tirto.id - Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara, Helmud Hontong kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah viral posting dari Save Sangihe Island (SSI).
Publik kemudian mengenang sosok Helmud yang menolak izin usaha pertambangan di kepulauan tersebut. Siapa Helmud Hontong dan bagaimana kronologi ia meninggal dunia?
Sosok Helmud Hontong & Kronologi Ia Meninggal Dunia
Helmud tutup usia pada 9 Juni 2021 saat berada di pesawat dalam penerbangan Denpasar-Ujungpandang.
Helmud menumpang pesawat dengan nomor penerbangan JT740 menempati seat 25E ditemani Harmen Kontu selaku ajudan yang duduk di seat 25F.
Pukul 16.17 saat di bandara Hasanudin Makasar, dokter dan perawat segera naik ke pesawat untuk mengecek kondisi Helmud yang sudah tidak sadarkan diri.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menyatakan Helmud Hontong telah meninggal dunia.
Tim Forensik Polda Sumatera Utara mengungkap hasil autopsi terhadap jenazah Helmud yang dinyatakan meninggal karena penyakit menahun.
Polisi menyebutkan tidak ada temuan racun pada saat autopsi dan tidak ada tanda-tanda luka pada jasad korban. Hasil autopsi menyebut kematian terjadi karena komplikasi penyakit menahun.
Kematian Wabup Kepulauan Sangihe kala itu sempat menjadi perhatian publik, mengingat almarhum dikenal sebagai tokoh yang tegas menolak tambang emas di wilayahnya.
Profil Helmud Hontong
Helmud Hontong, meninggal pada usia 59 tahun, adalah seorang politikus Indonesia dan Wakil Bupati Kepulauan Sangihe sejak 2017 mendampingi Bupati Jabes Gaghana.
Sebelum jadi bupati, ia menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe selama dua periode sebagai anggota yang memperoleh suara terbanyak sejak 2009 sampai 2017.
Ia dikenal cukup vokal dan menentang rencana pengembangan tambang emas di kabupaten.
Helmud mengeluarkan surat resmi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mencabut izin perusahaan pertambangan pada 21 April 2021.
Helmud lahir dan besar di Sangihe tepatnya di Pulau Mahengetang pada 9 November 1962. Ia menghabiskan sebagian besar masa kecil dan pendidikannya di Kota Tahuna.
Ia menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1982 dan kemudian melanjutkan pendidikannya hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi di Manado tahun 2004.
Ia mulai tertarik pada politik ketika ia direkrut sebagai penata rambut untuk istri seorang politikus dan anggota parlemen provinsi di Manado, yang juga mendorongnya untuk mengikuti pemilihan legislatif.
Ia terpilih pada tahun 2009 sebagai wakil di parlemen Pulau Sangihe dari Partai Golkar dan terpilih kembali pada tahun 2014 untuk masa jabatan kedua hingga kemudian maju jadi wakil bupati.
Dia meninggal saat bepergian bersama ajudannya dalam penerbangan Lion Air transit Denpasar ke Makassar dalam perjalanannya ke Manado.
Setelah lepas landas, dia tiba-tiba batuk dan mulai berdarah dari mulut dan hidungnya. Saat pesawat tiba di Makassar, ia dinyatakan meninggal oleh tim medis di bandara.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































