Menuju konten utama

Kenapa Presiden Kolombia Gustavo Petro Diincar Donald Trump?

Presiden Kolombia Gustavo Petro menjadi sasaran ancaman Donald Trump. Apa alasan di balik ketegangan ini dan isu narkoba yang memanas?

Kenapa Presiden Kolombia Gustavo Petro Diincar Donald Trump?
Presiden AS Donald Trump mengangkat salinan Laporan Estimasi Perdagangan Nasional 2025 saat ia berpidato dalam acara pengumuman perdagangan “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih pada 2 April 2025 di Washington, DC. Trump yang menyebut acara tersebut sebagai “Hari Pembebasan” diperkirakan akan mengumumkan tarif tambahan yang menargetkan barang-barang yang diimpor ke AS. Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Foto oleh CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Meningkatnya ketegangan antara Presiden Kolombia Gustavo Petro dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul ancaman terbuka AS terhadap pemerintah Kolombia. Kenapa Gustavo diincar Trump?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu, 4 Januari, mengancam akan melakukan aksi militer terhadap pemerintah Kolombia.

Trump menuduh Presiden Kolombia, Gustavo Petro, sebagai sosok yang “sakit” karena terlibat dalam produksi dan perdagangan kokain ke Amerika Serikat, dan menegaskan bahwa praktik tersebut tidak akan berlangsung lama.

"Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit, yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan melakukannya lama lagi," ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One, seperti diberitakan laman CNA.

Ketika wartawan mengulik lebih dalam apakah AS akan melancarkan serangan pada Kolombia, Trump memberikan jawaban yang terdengar sebagai ancaman.

"Kedengarannya bagus bagi saya," tegasnya.

Kenapa Presiden Kolombia Gustavo Petro Diincar Donald Trump?

Presiden Kolombia, Gustavo Petro menyatakan bahwa meskipun ia pernah bersumpah tidak akan mengangkat senjata lagi setelah masa lalunya sebagai pejuang kiri, ia siap melakukannya kembali demi membela negaranya jika terjadi intervensi militer AS.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kemungkinan tindakan Amerika Serikat yang serupa dengan operasi militer di Venezuela, yang oleh banyak pakar hukum internasional dinilai ilegal.

Petro menegaskan bahwa setiap intervensi kekerasan terhadap Kolombia akan memicu perlawanan, dan ia menyatakan keyakinannya pada dukungan rakyat Kolombia untuk melindungi kedaulatan negara serta legitimasi pemerintahannya.

“Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi. Tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi,” ujar Petro dikutip Al Jazeera.

“Saya sangat percaya pada rakyat saya. Dan itulah mengapa saya meminta rakyat untuk membela presiden dari setiap tindakan kekerasan yang tidak sah terhadapnya,” tegasnya lagi.

Ancaman terhadap Kolombia ini muncul menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS, yang kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan narkoba.

Kementerian Luar Negeri Kolombia menyebut pernyataan tersebut sebagai campur tangan yang tidak sah dalam urusan dalam negeri negara lain.

“(pernyataan itu adalah) campur tangan yang tidak semestinya dalam urusan internal negara, yang bertentangan dengan norma-norma hukum internasional,” bunyi tanggapan dari Kemenlu Kolombia.

Seperti diberitakan CNA, operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sendiri dilakukan dengan perencanaan matang selama berbulan-bulan.

Pasukan elit AS, termasuk Delta Force, membangun replika persis dari tempat tinggal Maduro untuk berlatih memasuki rumah yang sangat dijaga ketat.

CIA juga menempatkan tim kecil di lapangan sejak Agustus untuk mempelajari pola kehidupan Maduro, serta memiliki sumber intelijen yang memantau pergerakannya secara langsung. Sampai akhirnya, Trump memberikan lampu hijau untuk operasi tersebut pada Jumat malam atau Sabtu pagi (3/1) sekitar pukul 10.46 WIB.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS VS VENEZUELA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra