tirto.id - Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, menilai wajar apabila pemerintah menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membantu pembangunan pondok pesantren yang mengalami kerusakan bahkan ambruk. Salah satunya seperti kejadian yang menimpa pondok pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur.
Terlebih, Ma’ruf menilai pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa.
“Layak lah kalau pemerintah sekarang mengambil, memperhatikan itu, dan di situ anak bangsa yang harus diperhatikan, yang lagi belajar,” kata Ma’ruf saat ditemui di kantor Kemenag, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2025).
Ma’ruf mengatakan keberadaan pesantren juga sudah diatur dalam undang-undang yang memberikan tiga fungsi utama pesantren. Di antaranya sebagai pusat pendidikan, pusat dakwah, dan pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Nah, udah ada undang-undangnya kan pasti seharusnya ada. Ada APBN-nya, bahkan sekarang sudah dibentuk Dirjen Pesantren. Jadi mestinya ada APBN-nya. Di situ ada anak bangsa yang harus disantuni oleh pemerintah,” jelas Ma’ruf.
“Maka itu saya kira harus dikasih anggaran juga. Itu bagian daripada kewajiban,” katanya.
Lebih lanjut, Ma’ruf juga meminta agar peristiwa ambruknya pesantren yang terjadi tidak digeneralisasi seolah semua pesantren tidak layak secara konstruksi. Padahal, menurutnya banyak juga jenis bangunan lain yang mengalami keambrukan.
“Padahal jembatan ambruk banyak, gedung-gedung ambruk juga banyak. Gedung-gedung ada hotel ambruk, jembatan ambruk, SD ambruk, itu kan banyak. Jadi jangan dieksploitir,“ katanyq.
Ma’ruf menilai langkah pemerintah yang kini mulai melakukan pemeriksaan dan memberikan bantuan pembangunan merupakan respons positif agar ke depan pesantren lebih aman dan layak huni bagi para santri.
“Ya memang harus begitu, jadi supaya aman pemerintah harus. Karena di situ banyak anak bangsa, di pesantren itu banyak anak bangsa yang harus menjadi perhatian pemerintah. Ada pesantren yang santrinya 15 ribu, ada yang 20 ribu. Kalau Lirboyo itu 40 ribu lebih,” katanya.
“Jadi itu anak bangsa di situ banyak itu. Dan mereka para ulama mendidik tapa pamrih dan dari dulu beratusan tahun seperti itu,” tambah Ma’ruf.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























