Menuju konten utama
Mozaik

Siti Soendari Darmobroto di Persimpangan Sejarah dan Sastra

Ia nyaris terlupakan. Kisahnya terberai. Tapi, tidak dengan tekadnya, juga jasanya, yang bulat lagi kuat. Tak gentar demi emansipasi, menolak poligami.

Siti Soendari Darmobroto di Persimpangan Sejarah dan Sastra
Header Mozaik Siti Soendari. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada masa pergerakan, terdapat beberapa tokoh perempuan yang bernama Siti Soendari. Masing-masing merujuk pada beberapa individu berbeda, dengan kontribusi penting di bidang pendidikan, politik, dan gerakan perempuan.

Namun, bukan Siti Soendari Sudirman asal Surabaya yang akan dibahas di sini. Bukan pula Siti Soendari adik dokter Soetomo, yang menempuh studi di Leiden. Juga bukan Siti Soendari istri Mohammad Yamin.

Yang akan dikisahkan di sini adalah Siti Soendari "yang keempat", yakni Siti Soendari Darmobroto, tokoh pendidikan dan aktivis yang berpikiran maju, terutama lewat pidato-pidatonya tentang kesetaraan gender, jurnalistik, dan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Nama terakhir, baik subjek maupun kisahnya, kerap tertukar dengan Siti Soendari, adik dokter Soetomo, maupun Siti Soendari Sudirman. Adik dokter Soetomo sering disebut hadir di Kongres Sumpah Pemuda II di Jakarta dan Kongres Perempuan pada 1928.

Padahal, sebetulnya yang hadir di kedua kongres itu adalah Siti Soendari Darmobroto. Sementara itu, Siti Soendari Sudirman hanya hadir di Kongres Perempuan. Sebab itulah nama dua Soendari itu ada dalam daftar hadir.

Dalam sejarah modern Indonesia, Siti Soendari Darmobroto, kerap ditulis Sitti Soendari dan Siti Soendari, berperan ganda di dunia nyata dan fiksi. Ia adalah karakter penting dalam Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, muncul dominan di buku ketiga (Jejak Langkah) dan buku keempat (Rumah Kaca).

Siti Soendari dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer

Dalam Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988), Siti Soendari Darmobroto ditempatkan pada posisi unik. Jika Nyai Ontosoroh mewakili perlawanan yang lahir dari dendam dan pragmatisme kapitalis, Siti Soendari mewakili perlawanan intelektual.

Sosiolog bernama Ignas Kleden, di majalah Tempo terbitan 10 Mei 1999, menulis bahwa Pram menyebutnya sebagai tokoh perempuan paling berhasil. Keberhasilan itu terletak pada penggambaran sebagai perempuan merdeka untuk cita-cita. Berbeda dari Kartini yang akhirnya berkompromi—memutuskan menikah setelah lama bersiteguh tak akan menikah—Siti Soendari berani melawan ketakutan demi mempertahankan prinsip.

“Dengan sopan tetapi teguh dia menampik setiap bujukan ayahnya yang dipaksa oleh Belanda, agar segera menikahkan anaknya,” tutur Ignas. Pram seolah menegaskan, inilah evolusi perempuan Indonesia.

Latar belakangnya dikonstruksi untuk mendukung karakter. Ia anak dari teman sekolah Minke di Pemalang, dibesarkan ayah tunggal setelah ibunya meninggal. Sang ayah pernah menempuh pendidikan dokter Jawa di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), meski tak selesai, lalu bekerja sebagai kepala pegadaian.

Pola asuh ayah terpelajar memberi ruang bagi pemikiran bebas Siti Soendari. Tanpa figur ibu yang menjaga tradisi domestik, ia tumbuh lebih leluasa. Pendidikan formalnya di Hogere Burgerschool (HBS) Semarang menjadi pencapaian langka bagi perempuan pribumi saat itu.

Namun, yang paling menarik adalah metode pengajarannya. Dalam fiksi ini, setelah tamat HBS, Siti Soendari menjadi guru di sekolah dasar berbahasa Belanda di Pacitan.

“Ia tak menggunakan buku wajib, tetapi alam sekitar ia pergunakan sebagai bahan pelajaran. Buku pelajaran wajib ia anjurkan agar dipelajari sendiri di rumah,” tulis Pram, dalam Rumah Kaca (2011: 408).

Mengenalkan muridnya pada alam merupakan langkah konkret mengenalkan konsep tanah air, bukan hal abstrak seperti diajarkan oleh buku-buku kolonial.

Adegan dramatis terjadi ketika pemerintah kolonial berusaha menekan aktivitas politik Siti Soendari. Sebagai propagandis organisasi Insulinde yang menulis artikel tajam dengan nama pena berinisial “SS”, ia dianggap berbahaya. Kolonial percaya radikalisme perempuan bisa diredam lewat pernikahan.

Menurut buku Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer (1997: 263) karya Prof. Dr. A. Teeuw, karakter Siti makin kuat lewat obsesi Jacques Pangemanann, komisaris polisi yang menjadi mata-mata.

Jacques mempelajari tulisan “SS” dengan teliti, sekaligus mengagumi intelektualitas Siti. Ia bahkan berdebat dengan atasannya agar Siti tidak ditangkap hanya karena pandangan politik. Dalam perspektifnya, Siti bukan sekadar ancaman lokal, melainkan bagian dari kebangkitan nasional yang membuat kolonial gentar.

Ayahnya lantas memilih mendukung anaknya, menarik seluruh tabungan dari bank, lalu menghilang bersama Siti dari radar pengawasan. Belakangan diketahui ia berhasil melarikan diri ke Belanda bersama Marco, murid Minke.

Pionir Pers Perempuan dan Advokasi Gender

Meninggalkan ranah fiksi, beberapa sumber faktual menyebut Siti Soendari Ruwiyo Darmobroto lahir pada dekade 1880-an atau 1890-an di Pemalang, Jawa Tengah, dari keluarga yang menghargai pendidikan. Ayahnya, Raden Wirio atau Ngabei Basah Roewio/Ruwiyo Darmobroto, merupakan seorang guru, kepala sekolah, alumni STOVIA (sekolah dokter Jawa) yang tidak tamat, serta pernah menjabat sebagai kepala Pegadaian Negeri di Pemalang.

Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ia dibesarkan oleh ayahnya sebagai orang tua tunggal dengan didikan progresif, memberi kebebasan dan kemerdekaan bagi perempuan.

Pendidikan Siti Soendari sangat maju untuk zamannya. Ia tamat HBS, menguasai bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan bahkan Prancis.

Salah satu kontribusi Siti Soendari, meski sering terlupakan, ialah di dunia jurnalistik. Jauh sebelum menjadi sarjana hukum, ia sudah mengasah pena untuk membela kaumnya. Ia rutin mengirim karya ke Poetri Hindia, surat kabar perempuan bumiputra asuhan Tirto Adhi Soerjo. Pram menyebut namanya di buku Sang Pemula (1985).

“Pada 1913, terbit Wanita Sworo di Brebes, dipimpin R.A Siti Soendari,” tulis Pram.

Siti Soendari juga menulis di media lain, seperti Goentoer Bergerak, Medan Bergerak, dan Doenia Bergerak. Tulisannya kritis terhadap kolonialisme, patriarki, poligami, pernikahan paksa, dan ketidaksetaraan gender.

Setelah Poetri Hindia gulung tikar, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Wanita Sworo (suara perempuan), organ Budi Utomo cabang Pacitan. Ada perdebatan soal tahun terbitnya. Namun, menurut Hajar Nur Setyowati dalam “Wadak Siti Soendari Menaruh Pikiran” di buku Seabad Pers Perempuan:Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa (202:42), pada 1 April 1914, majalah tersebut sudah memasuki tahun ketiga.

Kerja-kerja Siti Soendari bersifat sukarela, tanpa honorarium. Ia bekerja semata-mata demi idealisme agar perempuan bisa bersuara lewat tulisan. Ia bahkan mengeluarkan biaya pribadi untuk mencetak dan menyebarkan ribuan selebaran promosi demi mencari pelanggan baru.

Seturut Alvin Maulidah dan kolega (2024), Wanita Sworo dicetak di Kediri oleh percetakan Boedi Karja, formatnya seperti buku berukuran 12 x 20 cm dengan kualitas cetak kurang baik, sering penuh kesalahan ketik. Beberapa artikel ditulis dalam bahasa Jawa sehingga jangkauannya terbatas pada Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai redaktur, ia menghadapi dilema pasar. Meski ditujukan untuk perempuan, mayoritas pelanggannya justru laki-laki priyayi rendah. Perempuan belum memiliki daya beli atau literasi cukup.

“Rakyat Jawa tidak bisa segera maju jika perempuan Jawa itu tetap tidak tahu apa-apa,” tuturnya, dilansir majalah Belang en Recht edisi 1 Juni 1915.

Ia menerima banyak surat dari pembaca perempuan yang berisi keluhan tentang suami mereka, menyebut laki-laki sebagai tiran dan egois. Namun, ia memilih membakar surat-surat itu. Alasannya jika dimuat, pelanggan laki-laki bisa berhenti berlangganan dan majalah akan mati. Ia tahu kapan harus berkompromi demi menjaga wadah perjuangan tetap hidup.

“Bagaimana mungkin aku muat sumbangan-sumbangan seperti itu dalam Wanita Sworo? Seandainya kumuat juga, majalah itu tidak akan berumur lebih lama dari 3 bulan saja,” tukasnya, dikutip oleh Maria Ulfah Subadio dalam buku Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia: Bunga Rampai Tulisan-tulisan (1983:134).

Meski menyensor surat pembaca, ia tidak menumpulkan pena sendiri. Dalam kolom editorial, ia menyerang patriarki dengan sarkasme tajam. Isu utama yang ia lawan adalah poligami. Kesempatan datang ketika ia diminta memberi pandangan oleh Komisi Kemakmuran. Dari laporan panjang yang ia susun, 17 halaman khusus membahas penghapusan adat beristri banyak.

“'Saya menulis kepada Anda semua dengan pena saya,' kata Siti Sundari, "bukan karena kedengkian, tetapi demi adikku dan untuk mengubah pandanganmu yang menghina kami para wanita. Tidak ada kemajuan yang mungkin bagi kami jika Anda terus melakukannya,” ujarnya, dilansir oleh majalah mingguan Hindia Belanda De Java-Post cetakan 30 April 1915.

Pada Mei 1915, ia pergi ke Belanda untuk belajar menjadi guru. Wanita Sworo masih hidup, tetapi berganti nama menjadi Sekar Setaman. Beberapa narasi menyebut kepergiannya sebagai pelarian mandiri untuk menghindari penangkapan.

Menurut surat kabar Schiedamsche Courant, Siti Soendari adalah wanita Jawa kedua yang mencoba mendapatkan sertifikat mengajar, dan akan ada lebih banyak lagi yang menyusul. Satu-satunya guru Jawa bersertifikat kala itu adalah R. A. Karlinah, putri Pangeran Notodirodjo dari Pakoealaman.

Setahun kemudian, Siti Soendari berpidato di Kongres Pendidikan Kolonial Pertama di Den Haag (Hague), menyuarakan pendidikan dalam bahasa Melayu dan kesetaraan gender. Poligami, menurutnya, dapat memecah sumber daya keluarga, menelantarkan anak-anak, dan menciptakan kerentanan sosial. Ia menggeser isu poligami dari ranah privat ke ranah kebijakan publik.

Sekembalinya ke tanah air, ia mengajar bahasa Belanda di sekolah Boedi Moeljo, Pacitan, dan hadir dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Kongres ini sempat mengalami masalah karena beberapa anggota menolak menggunakan bahasa Melayu. Sebagian ada yang menerimanya, tetapi sulit menggunakannya hingga terpaksa menggunakan bahasa Belanda seperti Siti.

Akan tetapi, dua bulan kemudian, Siti Soendari melakukannya dalam pidato heroik bertajuk “Kewajiban dan Cita-cita Putri Indonesia” di Kongres Perempuan Indonesia, 22-25 Desember 1928.

“Sebelum kami memulai pembicaraan ini, pantaslah rasanya kami jelaskan lebih dahulu mengapa kami tidak memakai bahasa Belanda atau bahasa Jawa. Bukan sekali-kali karena kami hendak merendahkan bahasa ini atau mengurangkan nilainya[...]Bukankah kongres kita kongres Indonesia, diselenggarakan oleh putri Indonesia dan ditujukan bagi seluruh kaum perempuan dan putri Indonesia beserta tanah tumpah darah dan bangsanya,” ujarnya, dikutip oleh Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama:Tinjauan Ulang (2007:179).

Informasi tentang kematian Siti Soendari Darmobroto tidak terdokumentasikan. Biografinya masih terbatas karena sumber primer langka.

Namun, warisannya membuka jalan bagi gerakan perempuan melalui pers. Kehadirannya menegaskan peran politik perempuan, sekaligus menempatkannya dalam arus besar kebangkitan nasional.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin