tirto.id - Setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi undang-undang, pemerintah mulai menyiapkan tahap implementasi. Salah satu agenda awal yang disiapkan adalah pembentukan skema permodalan bagi Lembaga Pengelola (LP) PFII.
Skema permodalan itu akan melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Chief Executive Officer (CEO) Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengatakan penyertaan modal awal akan dilakukan secara bertahap dengan melalui mekanisme tata kelola internal.
"Ya, kita kan akan ada tahapannya. Nanti kita juga ada masuk ke investment committee, dan yang lain-lainnya. Jadi akan ada tahapannya," ujar Rosan di Kompleks Parlemen, Selasa (21/7/2026).
Ketentuan mengenai modal awal LP PFII diatur dalam Pasal 5 ayat (2) UU PFII. Aturan tersebut menyebutkan bahwa sumber pendanaan dapat berasal dari Danantara dan/atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Adapun modal awal itu dapat berbentuk dana tunai, barang milik negara, barang milik badan usaha milik negara (BUMN), maupun aset lain yang diakui secara sah.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menggandeng mitra internasional untuk merancang pengembangan PFII. Rosan mengatakan pemerintah telah berdiskusi dengan Dubai International Financial Centre (DIFC) dan Abu Dhabi Global Market (ADGM), dua pusat keuangan internasional yang dinilai berhasil membangun ekosistem jasa keuangan global.
Bahkan, Rosan mengungkapkan bahwa salah satu konsultan yang digandeng dalam penggarapan pusat keuangan internasional di Indonesia ini adalah tim dari DIFC.
"Semuanya kita bicara, saya kira konsultannya juga dari DIFC. Bukan dari DIFC ya, dari timnya DIFC. Ini juga dengan mantan CEO-nya DIFC," jelas Rosan.
Menurut Rosan, pelibatan tim yang pernah membangun DIFC dimaksudkan agar desain kelembagaan dan model bisnis PFII mengacu pada praktik terbaik yang telah terbukti berhasil di tingkat internasional.
"Jadi untuk memastikan bahwa ini benar-benar sesuai dengan bisnis-bisnis praktis yang ada, yang sudah berhasil. Contohnya di Dubai itu," tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































