tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.414 pada perdagangan hari ini, Senin (11/5/2026). Rupiah terdepresiasi 32 poin atau 0,18 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.382.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah hari ini masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian Washington tidak dapat diterima. Pernyataan tersebut dinilai mengurangi harapan pasar terhadap meredanya konflik di kawasan Teluk dalam waktu dekat.
Menurut Ibrahim, proposal AS mencakup penghentian pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan stok uranium yang diperkaya tinggi, serta pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Sebaliknya, Iran meminta pencabutan sanksi, penghentian kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan hak untuk tetap menjalankan sebagian aktivitas nuklir.
"Iran juga mengusulkan pengurangan sebagian uranium dan memindahkan sisanya ke negara ketiga," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin.
Ia menambahkan, pelaku pasar saat ini juga menanti sejumlah data ekonomi penting AS, seperti inflasi April melalui rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP), data penjualan ritel, hingga pidato pejabat Federal Reserve.
"Data-data tersebut akan menjadi perhatian utama pasar karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS," ujarnya.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menyebut sentimen domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya, survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada April 2026 yang menunjukkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat sebesar 129,6, sedikit turun dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 130,4.
Meski IEK turun, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih berada di zona optimistis. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik tipis menjadi 123,0 dari sebelumnya 122,9 pada Maret 2026. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) meningkat menjadi 116,5 dari 115,4.
"Level indeks di atas 100 mencerminkan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi," kata Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































