Menuju konten utama
Mozaik

Sejarah Futsal, Cabor Potensial yang Lahir dari Keterbatasan

Futsal tak ujug-ujug tercipta lantaran bosan main sepak bola. Ia lahir dari keterbatasan, saat lapangan sepak bola tak memadai dan fasilitas tak mendukung.

Sejarah Futsal, Cabor Potensial yang Lahir dari Keterbatasan
Header Mozaik Sejarah Olahraga Futsal. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sabtu malam, 7 Februari 2026, di Indonesia Arena, Jakarta. Stadion dalam-ruangan berkapasitas 16.000 orang tersebut nyaris penuh diisi suporter yang menyaksikan laga puncak final AFC Futsal 2026 antara timnas Indonesia vs Iran.

Pertandingan berjalan ketat. Seluruh pasang mata yang menonton laga malam itu dipaksa melakukan sport jantung, sejak menit awal sampai akhir. Bahkan, tak cukup sampai di situ. Lantaran skor berimbang 5-5 sampai waktu normal dan tambahan usai, laga harus berlanjut hingga adu penalti. Sayangnya, seperti pepatah mendung tak berarti hujan, jantung berdebar tak selalu berarti muncul perasaan, yang terjadi pada suporter tuan rumah pun sama. Hasilnya tak sesuai keinginan; Indonesia kalah dengan skor 4-5.

Tim Garuda memang gagal merebut trofi perdana Piala Asia Futsal. Namun, ada satu hal yang patut disorot: antusiasme penonton. Data AFC memperlihatkan, turnamen Piala Asia Futsal 2026 yang digelar di Indonesia Arena dan Jakarta Velodrome mampu menarik hingga 64.381 penonton, dari total 31 pertandingan.

Dalam kurun 3 dekade terakhir, futsal menjadi salah satu cabang olahraga dalam-ruangan yang menunjukkan perkembangan sangat pesat di dunia. Mengutip laporan UEFA, sampai 2026, setidaknya ada 30 juta orang yang aktif memainkan futsal. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Tak cuma populer, menurut data Proficient Market Insight, futsal menyimpan potensi ekonomi yang besar. Pada 2025 lalu, nilai pasar futsal dunia sudah mencapai angka 545,62 juta dolar AS. Nilainya diprediksi akan menyentuh 1,5 miliar dolar AS pada 2034 mendatang.

Namun, ada fakta yang berkebalikan dari kabar "gramor" soal futsal di atas. Meski sekarang punya potensi tinggi dan perkembangan pesat, nyatanya futsal justru diawali dari kondisi penuh keterbatasan, nyaris seabad silam, ketika cabang olahraga ini dilahirkan.

Final futsal Indonesia melawan Iran

Pemain Timnas futsal Indonesia Dewa Rizki Amanda (kiri) berebut bola dengan pemain Timnas futsal Iran Hossein Tayebibidgoli (kanan) saat pertandingan final AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr

Futsal Lahir dari Keterbatasan

Uruguay, tahun 1930. Seluruh negeri tengah diliputi euforia sepak bola. Timnas berjuluk La Celeste baru saja menjuarai edisi perdana Piala Dunia. Melakoni final di Stadion Centenario, Montevideo, tuan rumah Uruguay menang 4-2 atas Argentina.

Itu adalah periode keemasan bagi timnas Uruguay. Sebelum itu, mereka juga sukses merebut dua medali emas Olimpiade secara beruntun (1924 dan 1928).

Tak pelak, tiga gelar bergengsi itu makin menyulut demam sepak bola di Uruguay. Sepak bola menjelma jadi olahraga kebanggaan negara, dari perdesaan hingga perkotaan, dari kalangan papa hingga kaya.

Namun sayang, antusiasme masyarakat tak berbanding lurus dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Jumlah lapangan sepak bola tergolong minim, terutama di area urban, termasuk di ibu kota Montevideo. Iklim subtropis basah dengan curah hujan relatif tinggi membuat kondisi lapangan di penjuru negeri kian buruk, apalagi tanpa adanya perawatan rutin yang layak.

Dalam kondisi yang sarat keterbatasan inilah muncul sosok Juan Carlos Ceriani, tenaga pengajar di lembaga Kristen YMCAs (Asosiasi Pemuda Kristen) di kota Montevideo.

Ceriani mendapati para siswa kerap kesulitan saat hendak bermain sepak bola. Buruknya kondisi cuaca membuat lapangan tak layak pakai, ditambah minimnya alternatif opsi lapangan yang bagus.

Kondisi itu membuat Juan Carlos Ceriani harus memutar otak. Misinya adalah membuat permainan baru yang bisa dimainkan di dalam gedung olahraga sekolah, tetapi tetap mengandung unsur sepak bola.

Ceriani memanfaatkan semua perlengkapan yang ada di dalam gedung sekolah. Ia menggunakan lapangan bola basket sebagai arena dan meminjam gawang dari permainan bola tangan. Jadilah permainan sepak bola dengan lapangan lebih kecil dan bisa dimainkan di dalam ruangan.

Guru yang lahir pada 9 Maret 1907 tersebut lantas menyempurnakan permainan barunya dengan aturan lebih baku pada 1933. Ia menggabungkan berbagai peraturan yang diambil dari sejumlah olahraga dalam-ruangan yang sudah lebih dulu eksis.

Ukuran lapangan (40x20 meter) dan gawang (3x2 meter) meminjam dari olahraga bola tangan (handball). Jumlah pemain (5x5), durasi (2x20 menit), cara penghitungan waktunya, mengadopsi aturan bola basket. Regulasi soal pergantian pemain menggunakan sistem hoki dan polo air.

Dalam bahasa Spanyol dan Portugis permainan baru itu disebut fútbol sala atau fútbol de salón, secara harfiah berarti sepak bola ruangan atau indoor. Di kemudian hari futbol sala lebih populer dengan sebutan akronim futsal. Akronim tersebut pertama kali dikenalkan oleh jurnalis Brasil, Jose Antonio Inglez, pada 1960-an.

Imbal Balik Futsal untuk Sepak Bola

Meski awal kelahirannya terinspirasi dari sepak bola, pada praktiknya, futsal ternyata turut memberi sumbangsih balik kepada sepak bola.

Futsal dianggap sebagai media yang tepat bagi para pemain sepak bola untuk mengasah kemampuan, terutama saat menghadapi situasi ruang sempit. Sebab, secara teknis, lapangan futsal yang lebih kecil kerap memaksa pemain berpikir lebih cepat saat ditekan lawan.

Dari sisi permainan, operan dalam futsal jauh lebih intens ketimbang sepak bola. Begitu pula dengan jumlah tembakan ke gawang, yang cenderung lebih banyak.

Tak jarang, pemain sepak bola dunia yang berkemampuan olah bola mumpuni mengaku memiliki latar belakang futsal.

Legenda hidup timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, menceritakan bahwa masa kecilnya turut diwarnai permainan futsal. Peraih lima trofi Ballon d’Or itu menegaskan, keterampilannya terbentuk salah satunya berkat futsal.

“Sepanjang masa kecil saya di Portugal, kami semua bermain futsal. Area bermain yang sempit membantu saya meningkatkan kontrol jarak dekat, saat bermain futsal saya merasa bebas. Jika bukan karena futsal, saya tidak akan jadi pemain seperti sekarang,” jelas Cristiano Ronaldo.

Hal senada diungkapkan legenda Argentina, Lionel Messi, juga bintang timnas Brasil, Neymar Jr.

Anggapan bahwa futsal dapat meningkatkan kemampuan pemain sepak bola, dikuatkan oleh tulisan Luca Oppici, peneliti sains olahraga dari Victoria University, Australia, berjudul "Transfer of Skill from Futsal to Football in Youth Players".

Berdasarkan eksperimen pembandingan, kelompok pemain futsal memiliki intensitas teknik lebih baik ketika melakoni tes sepak bola. Mereka juga lebih cepat melepaskan operan pendek, dengan akurasi tetap tinggi.

Akan tetapi, ada satu kelemahan kelompok pemain futsal ketika melakoni tes sepak bola. Hal tersebut terkait gaze behavior alias kemampuan memindai ruang. Di poin ini kelompok pemain sepak bola lebih baik.

Walau begitu, secara umum, berdasarkan kesimpulan studi Luca Oppici, futsal berdampak positif mempertajam teknik, refleks, juga akurasi operan, ketika memainkan sepak bola.

Oleh karenanya, tak jarang para pemandu bakat klub-klub besar sepak bola Eropa turut mengamati pertandingan futsal ketika mereka berburu talenta muda potensial.

Pemain Wolves, Maximilian Kilman, salah satunya, ditemukan oleh pemandu bakat ketika ia tengah bermain futsal.

“Direktur sport Wolves, Matt Hobbs, saat masih bekerja dalam tim pemandu bakat akademi, menemukan Kilman saat ia bermain futsal,” tulis The Guardian.

Ilustrasi pemain sepak bola

Ilustrasi pemain sepak bola. FOTO/iStockphoto

Dominasi Brasil dan Tantangan Menuju Olimpiade

Setelah Juan Carlos Ceriani mencetuskannya pada 1930, permainan futsal menyebar cepat di kontinen Amerika Selatan, terutama wilayah Brasil. Bahkan, Uruguay, yang notabene menjadi tempat kelahiran futsal, justru tenggelam dan kalah dari kedigdayaan negara tetangganya.

Dalam gelaran turnamen futsal pertama (1965), Uruguay tak bisa berbuat banyak. Justru Brasil yang berhasil melaju hingga final, meski akhirnya kalah dari Paraguay.

Ketika Brasil mendominasi kejuaraan futsal Amerika Selatan selama 10 edisi berikutnya sampai 1989, Uruguay mentok hanya di posisi runner-up, itu pun "bergantian" dengan Paraguay.

Di kompetisi Conmebol Futsal Championship 1992 juga sama. Brasil merengkuh juara, Argentina runner-up, sedangkan Uruguay tak mendapat apa pun. Mereka bahkan tak masuk empat besar.

Total, Brasil telah mengoleksi 12 trofi kompetisi tingkat Amerika Selatan serta enam gelar juara Piala Dunia Futsal. Di sisi lain, lemari trofi timnas futsal Uruguay masih kosong. Paling bagus mereka hanya bisa menduduki peringkat dua.

Meski demikian, Uruguay tetap berandil besar melahirkan futsal, sedangkan Brasil berkontribusi menaikkan pamornya.

Selepas resmi di bawah ampuan FIFA mulai 1988, perkembangan futsal menjadi kian masif. Seluruh kontinen memiliki kejuaraan regional mereka masing-masing, dari Asia hingga Oseania.

Meski popularitasnya kian melejit, olahraga futsal ternyata tetap belum bisa menembus Olimpiade.

Dikutip dari Diario AS, ada sejumlah faktor yang membuat futsal belum masuk cabor resmi Olimpiade. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menganggap masuknya futsal bakal menambah kuota atlet secara signifikan. Ini tentu saja akan menambah beban logistik dan infrastruktur.

IOC menjustifikasi kendala tersebut dengan menganggap futsal dan sepak bola sebagai perwakilan yang sama dari federasi FIFA. Oleh karenanya, ketika futsal masuk dalam cabor Youth Olympic 2018, cabor sepak bola konvensional tidak dipertandingkan.

Selain itu, jadwal Piala Dunia Futsal biasanya berbarengan dengan Olimpiade. Hal ini dianggap dapat memecah atensi publik dari sisi komersial.

Terlepas dari itu, FIFA tetap berupaya memperjuangkan futsal masuk jadi salah satu cabor Olimpiade. Niatan tersebut tertuang dalam Strategic Objectives for the Global Game 2023-2027.

Baca juga artikel terkait SEJARAH OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Oryza Aditama

tirto.id - Mozaik
Penulis: Oryza Aditama
Editor: Fadli Nasrudin