Menuju konten utama
Mozaik

Sejarah Cerdas Cermat Berawal dari Barak Militer

Cerdas cermat bermula dari barak militer pada medio abad ke-20 yang digagas Don Reid. Perlombaan ini masuk ke Indonesia awal 1960-an dan ditayangkan TVRI.

Sejarah Cerdas Cermat Berawal dari Barak Militer
Lomba cerdas cermat tahun 80-an. (Facebook/@Mama Cerdas)

tirto.id - Belakangan viral Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. Tim C2 dari SMA Negeri 1 Pontianak menjawab cepat soal mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Jawaban mereka sebenarnya tepat. Namun dewan juri menilai salah hanya karena artikulasinya dianggap terlalu cepat dan tidak jelas terdengar. Bukannya mendapat poin, mereka justru dihukum minus lima.

Pertanyaan yang sama dijawab serupa oleh tim B dari SMA Negeri 1 Sambas, tetapi kali ini juri langsung menganggap benar dan memberi tambahan sepuluh poin. Kontras perlakuan itu terekam jelas dalam siaran langsung YouTube.

"Dewan juri, izin. Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama," ujar salah satu peserta tim C2 memprotes keputusan juri.

Potongan video perdebatan para siswa dengan juri dan pembawa acara menyebar luas, membuat marah warganet. Sekjen MPR RI merilis pernyataan, berjanji evaluasi menyeluruh atas sistem penilaian dan tata kelola lomba. Pimpinan lembaga bahkan membatalkan seluruh hasil kompetisi Kalimantan Barat dan meminta final diulang.

Bermula dari Barak Militer

Format adu cepat menjawab soal ini lahir di barak militer pada pertengahan abad ke-20, saat dunia masih berusaha pulih dari luka Perang Dunia II. Don Reid, orang Kanada yang gemar permainan kata, menciptakan kuis sederhana untuk menghibur prajurit di bawah naungan United Service Organizations (USO). Di tengah dentuman senjata, permainan ini menjadi oase mental, selain soal otot dan peluru, juga ketangkasan ingatan di bawah tekanan.

Pertengahan 1940-an, stasiun radio WFIL di Philadelphia menayangkan Campus Quiz, dipandu Wally Butterworth dan Tom Moorehead, menghadirkan duel antarsekolah menengah di panggung Manor Theater. Hadiah hiburan seperti pemutar musik otomatis membuat acara semakin meriah.

Di Delaware County, Pennsylvania, tahun 1948, sebuah pabrik kertas mendanai Delco Hi-Q, kompetisi antarsekolah yang terus bertahan hingga kini, menjadikannya salah satu kuis akademik tertua yang berjalan tanpa henti.

Ketika dunia memasuki masa damai, Reid bersama rekannya John Moses membawa format kuis ke ranah sipil lewat radio. Pada 10 Oktober 1953, College Quiz Bowl mengudara pertama kali di NBC Radio. Pertandingan perdana mempertemukan Northwestern University melawan Columbia University, dengan Northwestern keluar sebagai pemenang.

Dari sini lahir format baku, di mana tim berisi empat orang, seorang kapten, moderator yang membacakan soal bernilai sepuluh poin, dan sistem bel elektronik yang memastikan hanya peserta tercepat berhak menjawab. Risikonya menekan bel terlalu cepat juga bisa berujung pengurangan poin.

Puncak kejayaan datang ketika radio beralih ke televisi. Pada 4 Januari 1959, College Quiz Bowl bermigrasi ke layar kaca lewat CBS, lalu NBC. Dipandu Allen Ludden dan Robert Earle, acara ini menjadi olahraga otak kampus elite, ditonton jutaan keluarga AS setiap akhir pekan.

Sponsor besar berdatangan. Televisi mengubah cerdas cermat menjadi budaya pop, mengangkat anak muda pintar setara bintang olahraga, membuktikan bahwa kecerdasan bisa jadi tontonan yang memikat sekaligus menguntungkan.

Format Kaku Masa Orde Baru

Magnet kuis edukatif dari Barat akhirnya menyeberang ke Indonesia pada awal 1960-an, tepat ketika televisi pemerintah berdiri dan menjadi satu-satunya sumber hiburan visual nasional. Sosok penting di balik adaptasi format ini adalah Ani Sumadi yang dijuluki Ratu Kuis.

Dalam wawancara dengan majalah Tempo pada 9 Mei 1992, Ani mengisahkan berbekal pengalaman bertugas di luar negeri, ia membawa pulang inspirasi kuis Barat lalu mengolahnya agar sesuai dengan kultur Nusantara. Karya pertamanya adalah Silent Quiz yang dibawakan almarhumah Ratmi B29.

Dari sana pula lahir program Cerdas Cermat dan Cepat Tepat yang memikat penonton. Pada era kejayaan TVRI, acara ini tontonan yang digemari keluarga Indonesia. Cerdas Cermat ditujukan untuk kompetisi tingkat sekolah dasar. Sedangkan Cepat Tepat mempertemukan siswa SMP dan SMA dari berbagai daerah di Indonesia.

Kemudian ada juga Lomba Cerdas Tangkas—tidak masuk acara televisi— yang sama-sama berbentuk kuis pelajar dengan format berbeda.

"Lomba ini bentuknya mirip dengan acara Ragam Pesona yang disiarkan di TVRI dengan pemadu acaranya adalah Koes Hendratmo. Bedanya hanya dalam Lomba Cerdas Tangkas semua dilakukan dalam bahasa Inggris,” dikutip dari Kompas edisi 17 Februari 1988.

Mengutip harian Suara Karya cetakan 3 Oktober 1991, soal-soal yang diujikan dalam lomba itu biasanya seputar pengetahuan Pancasila dan butir-butirnya, UUD 1945, GBHN, dan sebagainya. Modelnya pun serupa, dari pertanyaan bergilir, rebutan, penilaian poin, fokus hafalan dan pengetahuan umum. Panggungnya pun penuh tata krama. Pelajar berseragam rapi duduk tegak di balik mimbar kayu, juri akademisi berjas safari, dan bel siap ditekan.

Dampaknya terasa luas, dari desa terpencil yang menonton bersama di balai desa hingga keluarga urban di kota besar. Model lomba Cerdas Cermat ini menjadi metode belajar aktif di kelas dan lomba wajib tiap perayaan kemerdekaan atau hari pahlawan. Ia melatih kecepatan berpikir, konsentrasi di bawah tekanan, sekaligus menanamkan semangat nasionalisme.

Namun di balik layar, format ini juga menjadi alat politik Orde Baru. Tanpa regulasi penyiaran independen, televisi nasional sepenuhnya dikendalikan Departemen Penerangan. Siaran edukasi dipakai untuk membingkai citra keberhasilan pembangunan.

Arsip Badan Pembinaan Pendidikan dan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (BP-7) daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, misalnya, mencatat Lomba Cerdas Tangkas P4 dan Lomba Cerdas Cermat P4 sebagai bagian dari program pembinaan ideologi negara dalam kurun tahun 1978 hingga 1998.

Seturut Dhianita Kusuma Pertiwi dalam buku Mengenal Orde Baru (2021:77-79), format kuis yang kaku, berorientasi hafalan, dan menuntut jawaban tunggal, perlahan membentuk mentalitas patuh dan seragam. Dialektika kritis nyaris tak punya ruang.

"Namun, jangan dibayangkan penayangan lomba cerdas cermat pada masa Orde Baru di TVRI sama dengan yang baru-baru ini," tulis Dhianita.

Manipulasi ini juga terlihat lewat program Kelompencapir—Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa. Merujuk surat kabar Suara Karya terbitan 16 September 1991, ajang ini dirancang sebagai kompetisi bagi petani dan nelayan. Ia meniru format cerdas cermat pelajar, tapi dengan soal cara bercocok tanam yang baik dan tentang pupuk.

Disiarkan pada jam utama, sering dihadiri Presiden Seoharto, acara ini menampilkan wajah desa yang cerdas dan makmur. Di bawah Menteri Penerangan Harmoko, Kelompencapir menjadi bagian penting mesin komunikasi politik Orde Baru. Lewat panggung ini, negara menyusupkan ideologi pembangunan, membungkam kritik kegagalan pertanian, dan menanam narasi stabilitas ke ruang gembira masyarakat desa.

Kejadian menarik pernah terjadi di pengujung 1985. Acara Cerdas Cermat dan Cepat Tepat di TVRI dimanfaatkan para pengundi nasib di tengah maraknya judi buntut di Pontianak, Kalimantan Barat. Omset perputarannya bisa mencapai ratusan juta rupiah, dikelola oleh sekitar 100 bandar tingkat tiga, 50 bandar tingkat dua, dan 5 bandar utama.

Seturut laporan majalah Tempo pada 28 September 1985, nomor judi ditentukan dari penjumlahan nilai yang diraih peserta dalam acara tersebut, menghasilkan angka antara 00–99. Pemenang bisa mendapat bayaran 60 kali lipat dari uang taruhan.

"Misalnya jika Regu A meraih nilai 1.100, regu B 750, dan regu C 950, angka masing-masing dijumlah, jadi A = 2, B = 12, dan C = 14. Dilakukan penjumlahan lagi antara A dan B serta B dan C. Yang disebut nomor buntut adalah penggabungan bilangan satuan dari hasil penjumlahan A dari B serta B dan C itu," tulis Tempo.

Kepala Polsek Sungai Raya, Capa Martin, sampai dipraperadilankan karena menangkap dua perempuan terduga bandar judi tanpa prosedur yang benar. Keduanya akhirnya dibebaskan karena kurangnya bukti.

"Mereka tak mau dijadikan saksi, sebab bandarnya kawan dekat sendiri," tutur Kapolres Pontianak kala itu, Letkol Guntur Sumastopo.

Judi ini sulit dilacak polisi karena transaksi dilakukan secara lisan tanpa bukti tertulis. Para cukong dari Pontianak bahkan pernah mencoba menyuap pegawai TVRI Jakarta untuk merekam acara atau membocorkan hasil nilai peserta, namun ditolak.

Varian Adu Ketangkasan Modern

Runtuhnya Orde Baru dan lahirnya era Reformasi di akhir 1990-an mengubah wajah penyiaran Indonesia secara drastis. Televisi pemerintah yang dulu memonopoli layar perlahan kehilangan hegemoni, digantikan oleh stasiun swasta yang tumbuh cepat dengan strategi komersial.

Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) resmi menjadi stasiun televisi swasta pertama yang mengudara pada 24 Agustus 1989 yang 9 bulan sebelumnya melakukan siaran uji coba.

Penonton memiliki banyak pilihan acara, termasuk format cerdas cermat yang ikut bergeser menjadi kuis interaktif. Dari tayangan kaku penuh beban moral kenegaraan menjadi hiburan pop yang lebih cair, dibalut musik, hingga tata cahaya studio demi mengejar rating.

Pesertanya pun bisa perorangan atau beregu dengan tambahan bintang tamu terkenal. Kadang melibatkan peserta lainnya dengan metode survei. Bahkan acara kuis pun bisa dibuat interaksi jarak jauh seperti Kuis Jari-Jari yang dibawakan almarhum Pepeng pada awal 1990-an.

Meski begitu, spirit awalnya tetap ada instrumen pendidikan dan wawasan kebangsaan dengan sisipan hiburan.

Figur seperti Helmy Yahya kemudian menjadi tokoh penting perkembangan kuis televisi modern Indonesia. Menariknya, Helmy pernah menjadi juara Cepat Tepat TVRI Palembang pada akhir 1970-an.

Bersama Ani Sumadi Production, ia cukup populer sebagai tim kreatif dan pembawa acara pada acara kuis Aksara Bermakna (1989-1997), Tak Tik Boom (1992), Sang Juara (1995-1996), dan sebagainya. Kakak Helmy, Tantowy Yahya, juga cukup terkenal membawakan kuis ketangkasan seperti Who Wants to Be a Millionaire? yang tayang di RCTI dekade 2000-an.

Kuis-kuis lain yang cukup membekas, misalnya Kuis Dangdut (1994-2006), Family 100 (1995-1999), Kuis Siap Berani? (2000-2005), hingga Arisan (2023-sekarang) yang dibawakan Surya Insomnia. Pada pertangahan 2000-an, terdapat juga uji ketangkasan model cerdas cermat seperti Olimpiade Indonesia Cerdas yang dibawakan Nirina Jubir untuk kategori kuis pelajar tingkat SMA.

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI kemarin memang berbeda dengan kuis komersial televisi swasta yang sekadar menguji pengetahuan populer. Yang penting, seperti saran Ani Sumadi, para penyelenggara lomba ketangkasan itu, "Jangan membuat kuis yang konyol-konyolan."

Baca juga artikel terkait CERDAS CERMAT atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi