Menuju konten utama

Penjelasan BMKG soal Gempa Megathrust M8,8 DIY & Potensi Tsunami

BMKG memaparkan adanya potensi gempa megathrust M8,8 di DIY hingga ancaman tsunami besar. Simak penjelasan lebih lanjut BMKG beserta ciri megathrust.

Penjelasan BMKG soal Gempa Megathrust M8,8 DIY & Potensi Tsunami
Ilustrasi Seismografi. Getty Images/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan adanya potensi gempa megathrust M8,8 di DIY hingga ancaman tsunami besar. Simak penjelasan lebih lanjut BMKG berikut.

Secara geologis, seluruh wilayah Indonesia berada pada kawasan Cincin Api Pasifik, yaitu suatu kawasan yang paling sering mengalami gempa.

Sementara itu, kondisi tektonik Indonesia yang terletak pada pertemuan lempeng besar dunia dan beberapa lempeng kecil atau microblocks, menyebabkan daerah ini berpotensi mengalami banyak kejadian gempa.

Potensi Gempa Bumi Megathrust M8,8 di DIY: Bisa Memicu Tsunami Besar?

Ilustrasi Gempa

Ilustrasi Gempa. FOTO/Istockphoto

Potensi gempa bumi megathrust di selatan Jawa hingga M8,8 dan berpotensi memicu tsunami besar disampaikan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat membuka Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di Kulon Progo, Selasa (23/9).

“Ancaman ini nyata dan bisa terjadi tiba-tiba. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus diperkuat. SLG ini adalah wujud kepedulian negara untuk melindungi keselamatan masyarakat dari bencana gempa bumi dan tsunami,” ujar Dwikorita, mengutip laman BMKG, Rabu (24/9).

Potensi ini juga termuat dalam hasil penelitian Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PUSGEN 2017) yang disusun oleh tim pusat studi gempa nasional.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh BMKG, wilayah pesisir selatan, memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Dalam satu dekade terakhir, tercatat 114 kejadian gempa bumi dengan magnitudo di atas 5, dua kali gempa bumi merusak, serta 44 guncangan yang dirasakan masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami, khususnya di wilayah DIY.

Meski bencana tidak dapat dicegah, masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan melalui kesiapsiagaan yang terstruktur.

Apa Itu Gempa Bumi Megathrust dan Ciri-cirinya?

Mengutip laman BNPB Jogja, zona megathrust merupakan istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting). Gempa dalam skala besar di laut kemudian memicu tsunami.

Dalam PUSGEN 2017 disebutkan bahwa terdapat tiga segmentasi megathrust di Samudra Hindia selatan Jawa, yaitu Segmen Jawa Timur, Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Segmen Banten-Selat Sunda.

Ketiga segmen megathrust ini memiliki magnitudo tertarget M8,7 dengan asumsi 2 segmen megathrust yang bergerak secara simultan. Artinya, besaran tersebut merupakan potensi skenario terburuk (worst case).

Namun, gempa megathrust sendiri tidak terjadi secara teratur. Menurut hasil monitoring BMKG, zona megathrust yang paling aktif dari daftar di atas adalah zona di selatan Jawa.

Gempa besar dengan Magnitudo antara 7,0 hingga 8,0 atau lebih besar dengan sumber di zona megathrust atau zona subduksi aktif selatan sudah terjadi sebanyak 11 kali.

Di antaranya tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), dan 1981 (M7,0). Kemudian dilanjutkan tahun 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) 2009 (M7,3), 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), serta 1943 (M8,1).

Dikarenakan tidak ada yang tahu pasti kapan gempa megathrust dapat terjadi, semua masyarakat harus melakukan mitigasi bencana atau serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui edukasi maupun meningkatkan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana.

Melansir laman Antaranews, Rabu, 21 Agustus 2024, beberapa hal yang menandakan bahwa telah terjadi gempa bumi megathrust seperti:

  • Tenggelamnya pantai luar secara tiba-tiba.
  • Gempa megathrust akan mematikan tumbuh-tumbuhan dan vegetasi di laut.
  • Tanah longsor bawah laut dari landas kontinen menuju ke laut dalam. Endapan longsor ini dapat dikenali dari sampel inti yang diambil dari dasar laut.
  • Sumber gempa megathrust biasanya terjadi di bawah laut.

Informasi lebih lanjut tentang gempa bumi megathrust juga dapat diakses oleh pembaca melalui tautan Tirto.id di bawah ini:

Artikel tentang Gempa Bumi Megathrust

Baca juga artikel terkait INFO GEMPA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo