tirto.id - Film The Great Flood original Netflix menghadirkan cerita yang awalnya tampak sebagai thriller bencana, namun perlahan berubah menjadi kisah fiksi ilmiah. Dibintangi Kim Da Mi dan Park Hae Soo, simak sinopsis film The Great Flood dan penjelasan endingnya.
The Great Flood ditulis oleh Kim Byung Woo dan Han Ji Su. Kim Byung Woo juga bertindak sebagai sutradara dalam film yang diputar perdana pada 30th Busan International Film Festival pada 18 Desember 2025.
The Great Flood kemudian secara resmi dapat disaksikan secara streaming melalui Netflix sehari setelahnya yakni pada 19 Desember 2025.
Penjelasan Film The Great Flood di Netflix & Sinopsisnya
(Spoiler alert!Penjelasan ini mengandung unsur plot film).
Diceritakan Gu An Na (diperankan Kim Da Mi), seorang ilmuwan yang tinggal di sebuah unit apartemen bersama putranya, Shin Ja In.
Suatu hari An Na yang sibuk menyiapkan makanan untuk Ja In dikejutkan dengan air yang tiba-tiba membasahi lantainya. An Na melihat ini tidak wajar karena unit apartemennya berada di lantai 3 dan itu berarti air telah berhasil merendam dua lantai di bawahnya.Seorang dari laboratorium menelepon An Na dan mengatakan jika banjir besar ini diakibatkan oleh hantaman asteroid di Antarktika. Ia diminta untuk menyelamatkan diri ke lantai paling atas bersama putranya sembari menunggu bantuan berupa helikopter yang telah mereka sediakan.
Banjir dalam film ini pada awalnya benar-benar terjadi. Dan dengan upaya yang tidak mulus, An Na dan Ja In berhasil mencapai atap gedung. Di sana, baru diketahui jika Ja In bukan anak biologis An Na, melainkan subjek AI canggih yang diciptakan untuk menguji apakah makhluk buatan bisa memiliki emosi yang nyata.
Karena Ja In hanyalah subjek, ia pun tidak diperbolehkan masuk ke helikopter dan “dimusnahkan”.
Setelah An Na dievakuasi oleh tim peneliti, film perlahan mengubah fokusnya. Yang dipertaruhkan bukan lagi keselamatan fisik, melainkan sebuah eksperimen besar untuk masa depan peradaban yaitu apakah emosi bisa diciptakan dan diwariskan, bahkan ketika manusia sudah tidak ada.
An Na kemudian dibawa ke laboratorium luar angkasa dan mengetahui bahwa harapan terakhir umat manusia terletak pada pengembangan Emotion Engine, teknologi yang mampu memberi AI kedalaman emosi sejati.
Kecerdasan dan logika sudah berhasil diciptakan, tetapi emosi, khususnya cinta, belum pernah benar-benar bisa direplikasi. An Na mengusulkan eksperimen ekstrem, alih-alih memprogram emosi, ia akan mengalaminya sendiri.
Ia rela masuk ke dalam simulasi yang memaksanya mengulang hari paling traumatis dalam hidupnya, yakni hari saat banjir menghancurkan segalanya.
Di dalam simulasi berbentuk lingkaran waktu ini, An Na terus mengulang kejadian yang sama. Setiap kali gagal menyelamatkan Ja In, waktu akan direset tanpa batas, hingga ia berhasil atau hingga kepunahan menjadi permanen.
Pada awalnya, An Na selalu gagal karena ingatannya tidak utuh. Ia lupa janji yang pernah ia buat kepada Ja In serta lupa kebiasaan dan ketakutan anak itu.
Sedikit demi sedikit, ingatan itu kembali. Ia mengingat kematian suaminya yang tenggelam bertahun-tahun sebelumnya, keputusan menyakitkan untuk tidak melepaskan Ja In, dan kesadaran bahwa Ja In selalu bersembunyi di dalam lemari ketika merasa takut.
Di putaran terakhir simulasi, An Na akhirnya mengingat segalanya. Ia tidak lagi bertindak ragu, tidak lagi tunduk ketika dihadang penjaga, dan memilih melawan demi menepati janjinya.
Dengan bantuan dari Son Hee Joo (Park Hae Soo), ia menemukan Ja In yang bersembunyi di dalam lemari di atap gedung dan berhasil menyelamatkannya. Momen ini menandai keberhasilan eksperimen Emotion Engine. Lingkaran waktu berakhir, dan film ditutup dengan adegan An Na dan Ja In berada di dalam sebuah wahana antariksa, memandang Bumi dari kejauhan.
Namun, film ini memang dirancang untuk tidak memberi jawaban pasti, apakah An Na masih merupakan manusia asli yang ingatannya dipulihkan, ataukah ia kini berubah menjadi makhluk sintetis yang hanya membawa kenangan dan emosi manusia?
Saksikan pengalaman menegangkan namun penuh haru perjuangan seorang ibu untuk menyelamatkan putranya melalui tautan berikut.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































