Menuju konten utama

Saham BCA Anjlok ke Level Rp6.875, Analis: Koreksi Jangka Pendek

Turunnya harga saham emiten milik Hartono dipicu kombinasi sentimen global dan dinamika pasar domestik.

Saham BCA Anjlok ke Level Rp6.875, Analis: Koreksi Jangka Pendek
Ilustrasi modus penipuan situs web palsu. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terperosok ke level Rp6.875 per lembar pada perdagangan Senin (9/3/2026). Meski mengalami tekanan jual akibat volatilitas global, analis menilai koreksi ini merupakan dinamika jangka pendek di tengah fundamental perseroan yang tetap solid menjelang pembagian dividen.

Analis sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai turunnya harga saham emiten milik Hartono itu dipicu oleh kombinasi sentimen global dan dinamika pasar domestik. Dia bilang pelemahan 125 poin atau 1,79 persen BBCA saat tutup perdagangan, bukan akibat memburuknya fundamental emiten perbankan terbesar di Tanah Air itu.

Ia melihat pelemahan saham berkode BBCA ini tidak terlepas dari tingginya volatilitas pasar global. Meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan arah arus modal global mendorong investor asing melakukan aksi jual di pasar emerging market, termasuk Indonesia.

"Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung bersikap lebih hati-hati terhadap aset berisiko di emerging markets. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA yang sebelumnya menjadi tujuan utama investasi asing justru mengalami tekanan jual cukup signifikan karena menjadi sumber likuiditas bagi investor global ketika melakukan penyesuaian portofolio," ujar Hendra kepada Tirto, Senin.

Selain faktor eksternal, koreksi harga juga dipicu aksi ambil untung atau profit taking. Setelah mengalami penguatan panjang selama beberapa bulan terakhir dengan valuasi premium. Pelaku pasar mulai melakukan rotasi sektor dan menunggu momentum entry di level yang lebih menarik.

"Kondisi ini membuat tekanan jual meningkat, sementara minat beli cenderung menunggu pada level harga yang lebih menarik. Pergerakan saham BBCA masuk dalam fase konsolidasi bahkan cenderung membentuk tren penurunan jangka pendek," tambah Hendra.

Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan membahas penggunaan laba tahun buku 2025, ekspektasi dividen jumbo dari BBCA disebut menjadi salah satu faktor yang mampu menahan laju penurunan lebih dalam.

Menurutnya, pasar memperkirakan emiten bersandi BBCA ini akan membagikan dividen dengan rasio pembayaran (payout ratio) yang tinggi, seiring solidnya fundamental perseroan.

"Harapan terhadap dividen ini sebenarnya menjadi salah satu faktor yang berpotensi menahan penurunan harga lebih dalam. Banyak investor jangka panjang melihat saham BBCA sebagai instrumen investasi dengan kombinasi pertumbuhan dan dividen yang konsisten," ucapnya.

Secara teknikal, sambungnya, pergerakan saham BBCA masih berada dalam fase downtrend jangka pendek. Dengan tekanan jual yang masih dominan, harga saham berpotensi menguji area support penting di sekitar level Rp6.375.

"Level ini menjadi area teknikal yang cukup krusial. Jika mampu bertahan, saham BBCA berpeluang memasuki fase konsolidasi sebelum kembali mencoba rebound. Namun apabila level tersebut ditembus, ruang koreksi masih terbuka seiring kondisi pasar yang masih dipengaruhi faktor eksternal," imbuhnya.

Meski menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek, Hendra menekankan bahwa fundamental BBCA tetap solid. Profitabilitas tinggi, permodalan yang kuat, serta pertumbuhan kredit berkelanjutan menjadikan bank ini tetap atraktif untuk jangka menengah hingga panjang.

"Penurunan harga saham saat ini lebih mencerminkan penyesuaian valuasi dan sentimen pasar jangka pendek, bukan mencerminkan pelemahan kinerja perusahaan. Jika stabilitas pasar global mulai membaik dan arus dana asing kembali masuk ke pasar domestik, saham BBCA berpotensi kembali menjadi salah satu penggerak utama indeks saham Indonesia," tuturnya.

Baca juga artikel terkait SAHAM BANK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah