tirto.id - Peter Magyar menjadi Perdana Menteri (PM) Hongaria setelah berhasil memenangkan pemilu pada Minggu (12/4/2026). Kemenangan Magyar disambut para pemimpin Eropa dan dipandang sebagai kekalahan Trump. Memangnya, apa dampak kemenangan Magyar bagi Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS)?
Sebelumnya, kemenangan Magyar dalam pemilu membuatnya menggeser posisi PM Hongaria pendahulunya, Viktor Orban. Pergantian kekuasaan Hongaria dari Orban ke Magyar ini lalu disambut gembira oleh pemimpin Eropa.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, misalnya, menyatakan kelegaannya atas hasil pemilu Hongaria. "Hongaria telah memilih Eropa," tulis van der Leyen di X, ia juga menyebut bahwa Hongaria telah kembali ke jalur Eropa.
Hal serupa juga diutarakan PM Spanyol Pedro Sanchez yang menyebut kemenangan Magyar sebagai kemenangan kembali nilai Eropa. Ucapan yang sama juga disampaikan PM Polandia Donald Tusk yang menyambut kemenangan itu dengan anggapan kembalinya Hongaria dalam arus utama politik Eropa.
Lantas, mengapa kemenangan Magyar begitu disambut Uni Eropa dan kekalahan Orban dikaitkan dengan Donald Trump di AS?
Arti Kemenangan Peter Magyar bagi Uni Eropa dan Amerika Serikat
Seturut The Guardian, kemenangan Peter Magyar merupakan sinyal positif bagi para pemimpin Eropa. Hal ini karena Viktor Orban, PM Hongaria sebelumnya, akhirnya kalah setelah 16 tahun menjabat. Orban kerap membuat jengkel Komisi Eropa.
Dalam lanskap politik Uni Eropa, Orban kerap kali jadi batu sandungan ketika blok tersebut sedang membuat kesepakatan kolektif. Salah satu contohnya adalah ketika Orban memveto keputusan Uni Eropa untuk memberikan pinjaman ke Ukraina.
Banyak pihak menilai bahwa arah kebijakan Viktor Orban di Hongaria selama ini membuat Uni Eropa tampak terpecah belah. Hal ini, misalnya, terjadi ketika kebijakan Orban membuat tertundanya pemberian sanksi Eropa ke Rusia karena invasi ke Ukraina.
Rusia memang jadi salah satu akar masalah tidak harmonisnya hubungan Orban dengan Uni Eropa. Ketika invasi Rusia ke Ukraina membuat berang Uni Eropa, Orban memposisikan diri sebagai pemimpin Eropa yang dekat dengan Rusia. Orban juga dilaporkan punya jalur komunikasi tak resmi dengan Kremlin.
Ketegangan antara pemerintahan Viktor Orban dengan Uni Eropa juga telah menyebabkan Komisi eropa menangguhkan pendanaan miliaran euro ke Hongaria. Penangguhan ini diterapkan sebagai sanksi karena Orban dinilai telah menghina norma demokrasi, gagal memberantas korupsi, menghina supremasi hukum, dan bersikap keras kepada media.
Sementara itu, Magyar merupakan politisi sayap kanan yang lebih moderat daripada Orban. Uni Eropa lega dengan terpilihnya Magyar karena ia telah menyatakan kesediaannya untuk mengatasi ketegangan Hongaria dengan Uni Eropa.
Dalam pidatonya pada Senin (13/4) lalu, Magyar menyebut bahwa ia merasa bahwa kompromi dengan Uni Eropa adalah hal yang mungkin. Meskipun, katanya, Uni Eropa merupakan organisasi yang "rumit, birokratis, dan suka mencari kompromi".
"Saya yakin kita akan berdebat. Tetapi kami tidak akan pergi ke sana [Uni Eropa] hanya untuk berkelahi," kata Magyar.
Ketika kemenangan Magyar disambut gembira para pemimpin Eropa, kekalahan Orban dipandang jadi tamparan bagi AS atau setidaknya bagi Presiden AS Donald Trump dan basis pendukung MAGA-nya.
Dampak kekalahan Orban bagi Trump itu dikarenakan Viktor Orban merupakan salah satu figur sentral jaringan populisme kanan global bersama Trump. Eks penasihat Trump, Steve Bannon, bahkan pernah menyebut Orban sebagai "Trump sebelum Trump".
Keduanya kerap memberikan dukungan politik satu sama lain ketika keduanya melakukan pemilu di negara masing-masing. Dalam pemilu Hongaria terbaru, Trump mempromosikan Orban sebagai "pemimpin yang sangat kuat dan tangguh", sementara Orban secara konsisten telah mendukung kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.
Kedekatan Trump dan Orban bahkan membuat Wakil Presiden AS JD Vance datang ke Hongaria pada pekan lalu hanya untuk memberikan dukungan dan mempromosikan Orban jelang pemilu.
Namun, kekalahannya dalam pemilu terbaru telah mendorong kelompok sayap kanan Eropa menimbang apakah kedekatan dengan jaringan populisme sayap kanan ala Trump menguntungkan atau justru pertanda kejatuhan.
"Saya seorang politisi sayap kanan dan menganggap kelompok sayap kanan sangat bodoh. MAGA harus berhenti berkampanye secara internasional karena semua orang dan semua yang mereka dukung kalah dalam pemilu," kata Menteri Pertahanan Belgia Theo Francken.
Akan tetapi, belum dapat dipastikan bagaimana rupa hubungan Eropa-AS pasca kemenangan Magyar. Sebelumya, hubungan AS dan negara-negara NATO di Eropa memburuk karena ancaman dan kampanye militer Trump sepanjang 2026. Belum jelas apakah Magyar akan memperuncing hal tersebut, atau justru meredakannya.
Namun, Magya pada Senin menggambarkan AS sebagai mitra yang penting dan Hongaria membutuhkan hubungan baik dengan negara tersebut. Ia juga menyebut bersedia bicara dengan Trump jika Gedung Putih menelpon.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































