kecuali Sjafrie. TVRI, RRI Angkatan Bersenjata tentu mustahil memberitakan kejadian yang memalukan itu. Benar kata Sjafrie wartawan sangat membantu, dan menjaga citra presiden, salah satunya dengan tidak memberitakan kejadian itu. Soeharto tahu Sjafrie sudah mati-matian mengamankannya, Soeharto tidak membuang Sjafrie usai kejadian di Dresden tersebut.

Karier Sjafrie malah makin menanjak. Pangkatnya kemudian naik menjadi Brigadir Jenderal. Sjafrie sempat diparkir sebentar menjadi komandan Korem Surya Kencana, tidak jauh dari Jakarta. Setelahnya ia kembali ke Ibu kota, semula sebagai Kepala Staf Garnisun tetap (Kosgartap) I Jakarta dalam waktu yang singkat.

Ia diangkat jadi Kepala Staf Kodam Jakarta Raya pada 1996 dan tahun berikutnya jadi Panglima Kodam Jaya. Sjafrie bertanggungjawab atas keamanan ibu kota waktu kerusuhan Mei 1998, sekitar lengsernya Soeharto.

Setelah Soeharto lengser, BJ Habibie naik sebagai presiden. Di masa Habibie, karier Sjafrie meredup. Setelah jadi asisten teritorial di bawah Kepala Staf Umum TNI dan setelah diperbantukan ke Panglima TNI, ia pernah menjadi Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI.

Di masa Presiden SBY, Sjafrie pernah dijadikan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan lalu Wakil Menteri Pertahanan. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Jenderal. Dengan bintang tiga di pundak, Sjafrie maka Sjafrie telah melampaui ayahya yang mentok di letnan kolonel. Karier yang pesat ini karena Sjafrie dapat kepercayaan Soeharto.

Menurut Jusuf Wanandi, dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2014:377), Sjafrie bahkan lebih dipercaya Soeharto ketimbang Prabowo, ini karena masalah di dalam perkawinan Prabowo dengan Titiek, anak daripada Soeharto. Setidaknya, Sjafrie “tidak cepat marah.”



Sjafrie bukan satu-satunya anak Sjamsoedin Koernia yang jadi tentara. Ma’roef Sjamsoedin, adik Sjafrie, memang bukan jenderal, tapi berhasil menggapai dua bintang di pundaknya. Ma’roef juga berdinas di pasukan khusus.

Ma’roef tidak berkarier di Angkatan Darat, tapi di Angkatan Udara. Ma’roef—yang lulusan Akabri Udara Yogyakarta 1980—berpangkat terakhir Marsekal Muda dan pernah menjadi komandan skuadron 465 di Komando Pasukan Khas (Paskhas).

Ma’roef sebelum 2016, kurang dikenal luas. Laki-laki yang pernah jadi atase pertahanan di Brasil ini, pernah menjadi Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Setelah di BIN, Ma’roef sempat menduduki kursi Presiden Direktur Freeport Indonesia.

Nama Ma’roef mencuat karena merekam pembicaraan dengan pengusaha minyak Riza Chalid dan Ketua DPR Setya Novanto pada Desember 2015 dan bulan berikutnya, ia mundur dari Freeport Indonesia.

Selain anak-anak Sjamsoedin Koernia, cucunya pun ada yang jadi tentara. Benrieyadin Sjafrie, cucu Sjamsoedin Koernia, yang lulusan Akademi Militer 2002 itu bertugas juga di Korps baret merah seperti ayahnya, dengan pangkat mayor.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
DarkLight