Menuju konten utama

Rupiah Melemah ke Rp18.115, IHSG Dibuka Menguat Hari Ini

Rupiah melemah ke Rp18.115 per dolar AS dipicu konflik Timur Tengah. Sementara itu, IHSG dibuka menguat didukung sentimen positif peringkat S&P.

Rupiah Melemah ke Rp18.115, IHSG Dibuka Menguat Hari Ini
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi, rupiah dibuka melemah 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp18.115 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.109 per dolar AS.

Pelemahan rupiah pagi ini melanjutkan tren yang terjadi pada Senin (13/7), ketika rupiah ditutup turun 44 poin atau 0,24 persen dari posisi Rp18.065 menjadi Rp18.109 per dolar AS.

Selain itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah, dari Rp18.069 menjadi Rp18.131 per dolar AS, yang mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap mata uang domestik di pasar valuta asing.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi pada Senin (13/7/2026), menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone).

Menurutnya, Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas milik AS di sejumlah negara kawasan Teluk dan mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz.

Penutupan selat tersebut kemudian memunculkan kembali kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global, yang dapat mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.

Situasi tersebut juga menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlangsungan perjanjian sementara antara AS dan Iran yang baru ditandatangani pada bulan sebelumnya.

Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi langkah awal menuju penyelesaian konflik melalui masa negosiasi selama 60 hari.

Namun, kembali memanasnya hubungan kedua negara membuat pelaku pasar meragukan efektivitas perjanjian tersebut, sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, faktor eksternal dari kebijakan moneter AS juga turut membebani pergerakan rupiah.

IHSG Dibuka Menguat Hari Ini 14 Juli

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi dengan dibuka naik 19,92 poin atau 0,33 persen ke level 6.057,76.

Kinerja positif juga tercermin pada kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45, yang menguat 0,74 poin atau 0,12 persen ke posisi 603,11.

Penguatan tersebut melanjutkan reli yang terjadi pada penutupan perdagangan Senin (13/7), ketika IHSG ditutup melonjak 113,48 poin atau 1,92 persen ke level 6.037,84, sedangkan Indeks LQ45 naik 13,12 poin atau 2,23 persen menjadi 602,37.

Kelompok saham dengan kenaikan harga tertinggi (top gainers) dipimpin oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang menguat 5,06 persen. Posisi berikutnya ditempati PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 2,89 persen. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga tercatat menguat 2,76 persen.

Di sisi lain, saham-saham dengan pelemahan terbesar (top losers) di indeks LQ45 dipimpin oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang turun 1,91 persen. Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 1,88 persen, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 1,71 persen.

Sentimen utama yang mendorong kenaikan IHSG berasal dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level "BBB" untuk jangka panjang dan "A-2" untuk jangka pendek, dengan prospek (outlook) tetap "Stabil".

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra