tirto.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk terus mempercepat transformasi digitalnya. Lewat modernisasi teknologi dan pembaruan menyeluruh pada aplikasi M2U ID App, Maybank Indonesia ingin membangun ekosistem digital banking yang lebih andal, mudah diakses, dan aman bagi penggunanya. Dorongan ini selaras dengan meningkatnya kebutuhan layanan finansial yang ringkas dan terintegrasi di tengah persaingan ketat industri perbankan digital.
Hal ini diungkapkan dalam acara Maybank Indonesia Media Update: Shaping the Future of Digital Banking yang diadakan di Jakarta, Kamis (4/12). Hadir sebagai pembicara dalam acara ini adalah Direktur Teknologi Informasi dan Digital Maybank Indonesia, Bambang Irawan; serta Head of Digital Banking Maybank Indonesia, Charles Budiman.
Menurut Bambang, Maybank Indonesia sedang sibuk meremajakan infrastruktur intinya sejak empat tahun terakhir. Mulai dari pembaruan core banking system, penguatan standar keamanan siber, hingga optimalisasi sistem backend untuk menangani lonjakan transaksi digital yang terus meningkat. Di saat yang sama, SDM di bidang teknologi juga diperkuat.
“Tentu saja semua ini kami lakukan untuk memastikan bahwa teknologi kita mumpuni dan bisa mendukung rencana bisnis ke depan, khususnya di digital,” ujarnya.
Sedangkan Charles menyebut bahwa saat ini di Indonesia ada kurang lebih 106 bank. Secara rasio dengan jumlah penduduk Indonesia, jumlah bank itu sudah terlalu banyak. Itu artinya, kompetisinya tinggi sekali.
Karena itu, ujar Charles, banks need to understand the customer. Hal ini diterapkan di Maybank Indonesia. Salah satu hal yang dilakukan adalah apa yang disebut sebagai mindset transformation. Bahwa apapun yang dilakukan, harus selalu mulai dulu dari sisi customer.
Dalam konteks kebutuhan customer ini, Charles menyebut Maybank Indonesia merangkum kebutuhan nasabah di sektor perbankan ada yang disebut sebagai 5S: Saving, Spend, Scale, Strengthen, dan Secure
Berangkat dari sana, aplikasi M2U ID kini diarahkan menjadi aplikasi yang tak hanya berfungsi untuk transaksi dasar, tetapi juga sebagai ruang pengelolaan keuangan harian, perencanaan finansial, hingga layanan wealth management dalam satu ekosistem. Dengan pondasi teknologi yang lebih modern, pengguna diharapkan dapat memperoleh layanan yang lebih efisien sekaligus terhubung.
Maybank Indonesia menargetkan 2026 sebagai fase akselerasi berikutnya. Pada fase ini, optimalisasi data analytics, penggunaan kecerdasan buatan generatif (Generative AI), serta automasi akan menjadi tulang punggung penyempurnaan aplikasi. Transformasi ini diharapkan dapat memperluas kemampuan aplikasi dalam menyediakan layanan finansial yang inklusif dan relevan bagi berbagai kelompok pengguna.
Tak hanya itu, Charles menyebut bahwa untuk menghadapi persaingan yang semakin sengit, Maybank Indonesia akan memanfaatkan keunggulan yang mereka punya.
"Keuntungan kami adalah, kami sudah punya cabang fisik yang (jumlahnya) besar, kami punya tim sales juga, yang di mana existing nasabah kita sendiri, baseline-nya relatif sudah ada.Dan itu tinggal kita educate, menggunakan digital," tuturnya.
Di tengah persaingan bank digital yang semakin sengit, langkah Maybank Indonesia menunjukkan bahwa bank konvensional dengan jaringan besar masih memiliki ruang signifikan untuk berkompetisi, terutama bila mampu menggabungkan fondasi teknologi kuat dengan pendekatan human-centric digitalization. Dengan modernisasi yang sedang berlangsung, Maybank Indonesia menyatakan siap memasuki babak baru transformasi digital pada 2026.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id





































