tirto.id - Polrestabes Surabaya membongkar jaringan scamming internasional yang melibatkan puluhan WNA asal Cina, Taiwan, dan Jepang di Surabaya.
Kasus tersebut terungkap setelah Polrestabes Surabaya menerima laporan dari staf Konsulat Jepang di Surabaya terkait dugaan penculikan warga mereka yang disekap di Kota Pahlawan.
“Kasus ini bermula dari laporan yang diterima Polrestabes Surabaya dari staf Konsulat Jepang di Surabaya. Mereka menyampaikan adanya informasi mengenai warga negara Jepang yang diduga diculik dan disekap di wilayah Surabaya,” kata Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan, dalam konferensi pers, Jumat (8/5/2026).
Menindaklanjuti laporan tersebut, kepolisian melakukan penyelidikan dan menemukan lokasi pertama di Jalan Dharmahusada Permai VII Blok N-318, Surabaya. Di rumah kontrakan tersebut, polisi menemukan dua warga negara Jepang yang menjadi korban penyekapan, Yuria Kikuchi dan Shikaura Midori.
Namun, temuan di lokasi tidak berhenti di situ. Polisi juga mendapati sejumlah perangkat yang diduga digunakan untuk praktik penipuan online atau scamming internasional.
“Selain dua korban, petugas turut mengamankan tiga warga negara Cina, empat warga negara Jepang lainnya, dan dua warga negara Indonesia. Seluruhnya kemudian diperiksa lebih lanjut,” tambahnya.
Dari hasil pemeriksaan diketahui rumah tersebut disewa sejak dua tahun lalu oleh seorang warga negara Indonesia berinisial E. Polisi kemudian memburu E dan berhasil menangkapnya di Surabaya.
Dari hasil interogasi terhadap E, polisi memperoleh informasi mengenai lokasi kedua di Jalan Embong Kenongo Nomor 24 Surabaya. Saat didatangi, lokasi sudah kosong. Namun, berdasarkan pengakuan tersangka, tempat tersebut sebelumnya digunakan sebagai pusat operasi scamming yang melibatkan 32 warga negara Cina.
“Setelah mengetahui adanya penggerebekan di lokasi pertama, para pelaku langsung berpencar dan berpindah ke enam hotel di Surabaya,” terangnya.
Polisi kemudian melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan enam warga negara Jepang di salah satu hotel bersama sejumlah warga negara Cina. Pengembangan kasus membawa petugas ke kawasan Kaza Mall Surabaya. Di lokasi itu polisi mengamankan 17 warga negara Cina, dan dua warga negara Taiwan.
Tak berhenti di sana, penyelidikan kembali berkembang hingga ditemukan dugaan lokasi ketiga di Jalan Raya Darmo Permai I Nomor 79 Surabaya. Meski lokasi sudah kosong, polisi berhasil mengidentifikasi salah satu pengelolanya, yakni warga negara Cina berinisial J.
“J ditangkap di rest area Bawen, Semarang bersama enam warga negara Cina lainnya,” ujarnya.
Penyelidikan lanjutan mengungkap adanya anggota jaringan lain berinisial X yang diduga beroperasi di Solo namun masih terhubung dengan jaringan Surabaya. Saat polisi tiba di Solo, para pelaku telah melarikan diri. Di lokasi hanya ditemukan 24 koper yang ditinggalkan.
Polisi kemudian melacak keberadaan para pelaku hingga ke Bali. Di Pulau Dewata, petugas kembali mengamankan lima warga negara Taiwan, dan enam warga negara Cina.
“Sampai saat ini total warga negara asing yang diamankan dan ditahan sebanyak 44 orang,” katanya.
Dalam praktiknya, jaringan ini menggunakan modus intimidasi terhadap korban di luar negeri. Pelaku menyiapkan ruangan kedap suara yang dibuat menyerupai kantor polisi lengkap dengan atribut kepolisian, foto daftar pencarian orang (DPO), hingga penggunaan seragam polisi.
Korban kemudian dihubungi dan dituduh terlibat kasus pencucian uang, narkoba, maupun tindak pidana lain. Dengan tekanan psikologis tersebut, korban dipaksa mentransfer sejumlah uang. Sejauh ini polisi telah mengidentifikasi salah satu korban dengan kerugian mencapai Rp834.745.450.
“Tujuannya untuk menakut-nakuti korban agar menyerahkan uang,” ungkap Luthfie.
Dua warga negara Jepang yang berhasil diselamatkan ternyata awalnya dijanjikan traveling gratis Vietnam-Kamboja oleh seseorang melalui aplikasi Threads dan E-signal dengan akun Kurokawa. Pelaku menunjukkan tiket pulang-pergi yang diduga fiktif. Pada kenyataannya
korban dibawa menuju Surabaya untuk dijadikan admin operator scamming dan mendapat ancaman bahwa mereka sudah dijual kepada pelaku.
“Jika tidak mau bekerja atau merengek minta pulang akan dikirim ke tempat lain yang lebih buruk termasuk ancaman akan menjual organ tubuh mereka,” jelasnya.
Korban mulai curiga karena situasi yang dialami tidak sesuai dengan janji awal dan menduga akan dipaksa terlibat dalam praktik scamming.
Sebelum telepon genggamnya disita, salah satu korban sempat mengirim lokasi keberadaannya kepada suaminya di Jepang sambil meminta pertolongan.
Suami korban kemudian menghubungi Konsulat Jepang di Surabaya yang selanjutnya berkoordinasi dengan kepolisian.
“Berkat informasi itu kami berhasil menyelamatkan korban dan menangkap para pelaku,” tegas Luthfie.
Polisi memastikan seluruh pelaku masuk ke Indonesia secara legal menggunakan visa kunjungan maupun izin tinggal sementara. Namun sebagian besar diketahui telah berstatus overstay. Meski demikian, kepolisian menegaskan proses hukum akan tetap berjalan di Indonesia.
“Sepanjang alat bukti cukup, kasus ini akan kami proses hingga persidangan di Indonesia,” tandasnya.
Kepala Bagian Kejahatan Transnasional dan Internasional, Set NCB Interpol Indonesia Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Kombes Ricky Purnama, menyebut kasus ini menjadi perhatian serius karena diduga merupakan bagian dari sindikat kejahatan internasional lintas negara.
Selain Surabaya, pola serupa sebelumnya juga ditemukan di Bogor, Bali, dan Batam.
“Kami mengindikasikan Indonesia mulai digunakan sebagai basis operasi kejahatan internasional,” ujar perwakilan Interpol Indonesia.
Jaringan tersebut melibatkan warga negara Cina, Taiwan, Jepang, bahkan dalam kasus lain ditemukan keterlibatan warga negara Kenya dan Malaysia.
Saat ini Interpol telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum Jepang, Cina, dan Amerika Serikat untuk mengembangkan penyidikan.
Pihaknya menduga korban jaringan ini bukan hanya berasal dari Jepang, tetapi juga kemungkinan dari Cina dan Taiwan.
Sebab, pola kerja sindikat internasional tersebut biasanya menargetkan korban yang berasal dari negara yang sama dengan anggota jaringan mereka.
“Hari ini kami juga telah membuka komunikasi dengan aparat penegak hukum Jepang, Cina, dan Amerika Serikat guna mendukung pengungkapan jaringan kejahatan internasional yang beroperasi di Tanah Air,” tutupnya.
======
Info Kediri adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Info Kediri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































