Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah, Dolar Rp16.958 di Akhir Pekan

Kian terbatasnya ruang fiskal akibat beban bunga utang dinilai turut bebani rupiah hari ini.

Rupiah Ditutup Melemah, Dolar Rp16.958 di Akhir Pekan
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.958 pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 65 poin atau 0,38 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.893.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.

Dari sisi domestik, pasar menyoroti meningkatnya beban pembayaran bunga utang pemerintah yang dinilai membatasi ruang fiskal untuk mendorong ekonomi melalui percepatan belanja negara. Berdasarkan estimasi dari skema defisit anggaran yang dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang disebut telah mencapai Rp99,8 triliun pada Februari 2026.

"Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8 persen, jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu," ucapnya dalam keterangan yang diterima, Jumat (13/3/2026).

Menurut Ibrahim, risiko pembengkakan bunga utang juga meningkat seiring kebijakan tukar guling utang (debt switch) antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52 persen. Sementara itu, yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,09 persen.

Secara akumulatif sejak awal tahun (year to date/YtD), yield SBN telah meningkat 55 basis poin (bps). Kenaikan tersebut berpotensi menambah beban pembayaran bunga utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kendati demikian, pemerintah masih optimis dengan mengelola utang, baik dari sisi portofolio maupun penerbitan tahunan [annual issuance], dengan sangat hati-hati untuk memastikan risiko tetap terjaga, termasuk dari sisi pengelolaan rasio pembayaran bunga utang [interest ratio] dan Debt Service Ratio [DSR]," tuturnya.

"Contoh konkrit, penerimaan pajak yang mampu tumbuh hingga 30,4 persen pada Februari 2026 akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang maupun DSR," lanjut dia.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. Harga energi melonjak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur perairan sempit tersebut merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Menurut Ibrahim, penutupan selat itu berpotensi memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa lonjakan harga minyak dapat memicu guncangan inflasi global.

"Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar 100 dolar AS per barel," ucap Ibrahim.

"Bank sentral, seperti Federal Reserve, mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat," lanjut dia.

Ia menambahkan, biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS. Selain konflik Iran, investor juga mencermati perkembangan data inflasi AS yang dirilis pekan ini.

Menurut Ibrahim, indeks harga konsumen menunjukkan inflasi pada Februari 2026 relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipicu konflik AS-Israel dengan Iran.

"Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi untuk bulan Januari, yang akan dirilis akhir pekan ini, diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk tentang inflasi AS," tuturnya.

"Yang terpenting, angka tersebut adalah ukuran inflasi pilihan The Fed, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi suku bunga jangka panjang," imbuh Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana