11 Oktober 1945

Sejarah Gedoran Depok dan Kekacauan Orang Indonesia dalam Revolusi

Ilustrasi tugu di Depok untuk memperingati 100 tahun kematian Cornelis Chastelein. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 11 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Orang-orang Depok asli dituduh pro-Belanda dan jadi korban dalam Gedoran Depok. Ada yang dilecehkan, dirampok, ditawan, bahkan dibunuh.
Usia Henny Isakh baru enam pada 1945. Tahun itu bukan tahun kemerdekaan yang membahagiakan baginya. Itu adalah tahun yang mengerikan untuk dirinya, keluarga besarnya, dan orang-orang Depok keturunan budak-budak Cornelis Chastelein lainnya. Mereka dijadikan sasaran kemarahan oleh orang-orang ngawur yang mengatasnamakan revolusi.

Henny Isakh ingat pamannya disembelih dan dia sendiri ditawan bersama golongan anak dan wanita di sebuah desa. “Di bulan Oktober, Depok diserang oleh BKR (Badan Keamanan Rakjat), pasukan keamanan rakyat, atau, kami menyebutnya saat itu: Rampokkers," akunya dalam artikel "Het Drama van Depok" di surat kabar NRC Handelsblad (5/12/1986). ”Kami diusir dari rumah kami, rumahnya dijarah dan dibakar, para pria dikirim ke penjara Bogor dan sekitar seribu perempuan dan anak-anak dikurung di balai kota.”

Henny ingat juga ketika kaum wanita diberitahu bahwa minyak sudah tersedia untuk membakar mereka hidup-hidup. Seorang wanita bernama Leander lalu mengajak yang lainnya berdoa. Beruntung, malamnya tentara Inggris datang membebaskan mereka dan membawa mereka ke sebuah kamp di Bogor.


O.E. Misseyer, seperti dicatat NRC Handelsblad, juga melihat hal yang mengerikan seperti Henny Isakh. Dia melihat orang-orang Indonesia (yang disangkanya BKR) telah membunuh banyak manusia dan membuang mayat mereka ke sungai dan membakar rumah. Misseyer sendiri ditangkap dan diangkut bersama pria Depok lainnya ke Bogor. Mereka digiring massa bersenjatakan tombak dan cambuk.

Koresponden untuk BBC dan Times, Johan Fabricius, mendengar dari para pengungsi asal Depok yang lari ke Jakarta dengan berjalan kaki soal kekejaman di wilayah tersebut. Setelah itu, bersama jurnalis lain, dengan kawalan 30 tentara Inggris asal India, Fabricius akhirnya ke Depok juga. Dia melihat rumah-rumah yang dijarah. Ada yang jendela dan pintunya dikapak, lantainya dibongkar karena disangka ada tersimpan uang, dan barang-barang pribadi yang dirusak. Ketika mereka datang, kondisi Depok sudah sangat sepi. Mereka kemudian tiba di balai kota dan menemukan anak-anak dan wanita yang dikerangkeng.

"Saya melihat sebagian di antara mereka wanita kulit putih, kebanyakan berwarna gelap," tutur Johan Fabricius.

Mereka adalah orang Indo-Eropa dan ada pula yang berdarah Indonesia. Wanita dan anak-anak malang itu, menurut Fabricius, dibawa ke Bogor. Kamp tempat orang-orang bernasib malang itu bernama Kamp Kota Paris. Mereka tinggal di situ selaman enam bulan bersama orang-orang yang dibebaskan dari penjara.


Gambaran kengerian di atas barangkali sukar dipercaya orang-orang Indonesia saat ini. Banyak orang Indonesia alergi pada sumber-sumber dari orang Belanda jika terkait dengan kesalahan pihak Indonesia di masa Revolusi yang dianggap sakral. Kisah orang-orang Depok yang dilanggar kemanusiaannya itu nyaris tidak disebut dalam narasi besar sejarah Indonesia.

”Para pejuang kemerdekaan menganggap orang-orang Depok sebagai pengkhianat,” kata Henny Isakh.

Orang-orang Depok itu adalah golongan yang dianggap satu pihak dengan Belanda pada 1945. Hingga orang-orang ngawur yang mengaku republiken itu menganggap sah jika hidup mereka disengsarakan.

Di masa Revolusi, segala yang dianggap "Belanda" tidak hanya orang-orang berdarah Belanda, tapi juga orang yang bekerja untuk individu/pemerintah Belanda dan mereka yang sehari-hari berbahasa Belanda. Orang-orang Depok keturunan 12 marga bekas budak Chastelein yang menjadi warga Depok pada zaman kolonial memang terbiasa memakai bahasa Belanda. Orang-orang ini kerap disebut 'Belanda Depok'. Di zaman Revolusi, mereka pun jadi korban orang-orang kalut yang tak bisa mengendalikan diri.




Revolusi Sosial yang Kacau

Sejak 7 Oktober 1945, seperti dicatat Wenri Wanhar dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 (2011: 85-86), keluarga orang Belanda atau Indo diisolasi hidupnya dengan tidak dibiarkan membeli bahan kebutuhan pokok. Pada 9 Oktober lima keluarga yang bekerja untuk Belanda pun dirampok segerombolan orang. Esoknya, penjarahan besar-besaran terjadi dengan personel penjarah yang lebih banyak lagi. Tak hanya penjarahan, pembunuhan dan pelecehan seksual terjadi pula.

Tindak kriminal itu, menurut Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam Bayang-bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an (2011: 57), mencapai puncaknya pada 11 Oktober 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu. Orang-orang kemudian lazim menyebut peristiwa ini sebagai 'Gedoran Depok'.

Gedoran Depok terjadi bertepatan dengan dengan sebuah periode yang disebut orang-orang Belanda sebagai 'Masa Bersiap'. Susan Blackburn dalam Jakarta: 400 Tahun (2011: 208) mencatat istilah Masa Bersiap merujuk pada seruan ”bersiap” dari pihak Republik ketika ada tentara Sekutu atau Belanda yang akan melintas. Masa ini adalah masa penuh tindak kekerasan dan kriminal.


Kekacauan dalam Revolusi Indonesia, termasuk dalam Gedoran Depok, sejatinya membuat posisi RI terpuruk. Pertama, RI dianggap tidak becus oleh dunia luar atau setidaknya negara besar macam Inggris karena tidak bisa menjaga ketertiban umum dan tak mampu mengendalikan orang-orang Indonesia bersenjata yang kerap bertindak emosional. Kedua, Republik Indonesia kehilangan simpati dan dukungan dari orang-orang Depok yang jadi korban itu.

Henny Isakh mengaku setelah Gedoran Depok berlalu banyak anak laki-laki orang Depok memilih bergabung dengan tentara Kerajaan Belanda di Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) yang antara 1945-1946 sedang diperkuat kembali. Jika pun mereka tidak bisa balas dendam kepada Republiken ngawur dalam Gedoran Depok, paling tidak mereka bisa melindungi diri lewat seragam hijau dan bedil. Dan memang para serdadu KNIL adalah pihak yang melindungi Henny Isakh dan orang Belanda Depok lainnya hingga 1949.

Setelah itu sebagian orang Depok asli ikut ke Belanda dan sebagian lainnya memilih tetap tinggal di Depok. Toh, Depok adalah tanah leluhur mereka sebagai hadiah dari Cornelis Chastelein setelah dibebaskan dari perbudakan.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight