tirto.id - Unjuk rasa menolak pembangunan masjid di Jepang terjadi di Kota Fujisawa, Prefektur Kanagawa pada Minggu (12/4/2026). Unjuk rasa itu dilakukan untuk menolak rencana pembangunan masjid besar pertama di sana, apa alasannya?
Aktivis sayap kanan Jepang, Yusuke Kawai, dilaporkan jadi pihak yang memotori unjuk rasa tersebut. Yusuke merupakan mantan komedian Jepang yang kini jadi politisi dan mempromosikan agenda sayap kanan ekstrem.
Masjid Fujisawa direncanakan akan dibangun di atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Masjid ini diperkirakan mulai beroperasi pada 2027 atau 2028.
Penolakan pembangunan masjid di Fujisawa sebenarnya telah terjadi sejak tahun 2025 lalu. Seturut media Jepang, Townnews, Dewan Kota Fujisawa telah menerima puluhan petisi penolakan pada Desember lalu.
Total petisi yang diajukan untuk menolak pembangunan masjid itu mencapai 44 buah. Sebanyak 38 di antaranya menyerukan pembatalan izin pembangunan dan permintaan untuk meninjau langkah-langkah keselamatan lalu lintas.
Namun, Dewan Kota Fujisawa telah menolak seluruh petisi tersebut. Pernyataan resmi mereka menyebut bahwa pembangunan masjid telah "sesuai dengan standar hukum". Mereka juga menyebut proyek pembangunan itu legal, kecuali jika ditemukan "bukti bahwa operator proyek melakukan pembangunan yang berbeda dari permohonan".
Melansir Seoul Economic Daily, konflik seputar pembangunan masjid terjadi secara meluas di Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi seiring peningkatan jumlah muslim di Negara Sakura tersebut.
Hirofumi Tanada, profesor emeritus Universitas Waseda, menyebut bahwa jumlah umat muslim di Jepang meningkat secara konstan dari tahun ke tahun. Menurutnya, Jepang menjadi tempat tinggal bagi 110.000 muslim pada 2010, dan jumlahnya meningkat menjadi 420.000 pada akhir 2024.
Peningkatan jumlah umat muslim juga beriringan dengan peningkatan jumlah masjid. Pada 2008, kata Tanada, ada sekitar 50 masjid di Jepang. Jumlah masjid itu meningkat hingga 164 pada pertengahan 2025.
Alasan Penolakan Masjid di Fujisawa
Unjuk rasa penolakan masjid di Fujisawa terjadi karena sejumlah alasan. Massa aksi meneriakkan beberapa kekhawatiran yang mereka rasakan atas pembangunan masjid tersebut.
Seturut media Catalonia, Estat, kekhawatiran pengunjuk rasa berkisar pada sejumlah hal. Beberapa di antaranya adalah tentang kemacetan lalu lintas, kebisingan suara azan, dan tata cara pemakaman Islam yang berbeda dari Jepang.
Massa aksi disebut khawatir karena pemakaman Islam tidak memperbolehkan kremasi dan potensi pencemaran pada tata cara pemakaman Islam. Namun, hal ini telah dibantah pengembang masjid, mereka menyebut pembangunan masjid Fujisawa tidak termasuk pembangunan pemakaman.
"Tidak ada rencana untuk membangun pemakaman," kata pengembang.
Pihak pengembang juga telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengatur potensi kebisingan akibat azan. Mereka menyebut akan membatasi suara agar hanya terdengar di dalam ruangan.
Selain itu, seturut The Logical Indian, para pengunjuk rasa turut mengkhawatirkan lokasi pembangunan masjid yang berdekatan dengan kuil Shinto yang bersejarah. Para warga resah keberadaan masjid akan mengubah karakter budaya dan visual daerah tersebut.
Pengembang masjid menyatakan pula telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat guna menanggulangi hal tersebut. Mereka menyebut bahwa pembangunan masjid Fujisawa dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Otoritas setempat mengklarifikasi bahwa rencana pembangunan masjid telah ditinjau berdasarkan peraturan zonasi dan memastikan proyek ini sesuai dengan standar hukum yang berlaku.
Unjuk rasa dan sentimen penolakan masjid turut dipicu oleh pesan-pesan politik. Sejumlah politikus Jepang telah menjadikan pembangunan masjid dan peningkatan jumlah umat muslim sebagai bahan kampanye.
Para ahli mengatakan, gesekan yang terjadi pada pembangunan masjid di Jepang turut disebabkan misinformasi. Yo Nonaka, profesor madya Universitas Keio, menyebut misinformasi membuat kecemasan terhadap budaya yang wajar berubah jadi gesekan karena misinformasi tentang Islam yang beredar.
"Kecemasan tentang budaya yang tidak dikenal adalah hal yang wajar, tetapi menyebarkan ketakutan melalui informasi yang tidak akurat adalah masalah," katanya kepada Seoul Economic Daily.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























