Menuju konten utama

Raffi Ahmad Ingatkan CPNS KemenP2MI Agar Bijak Bermedsos

Raffi Ahmad mengajak para CPNS KemenP2MI berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Dia juga menekankan pentingnya etika saat bertugas.

Raffi Ahmad Ingatkan CPNS KemenP2MI Agar Bijak Bermedsos
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding, Wamen P2MI Christina Aryani dan Dzulfikar Ahmad Tawalla, serta Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, dalam acara penutupan orientasi dan penyerahan Surat Keputusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), Senin (30/6/2025). FOTO/dok.KemenP2MI

tirto.id - Utusan Khusus Presiden bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mengingatkan para calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) untuk berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Menurut Raffi, di era digital saat ini, jejak digital bisa berdampak panjang terhadap citra dan reputasi seseorang, termasuk aparatur sipil negara (ASN).

“Hati-hati. Dulu ada pepatah ‘mulutmu harimaumu’. Sekarang, ‘jarimu jerujimu’. Jadi harus hati-hati, harus lebih peka. Gunakan media sosial untuk memberi manfaat bagi orang banyak,” ujar Raffi saat memberikan arahan kepada 301 CPNS baru KemenP2MI, Senin (30/6/2025).

Raffi menuturkan, dari pengalamannya di dunia hiburan, ia memilih tidak meladeni komentar negatif di media sosial. Ia menilai, membalas komentar justru hanya memperpanjang polemik yang tidak perlu.

“Didiemin aja. Saya cuma baca komen, lalu jadikan refleksi diri. Nggak perlu tersulut dan ikut-ikutan membalas,” ujarnya.

Menurut Raffi, meladeni komentar negatif di dunia maya ibarat “berantem dengan angin”, karena lawannya tak terlihat dan tidak akan pernah selesai.

“Kalau kita berantem di sosial media, omong-omongan, itu sama saja kita berantem dengan angin. Pukul-pukulan juga nggak terasa. Kalau ada hoaks, klarifikasi saja dengan baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Raffi menekankan pentingnya sikap dan etika atau adab bagi para CPNS dalam menjalankan tugas mereka sebagai pelayan publik.

“Ilmu pendidikan itu penting, tapi yang paling penting adalah ilmu kehidupan. Adab itu nomor satu. Harus sopan dengan senior dan orang yang lebih tua,” tegasnya.

Menteri P2MI: CPNS Bukan Raja Kecil, tapi Pelayan Rakyat

Senada, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa ASN adalah pelayan masyarakat, bukan pihak yang harus dilayani.

“PNS itu bukan raja kecil, bukan penguasa baru. PNS itu pelayan. Kita semua digaji oleh negara dari keringat rakyat,” kata Karding dalam sambutannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya integritas dan kesiapan CPNS untuk mengabdi di mana pun mereka ditempatkan. Apalagi, tugas utama ASN KemenP2MI berkaitan erat dengan pelayanan bagi para pekerja migran Indonesia.

“Orang yang kita layani adalah mereka yang meninggalkan anak, orang tua, bahkan mempertaruhkan hidupnya demi ekonomi keluarga. Mereka sedang berjihad mempertahankan hidup. Kalau kita main-main dalam bekerja, maka kita sedang berbuat zalim,” tegasnya.

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani, juga menekankan pentingnya integritas bagi seluruh CPNS KemenP2MI.

Menurut Christina, CPNS yang akan ditempatkan di kantor pusat maupun di Badan Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), harus menjadi aparatur yang tangguh dan bersih dari praktik korupsi.

“Yang pertama harus menjaga integritas, karena akan banyak tantangan yang mereka temui. Tentunya siap menjalankan tugas dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Tak hanya itu, ia juga mengingatkan agar para CPNS lebih bijak bersikap di media sosial, mengingat mereka adalah generasi muda yang sangat aktif di platform digital.

“Kadang ada yang suka meluapkan kekesalan dan komentar secara terbuka, yang bisa jadi bumerang. Jadi harus benar-benar bijak saat bermain medsos,” tuturnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis