Menuju konten utama

Perjalanan Konflik Amerika vs Kolombia di Masa Trump dan Petro

Hubungan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Kolombia Gustavo Petro mulai membaik. Berikut ini kisah perjalanan kedua pemimpin tersebut sebelumnya.

Perjalanan Konflik Amerika vs Kolombia di Masa Trump dan Petro
Presiden Kolombia Gustavo Petro. ANTARA/Anadolu/aa.

tirto.id - Usai setahun bermusuhan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro dijadwalkan bertemu pada Selasa (3/2/2026). Keduanya disebut sepakat untuk melakukan rekonsiliasi hubungan yang memanas.

Melansir CNN, Petro akhirnya bersedia memenuhi undangan Trump untuk bertemu di Washington, setelah pada Januari lalu keduanya dilaporkan berkomunikasi melalui sambungan telepon. Pada Senin (2/2/2026), Trump menyebut bahwa ia menantikan "pertemuan yang baik" dengan Petro di Washington.

Hubungan keduanya sempat memanas kembali setelah AS melancarkan operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari lalu. "Narkoterorisme" yang dijadikan sebagai legitimasi Trump menculik Maduro, sempat disangkutpautkan oleh Presiden AS itu untuk menyerang Petro.

Akan tetapi, permusuhan Petro dan Trump telah terjadi jauh sebelum penculikan Maduro. Setidaknya selama setahun ke belakang, Trump dan Petro saling balas cercaan.

Trump menuduh Petro sebagai propagandis, penghasut, dan karenanya visa Petro dilarang di AS. Sebaliknya, Petro menuduh Trump sebagai imperialis, sebagai penebar teror dengan sanksi dan ancaman perang.

Salah satu momen krusial dalam perseteruan keduanya terjadi pada September 2025 lalu. Kala itu Petro datang ke AS untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB di sana. Momen pidato di depan Majelis Umum PBB itu digunakannya untuk mencerca Trump atas apa yang terjadi di Gaza.

"Aula ini adalah saksi bisu dan kaki tangan genosida di dunia saat ini. Trump tidak berbicara tentang demokrasi, dia tidak berbicara tentang krisis iklim, dia tidak berbicara tentang kehidupan. Dia hanya mengancam, membunuh, dan membiarkan puluhan ribu orang terbunuh,” ucap Presiden Kolombia itu.

Akan tetapi, bagaimana perjalanan konflik antara Gustavo Petro dan Donald Trump, bagaimana itu bermula dan mengapa keduanya sepakat melakukan rekonsiliasi?

Kronologi Perseteruan Trump vs Petro

Semula, AS dan Kolombia merupakan dua negara dengan hubungan yang baik. Di daratan Amerika, hubungan keduanya dianggap jadi salah satu yang paling stabil.

Akan tetapi, kedekatan itu merenggang sejak Januari 2025 lalu. Kala itu, Trump mulai menjabat sebagai Presiden AS untuk kedua kali.

Salah satu kebijakan pertama Trump pada periode keduanya adalah menerapkan deportasi agresif kepada imigran ilegal. Melalui kebijakan ini, pesawat militer dikerahkan, tak sedikit imigran dideportasi dengan tangan terikat seperti penjahat.

Kebijakan deportasi massal itu kemudian jadi awal perseteruan Trump dengan Gustavo Petro. Presiden Kolombia itu rupanya tak terima dengan cara AS memulangkan imigran Kolombia dari AS.

Petro kemudian memblokir izin mendarat dua pesawat pengangkut imigran AS asal Kolombia yang dideportasi. Dalam pernyataannya, Petro menyatakan bahwa ia "tidak akan pernah mengizinkan warga Kolombia dibawa kembali dengan tangan diborgol dalam penerbangan".

Keputusan itu ditanggapi dengan keras oleh AS. Trump kemudian mengancam Kolombia dengan kebijakan tarif dan sanksi jika tak terima dengan kebijakan yang ia buat.

Akhirnya, Petro menarik kembali keputusan itu dan mengumumkan bahwa Kolombia menerima syarat deportasi Trump, termasuk "penerimaan tanpa batas terhadap imigran tanpa dokumen" yang memasuki AS.

Pada Maret 2025, hubungan Petro dengan AS kembali memanas. Hal ini terjadi karena pertemuannya dengan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem di Bogotá.

Dalam pertemuan itu, Petro dilaporkan telah menyebut organisasi Tren de Aragua sebagai "teman-temannya" dan menyatakan bahwa mereka adalah kelompok yang disalahpahami dan hanya memerlukan "lebih banyak cinta dan lebih banyak pengertian".

Tren de Aragua merupakan organisasi yang dikelompokkan AS sebagai kelompok teroris asing dan geng kriminal transnasional. Organisasi ini didirikan dalam penjara Venezuela dan memperluas jangkauannya di seluruh benua Amerika Selatan dalam tahun-tahun terakhir.

Petro membantah bahwa ia bermaksud mengucapkan informasi itu. Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa terjadi kesalahpahaman akibat kemampuan bahasa Inggrisnya yang terbatas.

Keretakan hubungan antara Petro dan Trump lalu kembali terjadi ketika AS mencabut sertifikasi Kolombia sebagai mitra utama Washington dalam memberantas narkoba di daratan Amerika.

Dalam pernyataan pada September 2025 lalu, Trump menyebut Kolombia telah gagal memenuhi kewajibannya dalam memberantas perdagangan narkoba. Keputusan ini diikuti dengan serangkaian pembatasan oleh AS, meskipun Washington tetap memberikan sejumlah pendanaan kepada Kolombia.

Oleh Trump, Petro jadi kambing hitam atas apa yang dia maksud sebagai kegagalan Kolombia dalam memerangi peredaran narkoba. Di sisi lain, Petro membantahnya.

Lalu pada bulan yang sama, pada September 2025, Petro hadir di AS untuk berpidato di hadapan Majelis Umum PBB. Di sana, ia mencerca Trump sebagai kaki tangan genosida di Gaza dan mengkritik kegagalan dunia internasional untuk menyediakan diplomasi yang efektif untuk mencegahnya.

Tak hanya mencerca Trump di forum PBB, Petro kemudian mampir di jalanan New York usai menghadiri acara PBB itu. Di sana, Petro ikut turun ke jalan dalam unjuk rasa pro-Palestina.

Dalam unjuk rasa itu, Petro menyerukan pembentukan tentara internasional guna menandingi militer Israel dan AS. Ia juga mengimbau tentara AS untuk mengikuti suara kemanusiaan dan menolak perintah Trump.

Atas tindakan itu, Departemen Luar Negeri AS kemudian mencabut visa Petro. Dasar keputusan itu adalah Petro dianggap sebagai penghasut dan melakukan "tindakan yang sembrono" ketika mengimbau tentara AS tak mematuhi Trump.

Petro menanggapi pencabutan visa itu dengan dingin: "Saya tidak peduli." Ia kemudian menyatakan bahwa dirinya tak memerlukan visa untuk bepergian ke AS karena dia adalah warga negara Eropa.

Kemudian, pada Oktober 2025, serangan Trump ke Gustavo Petro ditingkatkan. Pengusaha real estate itu menyebut Petro sebagai preman dan menyalahkannya atas narkoba ilegal yang masuk ke AS. Petro menyatakan bahwa pernyataan Trump itu sebagai "fitnah yang dilayangkan terhadap saya".

Selang beberapa hari, Departemen Keuangan AS kemudian memberikan sanksi kepada Petro. Presiden Kolombia itu dituduh berperan dalam perdagangan narkotika global.

"Sejak Presiden Gustavo Petro berkuasa, produksi kokain di Kolombia telah meledak ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade, membanjiri Amerika Serikat dan meracuni warga Amerika," kata Menteri Keuangan Scott Bessent.

Petro membantah tuduhan itu. Ia bersikeras bahwa produksi kokain tak meningkat selama masa jabatannya.

"Sebaliknya, pemerintahan saya telah menyita lebih banyak kokain daripada [upaya serupa di] sepanjang sejarah dunia," katanya.

Pada Desember, sebelum AS melancarkan serangan ke Venezuela, Trump mengancam secara terbuka setiap negara yang menyelundupkan narkoba ke AS. Ia menyebut negara macam itu akan "menjadi sasaran serangan".

Gustavo Petro merespons ancaman itu dengan memperingatkan agar Trump tak mengancam kedaulatan Kolombia. Ia bahkan mengundang Trump datang ke Kolombia untuk melihat langsung upaya pemberantasan narkoba di sana.

Ketika cercaan Trump kepada Presiden Venezuela Nicolás Maduro mulai intensif, Trump menyeret nama Petro dalam ancamannya. Trump memperingatkan Petro untuk "sadar atau dia akan jadi korban selanjutnya".

Pasca operasi serangan AS ke Venezuela terjadi pada 3 Januari, hubungan keduanya kembali memanas. Trump menyebut Petro sebagai "orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat". Trump juga mengancam bahwa Petro adalah target selanjutnya setelah Maduro.

Gustavo Petro membantah tuduhan Trump itu. Sebagai mantan kombatan, Petro juga menyatakan bahwa ia tak segan kembali "mengangkat senjata" jika kedaulatan Kolombia diganggu.

Kemudian, pada 7 Januari 2026, titik balik perseteruan keduanya terjadi. Trump dan Petro dilaporkan telah berbicara melalui sambungan telepon.

Dalam kesempatan itu, Petro disebut bersedia memulihkan komunikasi dengan AS, namun tetap bersikeras menyebut operasi AS di Venezuela sebagai operasi ilegal. Trump menyambut baik sambungan telepon itu dan mengundang Petro untuk bertemu di Gedung Putih.

"Dia tentu saja kritis sebelumnya. Tetapi entah bagaimana setelah serangan di Venezuela dia menjadi sangat baik. Dia sangat mengubah sikapnya," kata Trump pada Senin (2/2/2026).

Kunjungan Petro ke Washington itu dikabarkan akan mencakup kegiatan politik, akademis, bisnis, dan pertemuan dengan diaspora Kolombia di AS. Kantor Kepresidenan Kolombia menyatakan bahwa pertemuan itu akan "menentukan prioritas strategis dan memperkuat jalur kerja sama" kedua negara.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar