tirto.id - Terpaut jarak ribuan kilometer tak menghalangi niat Min JR (30) untuk membantu para pengemudi ojek daring (ojol) di Indonesia. Pria asal Kuala Lumpur, Malaysia, itu tergerak untuk membelikan makanan dan minuman bagi para pengemudi ojol yang ada di Jakarta setelah mengetahui bahwa pekerjaan mereka terdampak oleh aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan.
Berdasarkan sebuah unggahan yang dia lihat di media sosial, Min JR tahu bahwa para pengemudi ojol mengalami penurunan pesanan sepanjang aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu.
Tak tega menyaksikan kondisi itu, Min JR rela merogoh kocek hingga Rp7-8 juta untuk memberikan bantuan konsumsi kepada para pengemudi ojol. Dia berharap bantuan itu dapat meringankan beban para pengemudi ojol sekaligus menyampaikan pesan bahwa mereka tetap diperhatikan dan dihargai di tengah masa-masa sulit seperti ini.
“Secara keseluruhan, saya telah menghabiskan sekitar Rp7-8 juta untuk makanan dan minuman bagi mereka. Itu bukan proyek yang besar atau rumit, tetapi merupakan cara yang sangat langsung dan personal untuk menunjukkan dukungan,” kata Min JR saat dihubungi Tirto pada Rabu (3/9/2025).
Min JR mengatakan mengetahui kabar mengenai aksi demonstrasi besar di Indonesia melalui video pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan yang tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis (28/8/2025).
Saat melihat video itu, Min JR sungguh merasa pilu. Menurutnya, insiden itu menunjukkan betapa rapuhnya kondisi para pengemudi ojol di Indonesia. Sudahlah tertekan secara ekonomi, mereka juga masih harus menghadapi berbagai risiko selama berada di jalan raya, terutama pada masa-masa krisis seperti saat ini.
“Hal itu membuat saya semakin bertekad untuk menunjukkan dukungan apa pun yang saya bisa karena perjuangan mereka sangat nyata dan pantas mendapatkan lebih banyak pengakuan,” sebutnya.
Alhasil, pada beberapa hari lalu, Min JR mengunduh aplikasi Grab Indonesia. Dia berniat untuk mengirimkan konsumsi kepada para pengemudi ojol di Indonesia dari jarak jauh.
Setelah melakukan sejumlah penyesuaian pengaturan di perangkat pribadinya, Min JR berhasil memesan makanan dan minuman dari aplikasi itu. Saat para pengemudi ojol mengambil pesanan, Min JR lantas mengatakan kepada mereka agar makanan dan minuman itu tidak usah diantar, melainkan disantap sendiri atau bersama-sama dengan kerabat saja.
“Saya memesan makanan sederhana seperti nasi uduk dalam jumlah besar karena mengenyangkan, familiar, dan terjangkau. Pesanan kemudian diantar langsung ke para pengemudi, yang tidak menyangka merekalah yang akan menerima, alih-alih mengantarnya,” ucap Min JR.
Bagi Min JR, kebaikan terhadap sesama manusia tidak mengenal batas-batas negara. Sebagai sesama manusia, dia merasa memiliki rasa takut sekaligus harapan yang sama dengan para pengemudi ojol di Indonesia.
Terlebih pada masa-masa sulit seperti ini, kepedulian dan empati menjadi hal utama yang harus ditebarkan kepada sesama manusia.
Min berharap para pengemudi ojol tetap kuat dan tegar dalam menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari. Dia juga menekankan bahwa kerja keras mereka akan selalu dihargai, bahkan oleh orang-orang dari luar Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia pada umumnya, Min JR berpesan agar mereka tetap melanjutkan hidup tanpa diselimuti rasa takut.
Dia berharap empati yang ditunjukkan masyarakat dari luar Indonesia dapat menginspirasi persatuan dan rasa kasih sayang.
“Ketika seseorang menderita, empati tidak membutuhkan paspor. Saya tidak melihat ini sebagai ‘masalah Indonesia’ atau ‘keprihatinan Malaysia’, tetapi saya melihatnya sebagai situasi kemanusiaan,” ujarnya.
Kemudian, ajakan memberikan bantuan kepada para pengemudi ojol di Indonesia meluas di media sosial, terutama di platform X. Salah satu pengguna yang cukup vokal menyuarakan ajakan itu adalah Yammi dengan akun X bernama @sighyam.
Pada Sabtu (30/8/2025) lalu, Yammi menyampaikan temuannya bahwa masyarakat di negara-negara Asia Tenggara ternyata bisa mengirimkan barang kepada para pengemudi ojol yang berada di Indonesia.
Guys I just found out that you can support indonesian grab riders who are still out on the streets because grab allows you to make deliveries in other SE Asian countries?? OKAYYYY
— yammi (@sighyam) August 30, 2025
Yammi juga memberikan panduan bagi warganet di Asia Tenggara yang hendak mengirimkan bantuan kepada para pengemudi ojol di Indonesia. Dia mengarahkan para warganet untuk mengubah lokasi negara mereka di aplikasi menjadi Indonesia, kemudian memilih salah satu hotel yang ada di Jakarta Pusat untuk dijadikan destinasi pengiriman.
Saat memesan makanan atau minuman, warganet bisa melampirkan keterangan bagi para pengemudi yang mengambil pesanan itu untuk membagikannya kepada pengemudi-pengemudi lainnya yang ditemukan di jalan.
Selanjutnya, Yammi turut menyarankan warganet di Asia Tenggara untuk memesan makanan yang mudah untuk didistribusikan. Dia juga mengimbau para warganet untuk tidak memilih destinasi pengantaran yang dekat dengan pos polisi. Selain mengajak warganet memberikan bantuan makanan dan minuman, Yammi juga mengarahkan mereka untuk memberikan bantuan berupa obat-obatan.
Saat artikel ini ditulis, cuitan Yammi itu telah mendapatkan lebih dari 150 ribu likes. Warganet dari berbagai negara di Asia Tenggara pun menjalankan instruksi Yammi tersebut. Di kolom balasan, ada warganet dari Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, hingga Singapura yang melaporkan pemberian bantuan mereka kepada para pengemudi ojol di Indonesia.
“Mengirimkan banyak botol air minum kepada para pengemudi Grab di Indonesia dari Filipina. Tetap terhidrasi,” tulis salah seorang pengguna dengan akun bernama @neuroAnjiolina di platform media sosial X pada Senin (1/9/2025).
Sent many water bottles to Indonesian grab drivers from 🇵🇭 stay hydrated. https://t.co/rzlBhLI1r5pic.twitter.com/OgaJPyekDx
— Anjiólina Nakaya (@neuroAnjiolina) August 31, 2025
Milk Tea Alliance
Bantuan kolektif untuk pengemudi ojol Indonesia itu bukanlah solidaritas transnasional warga Asia Tenggara yang pertama. Gerakan kolektif yang terbangun secara organik—terutama lewat media sosial—semacam itu pernah muncul pada awal 2020 dalam wujud Milk Tea Alliance (MTA)
MTA menyuarakan narasi prodemokrasi. Gerakan itu dipantik oleh protes prodemokrasi yang terjadi di Hong Kong, Thailand, hingga Myanmar.
Yu Leng Khor (2024) dalam studinya yang diterbitkan dalam bunga rampai The Palgrave Handbook of Political Norms in Southeast Asia (2024) menuliskan bahwa gerakan MTA menargetkan demografi lintas etnis dan lebih inklusif. Gerakan itu disebutnya telah sangat sukses meningkatkan keterlibatan pemuda Asia dalam isu-isu politik yang serius.
Sejarawan Amerika Serikat, Jeffrey Wasserstrom, dalam wawancaranya dengan The Diplomat mengatakan bahwa MTA digerakkan oleh pemuda-pemuda Asia Timur dan Asia Tenggara. Nama gerakan MTA mulai digunakan pada 2020. Momentumnya terjadi saat seorang nasionalis di Cina mengkritik seorang selebritas Thailand atas aktivitas media sosialnya yang bertentangan dengan beberapa kebijakan resmi dari Cina, seperti memperlakukan Taiwan sebagai "negara" alih-alih bagian dari Republik Rakyat Cina (RRC).
Banyak warganet asal Cina yang mendesak selebritas Thailand itu untuk meminta maaf atas dugaan menyakiti perasaan seluruh rakyat Cina. Bahkan, warganet Cina mengancam akan melarang berbagai acaranya yang digelar di sana.
Menanggapi perundungan itu, warganet yang mendukung selebritas itu justru membuat garis pembeda antara Cina dan tempat asal mereka. Mereka menyoroti fakta bahwa Hong Kong, Taiwan, dan Thailand semuanya memiliki minuman teh ikonik yang mengandung susu. Dari situlah nama “Milk Tea” hadir.
Berawal dari kasus itu, gerakan MTA kemudian menyebar di berbagai negara di Asia—khususnya Asia Tenggara. Ia kemudian juga berubah menjadi simbol perlawanan dan perjuangan prodemokrasi. Jeffrey mengatakan bahwa gerakan itu tidak didasari oleh satu ideologi tertentu, melainkan hanya disatukan oleh kesadaran antipenindasan yang dijadikan konsensus bersama.
“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana hal ini menangkap rasa kebersamaan masyarakat di dua wilayah yang sering dianggap berdekatan tetapi terpisah secara budaya dan bahasa, [bisa] bekerja sama, saling memengaruhi, mengekspresikan solidaritas untuk perjuangan individu dan kolektif mereka,” kata Jeffrey kepada The Diplomat, Juni 2025 lalu, dikutip pada Rabu (3/8/2025).

Tak Mengenal Batas Negara
Gerakan MTA maupun bantuan warganet Asia Tenggara kepada para pengemudi ojol di Indonesia menjadi bukti bahwa perjuangan kolektif masyarakat tidak terhalang oleh batas-batas negara. Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Shofwan Al Banna Choiruzzad, mengatakan bahwa kedekatan geografis negara-negara di Asia Tenggara membuat masyarakatnya mampu menjalin interaksi dalam waktu yang panjang.
Menurut Shofwan, setelah pembentukan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), interaksi antarmasyarakat di Asia Tenggara menjadi makin intens. Lewat pembentukan identitas kolektif dan juga berbagai kebijakan yang memudahkan pergerakan masyarakat di lingkup Asia Tenggara, ASEAN terbukti mampu mengakselerasi interaksi tersebut.
“Kebijakan bebas visa, misalnya, membuat penduduk ASEAN bisa berkunjung ke negara ASEAN lainnya dengan lebih mudah. Transaksi melalui QR juga contoh yang lain,” kata Shofwan saat dihubungi Tirto, Rabu (3/9/2025).
Dengan makin masifnya penggunaan teknologi digital, termasuk media sosial, interaksi antarmasyarakat Asia Tenggara menjadi semakin menyeluruh. Menurut Shofwan, media sosial juga mengubah pola interaksi antarmasyarakat ASEAN menjadi makin inklusif dan tanpa hierarki.
Dalam konteks politik dan pergerakan, para pengguna media sosial—terutama generasi muda—juga sering kali menyuarakan isu-isu politis yang cenderung serius dengan cara yang lebih santai dan tidak kaku.
“Generasi yang lahir di era digital terbiasa berkomunikasi secara setara karena di dunia digital hierarki tidak terlihat nyata. Hal ini membuat batas antara ‘yang serius’ dan ‘yang santai’ menjadi lebih kabur,” ucapnya.
Karakter kampanye gerakan di era media sosial juga disebut Shofwan lebih bersifat organik dan tanpa adanya koordinasi hierarkis. Sehingga, pada era media sosial ini mungkin akan lebih sulit untuk melembagakan gerakan kolektif masyarakat menjadi sesuatu yang rigid dan terstruktur.
“Upaya melembagakan dalam bentuk organisasi yang rigid mungkin sulit, tetapi sebagai payung gerakan kita pernah melihatnya di berbagai kasus, seperti Black Lives Matter dan Milk Tea Alliance,” ungkap Shofwan.

Gerakan Kolektif Menyebar Secara Organik
Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia, Wildan Faisol, menilai gerakan kolektif warganet Asia Tenggara membantu pengemudi ojol di Indonesia bisa terbentuk karena adanya kesadaran bersama akan peningkatan jumlah tenaga kerja lepas atau gig worker, seperti pengemudi ojol, di negara mereka masing-masing.
Peningkatan jumlah gig worker itu disebut Wildan bukan hanya dipandang sebagai peningkatan secara statistik semata. Secara nyata, kehidupan masyarakat juga menjadi terbantu dengan kehadiran mereka.
Namun, masyarakat juga sudah tersadar bahwa para pengemudi ojol masih mendapatkan upah yang tidak sepadan. Hal itulah yang memantik masyarakat dari berbagai negara untuk bersolidaritas terhadap para pengemudi ojol di Indonesia.
“Dengan semakin banyaknya gig worker di negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara, fakta akan kerentanan kualitas kerja gig worker terhadap akuntabilitas pemerintahan suatu negara dapat sama-sama menjadi trigger kesadaran politik secara kolektif di masyarakat negara-negara Asia Tenggara,” ujar Wildan kepada Tirto, Rabu (3/9/2025).
Menurut Wildan, terkhusus masyarakat dari Filipina dan Thailand, faktor memori politik juga turut berperan penting menggerakkan mereka memberi bantuan kepada para pengemudi ojol di Indonesia. Sebab, masyarakat dua negara itu pernah mengalami turbulensi politik seperti Indonesia dan karenanya cukup lekat dengan gerakan aktivisme politik.
Wildan menjelaskan bahwa tren gerakan aktivisme transnasional melalui media sosial di Asia Tenggara memang makin meningkat dewasa ini. Tren itu diamplifikasi oleh kelompok masyarakat yang lebih muda, seperti generasi Z.
Menurutnya, kecenderungan pola gerakan itu biasanya kurang terorganisir dan kurang hierarkis, tidak seperti pola gerakan generasi sebelumnya yang lebih terstruktur dan lekat dengan hierarki atau komando di dalamnya. Dia mencontohkan pola itu terlihat pada gerakan MTA.
“Generasi muda terkesan tidak menikmati aktivitas berkumpul yang terlalu terorganisir dan hierarkis atau yang terlalu terstruktur dan terlembagakan. Justru, Milk Tea Alliance menjadi simbol gerakan politik besar yang tidak mengedepankan struktur atau lembaga, yang tidak hierarkis, yang dikedepankan justru trigger situasi politik yang sama dan goal nilai politik yang sama pula,” tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id




























