Menuju konten utama
Horizon

Senandung Dzikr Ari Malibu

Selain menghidupkan hujan, rindu, dan waktu lewat larik yang puitis, Ari Malibu juga berhadapan dengan doa yang lebih langsung yang jadi pengalaman batin.

Senandung Dzikr Ari Malibu
Header Horizon Ari malibu. tirto.id/Mojo

tirto.id - Bersama Reda Gaudiamo, Ari Malibu memopulerkan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono dan beberapa penyair lain. Duet keduanya terbentuk secara tak sengaja di Yogyakarta saat menyanyikan lagu-lagu balada milik Bee Gees, Simon & Garfunkel, Paul McCartney, dan John Denver.

Warsa 1987, mereka diundang sutradara teater, AGS Arya Dipada, untuk menyanyikan sajak-sajak Sapardi, Toto Sudarto Bachtiar, serta Goenawan Mohamad. Sejak itu, mereka konsisten membawakan lagu-lagu berdasarkan puisi.

Namun perjalanan kreatifnya tidak berhenti pada musikalisasi puisi. Ada satu fase yang barangkali jarang diketahui publik, yakni album religius berjudul Senandung Dzikr. Karya ini membuka sisi lain Ari Malibu yang lebih spiritual, tetapi tetap setia pada kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya.

Dua Sampul, Satu Isi

Senandung Dzikr merupakan album religi yang dirilis oleh Project Q dan Virgo Ramayana Record sekitar tahun 1999-2000 dalam format kaset pita dan VCD. Sampul yang diproduksi Project Q memperlihatkan kejelasan logo di sisinya, dengan desain dominan emas dan ornamen kaligrafi.

Menurut situs kolektor Kasetlalu.id, label Project Q juga memproduksi genre religi Islam lainnya, seperti Indahnya Islam: Dendang Bersama Putra-putri Alif (2001) dalam format VCD dan Ramadhan Senang Takbiran Riang (1994) dalam pita kaset, lengkap dengan harga kaset pada waktu rilisan dan label katalognya.

Sedangkan sampul menggunakan dominasi warna hijau diproduksi Virgo Ramayana Record. Pada bagian depan tertulis Tanpa Instrumen Musik – Nasyid Acapella, yang berarti lagu-lagu dalam album ini dibawakan tanpa alat musik sama sekali, melainkan murni dengan vokal. Kadang suara manusia diolah untuk meniru bunyi instrumen atau beatbox.

Perbedaan tidak berhenti pada label dan desain. Susunan lagu pada side A dan side B di versi Virgo Ramayana Record juga berbeda dari versi Project Q. Materi lagunya pada dasarnya sama, tetapi urutan distribusinya berbeda.

Dalam praktik industri kaset Indonesia era itu, satu master rekaman bisa dilisensikan atau diproduksi ulang oleh label lain, kadang dengan penekanan konsep berbeda, misalnya format sampul, urutan lagu, dan versi lain yang lebih umum sebagai album identitas. Praktik ini lazim di banyak negara dan format.

Perbedaan label juga memberi petunjuk bahwa proyek Senandung Dzikr tidak berhenti pada satu jalur distribusi. Ia tampaknya memiliki jangkauan yang cukup luas hingga diproduksi lebih dari satu perusahaan rekaman.

Ditambah lagi dengan keberadaan format VCD yang tercatat dalam katalog Perpusnas dan beredar di YouTube, album ini terlihat memiliki siklus hidup yang lebih panjang daripada sekadar rilisan kaset pita.

Dari kredit pada sampul kaset, tampak bahwa album ini digarap secara kolektif. Boedi Soesatio tercatat sebagai produser sekaligus pengolah naskah. Pada dekade 1990-an, Boedi dengan Project Q-nya juga tercatat sukses dalam mendesain sampul kaset untuk beberapa artis, seperti Iwan Majid (Pesta Reuni), Nike Ardilla (Seberkas Sinar dan Bintang Kehidupan), dan Slank (Kampungan dan Lagi Sedih).

Agar pengolahan naskah album sempurna, Boedi dibantu kehadiran Dr. Shihab Ismail, dosen linguistik Universitas Al-Mushanafiah Mesir, sebagai konsultan bahasa Arab. Dalam karya berbasis zikir, akurasi bukan hal sepele. Ada proses adaptasi teks. Zikir, salawat, dan doa yang secara tradisional berbahasa Arab diterjemahkan atau ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami pendengar.

Langkah itu selaras dengan keterangan pada sampul yang menyebut upaya menjaga kaidah pengucapan yang benar sekaligus menghadirkan lirik dalam bahasa Indonesia. Kolaborasi mereka memperkuat bahwa proses alih bahasa itu dilakukan dengan perhatian pada makna dan ketepatan istilah, bukan sekadar terjemahan bebas.

“Dalam keterbatasan nada-nada kami berusaha menepati kaidah pengucapan yang benar, serta mencoba men’tafsir’kan ke dalam lirik bahasa Indonesia,” begitu bunyi teks pada halaman depan sampul Senandung Dzikr.

Fondasi mereka kemudian diperkuat oleh kehadiran Ari Malibu, yang tidak hanya tampil sebagai vokalis, tetapi juga tercatat sebagai pengolah nada dan musik, penyusun aransemen vokal, sekaligus gitaris. Peran rangkap ini menunjukkan bahwa ia ikut menentukan arah musikal nasyid tersebut, dari struktur melodi hingga karakter harmoni suara.

Ada pula Yusuf Oeblet dan Agus Sugiyanto yang terlibat dalam pengolahan nada dan musik. Sementara itu, “Keluarga ALIF” dicantumkan sebagai penyenandung, menandakan adanya unsur komunitas dalam proyek ini, sehingga kolaborasi dari berbagai elemen-elemen tersebut memberi warna ritual zikir.

Repetisi sebagai Jalan Batin

Secara musikal, Senandung Dzikr bergerak jauh dari wilayah metafora puisi. Jika dalam tembang-tembang Sapardi, Ari menghidupkan hujan, rindu, dan waktu lewat larik yang puitis, di album ini ia berhadapan dengan kalimat doa yang lebih langsung.

Dari kutipan intro format VCD, sebagian besar isinya dipetik dari khasanah nasyid Nusantara. Judul-judul seperti “Senandung Dzikr”, “Doa untuk Nabi Muhammad”, “Salawat untuk Nabi Muhammad”, “Doa Keselamatan Dunia Akhirat”, hingga “Doa untuk Orang Tua” menunjukkan ketegasannya pada teks religius. Tidak ada metafora rumit. Yang ada adalah pengulangan.

Pengulangan itulah yang menjadi kunci estetik album ini. Zikir bekerja melalui repetisi. Kalimat yang diulang perlahan mengubah fungsi dari sekadar bunyi menjadi pengalaman batin. Ari memahami karakter ini. Ia tidak mencoba membungkus doa dalam aransemen pop yang megah.

Karena mengusung acapella, vokal diposisikan di depan tanpa efek musik berlebihan. Begitu juga intrumen latar vokalnya, kadang bergema, kadang seperti bersahutan, seperti dalam lagu “Salawat Badar”. Pendekatan itu menciptakan ruang hening yang terasa konsisten dengan karakter musikal Ari sejak awal karier.

Pada lagu pembuka “Senandung Dzikr” yang menjadi judul album, pengulangan frasa zikir dengan ritme lambat, repetitif, namun menenangkan. Bagian vokal bergantian antara solo dan harmoni sederhana, diselingi interlud musik pendek. Seperti sedang diajak duduk diam, tarik napas dalam, dan mengulang-ulang zikir sambil meresapi maknanya.

Lagu tersebut ada di urutan awal di bagian A edisi label Project Q dan ada di bagian B untuk label Virgo Ramayana Record. Ari Malibu menulis nada dan liriknya, mengingatkan manusia akan kebesaran Allah.

Lagu lainnya bertajuk “Doa untuk Orang Tua”, juga menyiratkan dominasi vokal yang jernih. Liriknya tentang doa untuk orang tua, minta ampunan, rahmat, dan keberkahan tetap menjadi pusat perhatian, bahkan jika membaca terjemahannya terdengar seperti ungkapan pribadi yang tulus.

Begitu juga pada lagu “Doa Keselamatan Dunia Akhirat” lewat tema universal memohon keselamatan. Dibawakan tanpa tekanan emosional berlebihan, tetap sederhana, dengan dominasi vokal yang jernih dan penuh penghayatan.

Perbedaan paling mencolok antara fase puisi dan fase zikir Ari terletak pada cara teks bekerja. Puisi memberi ruang tafsir yang luas. Satu baris bisa dimaknai berlapis-lapis. “Setiap pembaca dihadirkan ke dalam satu medan pelbagai kemungkinan, dan ia bisa menemukan atau mengarahkan tafsirnya,” tutur Goenawan Mohamad dalam Puisi dan Antipuisi (2011).

Zikir justru mengandalkan kejelasan dan kesederhanaan. Dalam tradisi Islam, zikir umumnya berupa pengulangan lafaz yang jelas dan tetap, seperti tasbih, tahmid, takbir, atau kalimat syahadat. Tujuannya memperdalam kesadaran melalui pengulangan.

Dalam Senandung Dzikr, Ari tidak mencoba mempuitisasi doa. Ia membiarkan apa adanya. Dalam musikalisasi puisi pun, ia cenderung menjaga larik tetap utuh dan tidak memaksakan dramatisasi berlebihan. Justru di situ terlihat konsistensinya sebagai musisi yang tidak memaksakan gaya pada teks.

Pendekatan ini memperlihatkan konsistensi estetiknya. Ia konsisten, tidak tergesa, dan fokus pada kekuatan kata. Seperti dikutip pianis Marusya Naonggolan yang memandangnya sebagai musisi sederhana.

“Ari berkesenian dan dengan seni itu Ari beribadah,” sambung Marusya kepada Kompas, 3 Juni 2018.

Spiritualitas yang Berlanjut

Ari Malibu meninggal dunia pada 14 Juni 2018 di Jakarta setelah beberapa bulan berjuang melawan kanker kerongkongan, pada usia 57 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di malam takbiran, lalu dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Setahun setelah kepergiannya, rekaman terakhir yang sempat digarap lalu dirilis sebagai album Perjalanan (2019). Dari delapan lagu dalam album itu, termasuk lagu “Doa” yang merupakan musikalisasi puisi Todung Mulya Lubis, menjadi penanda terakhir karya kreatif Ari. Lagu itu direkam pada Maret 2018 di Studio Sangkar Emas, Yogyakarta. Dirilis sebagai penghormatan pada dedikasinya selama lebih dari tiga dekade dalam bermusik.

Dalam ingatan banyak pendengar dan rekan musisi, ia dikenang bukan hanya lewat kecakapan gitarnya, tetapi juga melalui cara ia menjembatani kata dan nada. Dari puisi, zikir bersama Keluarga ALIF, Ari Malibu punya satu benang merah dalam perjalanan kreatifnya. Ia selalu kembali pada ruang batin.

Entah melalui metafora hujan atau kalimat permohonan, ia memilih menjaga kesederhanaan agar makna tetap utuh. Di situlah kekuatan suaranya, tidak berisik, tetapi tinggal lama di ingatan.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi