tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bercerita soal resistensi dari anak buahnya atas kebijakan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah ke sistem perbankan.
Ia menuturkan, ide tersebut sempat dikritik oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Astera Primanto Bhakti.
Alasannya, pemindahan dana dari rekening kas umum negara (RKUN) di Bank Indonesia tersebut bisa membuat imbal hasil yang diterima pemerintah menjadi lebih rendah.
"Sebenarnya dia protes,jangan Pak, jangan Pak, bunganya jangan turun. Dia jadi rugi. Tapi akhirnya setelah dirayu-rayu mau juga," ungkap Purbaya dalam Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Kemenkeu, Selasa (10/3/2026).
Meski demikian, Purbaya tak mempermasalahkan sikap anak buahnya tersebut. Sebab, pandangan tersebut merupakan bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan.
"Yang penting itu ketika Anda diskusi dengan atasan,keluarkan semua yang ada yang mengerti.Sehingga atasan bisa mengambil keputusan dengan tepat. Tapi kalau diputusin, ya sudah, ikutin," jelasnya.
Kini, menurut Purbaya, Astera Primanto menjadi salah satu pejabat yang turut menyalamatkan perekonomian dengan memindahkan SAL Rp200 triliun ke sistem perbankan.
"Kalau misalnya pindah ke BI, udah bisa sekarang.Udah jaga ya?Nggak ada yang ngerti betul sebagian kebijakan yang mempengaruhi kondisi moneter.
Dan dia berperan besar sekali tahun lalu ketika kita menjaga limitasi sistem perekonomiandengan memindahkan uangnya yang ada 200 triliun dari BI ke sistem perbankan."D
ia berperan besar sekali tahun lalu ketika kita menjaga limitasi sistem perekonomian dengan memindahkan uangnya yang ada Rp200 triliun dari BI ke sistem perbankan," jelas Purbaya.Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































