Menuju konten utama

Siapa Hilmi Pemain yang Tendang Dada di Liga 4 & Apa Sanksinya?

Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan, dipecat dari klub dan disanksi seumur hidup usai menendang dada lawan. Siapa sosoknya?

Siapa Hilmi Pemain yang Tendang Dada di Liga 4 & Apa Sanksinya?
Pemain Putra Jaya Pasuruan, Hilmi Gimnastiar, tendang dada lawan. Youtube/PSSI Jawa Timur

tirto.id - Pesepak bola Muhammad Hilmi Gimnastiar jadi sorotan usai mempertontonkan aksi tidak suportif menendang dada lawan dalam laga Liga 4 Jawa Timur pada Minggu (5/1/2026).

Perilaku tak suportif itu dilakukan pemain Putra Jaya Pasuruan itu ketika menghadapi Perseta 1970 Tulungagung di babak 32 besar grup CC Liga 4 PSSI Jawa Timur.

Dalam laga laga yang terselenggara di Stadion Gelora Bangkalan itu, Hilmi melompat dan menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha, ketika laga memasuki menit ke-71.

Akibat tindakan Hilmi, Firman Nugraha terkapar di lapangan dan harus ditandu keluar untuk dirawat di ambulans. Firman disebut tengah mendapatkan perawatan medis akibat insiden itu.

Muhammad Firman Nugraha sendiri merupakan gelandang amatir yang berseragam Putra Jaya Pasuruan pada musim ini. Ia merupakan pemain muda berusia 20 tahun. Di Putra Jaya Pasuruan, pemain kelahiran 2005 itu mengenakan nomor punggung 23.

Sementara itu, laga antara Perseta 1970 Tulungagung vs Putra Jaya Pasuruan itu berakhir dengan kemenangan 7-2 untuk Perseta.

Sanksi M Hilmi Gimnastiar dari Klub & Komdis PSSI Jatim

Beberapa jam setelah laga Perseta vs Putra Jaya, pihak klub memberikan pengumuman pemberian sanksi kepada Hilmi Gimnastiar pada Minggu (5/1) malam.

Melalui akun instagram resmi mereka, @ps.putrajaya, klub asal Pasuruan itu menjelaskan bahwa mereka telah memecat Hilmi dari skuad.

"Dengan adanya Kejadian ... yang menyebabkan Cideranya Pemain Perseta 1970 maka kamu Memutuskan untuk melakukan Pemberhentian Kerja Kepada Pemain Kami," tulis surat keputusan yang ditandatangani Ketua Harian Putra Jaya, Gaung Andaka Ranggi.

Manajemen Putra Jaya mengungkapkan bahwa Hilmi dianggap telah menyalahi azas fair play ketika menendang dada pemain Perseta.

"Menyalahi koridor aturan sepak bola dengan melakukan tindakan kasar kepada lawan," tulis surat keputusan tersebut.

Tak hanya pemecatan dari klub, aksi tak suportif Hilmi juga membuatnya berhadapan dengan sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Hilmi dilaporkan menjalani sidang disiplin yang digelar Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Timur pada Selasa (6/1). Hasil sidang memutuskan Hilmi dihukum sanksi bermain seumur hidup.

Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Ketua Komdis Asprov PSSI Jawa Timur, Samiadji Makin Rahmat.

"Komdis menjatuhkan hukuman tambahan berupa larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup," kata Makin, dikutip dari Antara.

Menurut Makin, sanksi tersebut dijatuhkan setelah pihaknya menilai bahwa Hilmi telah mengakibatkan luka parah. Oleh Komdis, Hilmi dikategorikan telah melakukan tindakan kekerasan dan pelanggaran berat.

"Perbuatan menendang lawan yang mengakibatkan luka parah merupakan tindakan kekerasan dan pelanggaran berat," katanya.

Sebelumnya, dalam keterangan pra-sidang, Makin sempat menjelaskan bahwa aksi Hilmi yang terekam kamera memang tampak sebagai pelanggaran berat.

"Jika dilihat di video, persepsi saya memang terlihat pelanggaran berat," kata Makin dalam keterangan pra-sidang.

Makin juga menjelaskan bahwa tindakan Hilmi dapat digolongkan sebagai pelanggaran disiplin berat sebagaimana diatur dalam Pasal 48 Kode Disiplin PSSI. Ancaman hukuman bagi pelanggar pasal tersebut bisa mencapai larangan bermain seumur hidup.

Dengan keputusan sanksi larangan bermain sepak bola seumur hidup, Hilmi resmi mendapatkan sanksi disiplin maksimal akibat aksinya menendang dada pemain Perseta 1970 Tulungagung.

Tak hanya larangan bermain, Makin Rahmat juga menjelaskan bahwa Hilmi juga mendapatkan sanksi hukuman denda senilai Rp2,5 juta, sebagaimana diatur dalam Pasal 78 Kode Disiplin PSSI.

Makin menjelaskan bahwa pihaknya kini terbuka apabila Hilmi berniat mengajukan banding atas keputusan yang dikeluarkan pihaknya.

Dalam keterangannya, Makin berharap agar insiden serupa tak terulang lagi di kemudian hari.

"Hukuman itu kami putuskan agar tidak ada pemain lainnya yang meremehkan [aturan] dengan melakukan tindakan yang sama, ini sepak bola bukan bela diri," tuturnya.

Baca juga artikel terkait VIRAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan