tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.104 pada perdagangan hari ini, Jumat (10/4/2026). Rupiah turun sebesar 14 poin atau 0,08 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal melemahnya rupiah, survei konsumen yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini masih kuat pada Maret 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 115,4, masih berada pada level optimistis atau di atas 100, meski sedikit lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 115,9.
Kata Ibrahim, bank sentral menyatakan, tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini terutama ditopang oleh peningkatan indeks penghasilan saat ini (IPSI) yang naik menjadi 129,2, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 125,0.
"Sementara itu, dua komponen lainnya masih berada di zona optimistis meskipun mengalami penurunan. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja [IKLK] tercatat 107,8, turun dari 110,7 pada bulan sebelumnya," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Jumat (10/4/2026).
"Adapun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau Durable Goods [IPDG] berada di level 109,2, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 112,0," lanjut dia.
Kemudian, Ibrahim berujar, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027.
Kondisi itu disebut terbebani oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan. Lingkungan global dinilai menjadi penuh tantangan dan ketidakpastian.
Kata Ibrahim, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia justru meningkat menjadi 5,2 perse pada 2026 dan 2027 atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 5,1 persen. Kondisi berbeda bisa terjadi, jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan memburuk.
Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, ketegangan mereda atas gencatan senjata dua minggu yang rapuh antara AS dan Iran. Sementara, Israel memberi sinyal potensi pembukaan diplomatik dengan mengatakan siap untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon sesegera mungkin.
"Lalu lintas kapal melalui selat tersebut berada jauh di bawah 10 persen dari volume normal pada hari Kamis meskipun ada gencatan senjata karena Teheran menegaskan kendalinya dengan memperingatkan kapal untuk tetap berada di perairan teritorialnya saat melakukan hal tersebut," urai Ibrahim.
Menurut dia, Iran dan AS sepakat gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan. Namun, pertempuran masih terjadi setelah pengumuman tersebut. Para analis mengatakan Pakistan akan mencoba mendorong kesepakatan perdamaian yang lebih langgeng.
"Tetapi mungkin kekurangan pengaruh yang dibutuhkan untuk memaksa pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut," ucapnya.
Selain itu, Ibrahim menuturkan, Iran ingin mengenakan biaya untuk kapal yang melewati selat tersebut berdasarkan kesepakatan perdamaian. Para pemimpin negara barat dan Badan Pelayaran PBB telah menolak gagasan tersebut.
Ibrahim mengatakan, jalur penting untuk aliran minyak dan gas ini telah ditutup secara efektif oleh konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Sekitar 50 aset infrastruktur di Teluk disebut telah rusak akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam minggu sejak konflik dimulai.
Sementara itu, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan minyak telah dinonaktifkan. Pasar kini disebut menunggu data inflasi konsumen AS yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan Federal Reserve.
"Ekonom memperkirakan CPI utama akan meningkat karena lonjakan harga energi di tengah konflik Timur Tengah," tutur Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































