tirto.id - Arsari Group, perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo, mengakuisisi mayoritas kepemilikan di salah satu blok migas lepas pantai Natuna.
Akuisisi itu dilakukan lewat PT Nations Natuna Barat (NPB), anak usaha Arsari Group, dengan mengambil alih 75 persen Participating Interest (PI) non-operator di Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) Duyung dari Conrad Asia Energy Ltd.
Mengutip keterbukaan informasi Conrad Asia Energy Ltd, transaksi tersebut diteken pada November 2025. Conrad (CRD) bersama anak usahanya, West Natuna Exploration Limited (WNEL), telah menandatangani dokumen definitif yang memungkinkan masuknya NPB sebagai pemegang saham mayoritas di PSC Duyung.
Adapun Arsari diesbut bakal membayar 16 juta dolar AS atau sekitar Rp269,9 miliar (asumsi kurs Rp16.871/dolar AS) kepada Conrad sebagai bagian dari aksi koroprasi tersebut. Pembayaran itu rencananya akan dibagi menjadi tiga tahap masing-masing 5 juta dolar AS, 4 juta dolar AS, dan 7 juta dolar AS.
“Setelah transaksi tersebut, WNEL akan mempertahankan kepemilikan 25 persen PI, dengan tetap tunduk pada persetujuan Pemerintah Indonesia,” tulis manajemen Conrad dalam keterbukaan informasinya, dikutip Tirto Selasa (13/1/2026)
Sebagai informasi Participating Interest merupakan porsi kepemilikan sekaligus hak dan kewajiban kontraktor dalam suatu wilayah kerja migas. Pemegang PI berhak atas bagian produksi migas sesuai persentase kepemilikannya, sekaligus menanggung biaya eksplorasi dan produksi. Dalam struktur PSC Duyung, NPB masuk sebagai pemegang PI non-operator, sementara peran operator tetap dijalankan oleh entitas yang ditunjuk dalam kontrak.
PSC Duyung sendiri berada di wilayah Laut Natuna Barat dan selama ini dikenal sebagai salah satu blok gas yang memiliki potensi pengembangan di kawasan tersebut. Wilayah Natuna merupakan salah satu pusat cadangan gas terbesar di Indonesia, sekaligus kawasan strategis dalam peta ketahanan energi nasional.
Meski demikian, transaksi ini masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Indonesia sebelum efektif secara penuh.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































