tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengakui bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum menghitung potensi dampak peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green. Padahal, peralihan tersebut berpotensi menambah beban subsidi anggaran negara.
Terlebih, muncul ajakan di sosial media untuk beralih menggunakan BBM bersubsidi berjenis Pertalite imbas kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mencapai 32,1 persen ke Rp16.250 per liter.
Meski demikian, Purbaya mengamini bahwa secara logika pasti akan ada sebagian konsumen yang pindah. Namun, ia meyakini tidak semua pengguna Pertamax akan melakukan peralihan.
"Kita enggak hitung, tapi begini, pasti ada berapa persen yang pindah, cuma kan seharusnya enggak semuanya pindah. Kenapa? Karena kan yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Kamis (11/6/2026).
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai perkiraan persentase konsumen yang berpotensi pindah, apalagi mengingat beberapa pengguna sudah mulai memantau melalui aplikasi MyPertamina, Purbaya mengaku belum melakukan perhitungan.
"Kita belum hitung. Mungkin ditanya Pak Bahlil yang mengerti itu," tuturnya.
Purbaya pun menekankan kembali bahwa hingga saat ini belum ada angka pasti terkait dampak peralihan tersebut terhadap anggaran subsidi.
"Belum, belum," jawab Purbaya singkat.
Pemerintah resmi menaikkan harga BBM RON 92 atau Pertamax serta BBM RON 95 atau Pertamax Green, Rabu (10/6/2026). Pertamina, lewat Pertamina Patra Niaga, menyatakan kenaikan BBM RON 92 dan 95 karena harga keekonomian sudah mencapai sekitar Rp20 ribu-Rp21 ribu per liter, sedangkan di beberapa negara lain bahkan bisa lebih tinggi jika dikonversi ke rupiah.
Di sisi lain, konflik geopolitik sejak awal 2026 turut mendorong kenaikan harga minyak dunia sehingga membuat formula harga BBM di Indonesia ikut naik, di mana batas atas harga Pertamax yang dihitung berdasarkan Harga Indeks Pasar (HIP) dan kurs naik signifikan dari sekitar Rp12.397 per liter pada Maret menjadi Rp18.745 pada April, lalu terus meningkat hingga sekitar Rp20.942 per liter pada Juni 2026.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” beber VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, dikutip Antara (10/6/2026).
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































