Menuju konten utama

Pedagang Ikan Bandung Dirundung Resah karena Pemadaman Listrik

Pemerintah semestinya segera membereskan masalah kelistrikan ini dan memberi kompensasi atas dampak pemadaman.

Pedagang Ikan Bandung Dirundung Resah karena Pemadaman Listrik
Kondisi toko para pedagang ikan hias saat mengalami pemadaman listrik di Jalan Ciwastra, Kota Bandung, Jumat (19/26/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemadaman listrik di Kota Bandung beberapa waktu lalu tak hanya meninggalkan kondisi gelap tanpa pencahayaan, melainkan juga perasaan khawatir dan tidak nyaman. Apalagi, bagi mereka yang mengandalkan listrik untuk mencari mata pencaharian.

Pedagang ikan hias adalah salah satu pihak yang dilanda kekhawatiran saat pemadaman listrik terjadi.

“Kalau kelamaan mati lampu, si ikan bisa mabuk. Bisa juga ikut mati,” cerita Alin (46), seorang pedagang ikan hias, kepada kontributor Tirto saat ditemui di tokonya di daerah Ciwastra, Kota Bandung, Jumat (19/6/2026) lalu.

Perempuan asal Kopo itu berulang kali menatap jam dinding. Rasa cemas tergurat jelas di wajahnya. Dia seakan-akan bertanya kepada alat penunjuk waktu itu kapan listrik kembali menyala. Dia tak ingin kehilangan ikan-ikan jualannya untuk kedua kalinya.

“Minggu lalu, dua akuarium isi ikan molly mati,” sesal Alin.

Nasib kurang mujur tersebut dialaminya imbas pemadaman listrik bergilir di Kota Bandung. Tanpa ada pemberitahuan, listrik di toko ikan miliknya tiba-tiba mati pada malam hari. Saat itu, dia sudah pulang ke rumahnya di Kopo. Tak ada pegawai di lokasi, terlebih toko memang sudah tutup.

“Dua akuarium itu ikan-ikan baru datang. Enggak tahu malam ada listrik mati. Dua akuarium nilainya kurang lebih Rp600 ribu,” ucapnya.

Menurut Alin, sejak awal Juni 2026, pemadaman seperti itu terhitung lebih sering terjadi. Dia mengingat, sepanjang pekan lalu saja sudah tiga sampai empat kali terjadi pemadaman listrik.

“Untungnya ini listrik matinya siang, saya ada di sini. Kalau malam, enggak tahu. Soalnya saya enggak tinggal di sini, pulang,” ungkapnya di tengah keadaan mati lampu.

Barang sebentar, dia kembali melirik ke jam dinding.

Alin mengaku sudah mendapatkan informasi dari sosial media bahwa pemadaman hari itu bakal hanya berlangsung beberapa jam. Namun, selama berbincang, Alin tak kuasa menyembunyikan kegelisahannya.

“Tadi, [mati listrik] dari pukul 12:30 siang. Paling nyala lagi nanti 15:30 sore berarti,” kata Alin.

Sepanjang pemadaman listrik berlangsung, Alin melakukan sejumlah antisipasi supaya ikan-ikannya tidak mabuk dan menyebabkan kematian. Terlebih, ikan hias tertentu amat bergantung pompa udara atau aerator.

Dia bilang, koi dan arwana merupakan dua di antara jenis ikan yang cukup rawan ketika pompa udara di akuarium tidak berfungsi. Menurutnya, kondisi dan kepadatan isi ikan juga dapat mempercepat mereka kehabisan oksigen.

“Takutnya itu ikan yang mahal-mahal [mati]. Kayak arwana, jutaan gitu harganya. Lima [arwana] enggak boleh [satu akuarium]. Satu paling. Tiga juga kalau mati lampu mah udah [arwana berisiko mati],” imbuhnya.

NEWSPLUS Pedagang Ikan Hias

Kondisi toko para pedagang ikan hias saat mengalami pemadaman listrik di Jalan Ciwastra, Kota Bandung, Jumat (19/26/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

Oleh karena itu, dia selalu memantau setiap akuarium dan kondisi ikan. Pertolongan pertama yang dilakukan adalah memberi oksigen. Apabila ikan sudah tampak kehabisan oksigen, dia segera memasukkan mereka ke dalam kantong plastik yang sudah diberi udara.

“Kalau ikan udah engap-engap ke atas permukaan air, itu tanda. Paling diserok. Saya serok masukin plastik berisi air dan oksigen,” jelas Alin.

Setelah sekian lama menanti, Alin akhirnya menghela napas lega ketika lampu-lampu dan mesin di akuarium menyala kembali. Namun, dia tetap tak bisa tenang dan berniaga dengan nyaman bila pemadaman listrik bergilir terus berlanjut.

Perempuan yang berjualan ikan hias selama belasan tahun itu berharap pemerintah lebih serius menangani masalah pemadaman listrik.

“Ya gini aja [unek-uneknya], jangan sampai kejadian kayak gini lagi. Buat yang usaha ikan pasti banyak kerugiannya,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun kontributor Tirto, pemadaman listrik di sepanjang Jalan Ciwastra, Kecamatan Buahbatu, dan sekitarnya pada Jumat (19/6/2026) itu disebabkan kendala teknis operasional pembangkit listrik. Kendala itu kemudian menyebabkan penurunan suplai listrik ke masyarakat.

PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bandung dalam keterangan resminya menyatakan tengah melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah tersebut. Estimasi waktu pengurangan beban listrik atau pemadaman ini berlangsung sekira 3 jam.

Terapkan Mode Survival

Berbeda dari Alin, Ikhwan tampak lebih tenang menghadapi pemadaman listrik. Dia mengaku sudah menyiapkan mesin aerator AC/DC yang dapat bekerja memakai baterai. Tak tanggung-tanggung, dia menyiapkan sembilan mesin untuk keadaan darurat.

“Awalnya, cuma punya 2-3 mesin. Tapi, setelah ngelihat soal blackout di Sumatra, saya jadi lebih mengantisipasi lagi,” ungkapnya kepada kontributor Tirto di toko ikan hiasnya.

Ikhwan mengaku sudah memikirkan kemungkinan paling buruk. Sepanjang Juni 2026 ini saja, kata Ikhwan, pemadaman listrik kerap terjadi secara berkala. Tak memungkiri, dia pun sempat agak cemas dengan kondisi tersebut.

Lelaki berusia 42 tahun itu mengaku dapat informasi pemadaman dari jaringan pedagang yang mengalami blackout di Pulau Sumatra. Mereka mendapatkan kerugian besar selama terjadinya pemadaman listrik tersebut.

“Pengalaman dari rekan di Sumatra. Dampaknya memang signifikan, apalagi bisnis atau toko ikan. Jadi, buat pedagang ikan, genset dan baterai gelembung itu sangat penting,” ucap lelaki asal Madiun ini.

Selain menyiapkan mesin-mesin alternatif untuk mengantisipasi pemadaman listrik, Ikhwan juga lebih berhati-hati saat membeli stok ikan di distributor. Dia memilih menyediakan ikan-ikan tertentu yang biasanya lebih cepat terjual dan tidak berlebihan ketika hendak memesan stok baru.

NEWSPLUS Pedagang Ikan Hias

Kondisi toko para pedagang ikan hias saat mengalami pemadaman listrik di Jalan Ciwastra, Kota Bandung, Jumat (19/26/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

Berdasar pengalamannya berkecimpung di bisnis ikan hias selama 20 tahun, Ikhwan menyarankan para pedagang ikan untuk menerapkan mode survival. Masa-masa saat ini, di tengah kondisi ekonomi yang lesu, dia berharap para pedagang terus bertahan dengan cara menyiapkan sejumlah antisipasi dan tidak jor-joran berbelanja ikan.

“Memang keadaannya kayak gini. Nanti kalau kita berharap pada pemerintah, kita kecewa sendiri. Jangan kita sedikit-sedikit ngeluh ke pemerintah. Percuma ngeluh-ngeluh juga. Kita inisiatif aja sendiri,” imbuhnya.

Pedagang Minta Kompensasi

Beberapa kilometer tak jauh dari tempat Alin dan Ikhwan berjualan, seorang pedagang ikan hias lain, Budi (54), menilai pemerintah sudah seharusnya memberi kompensasi bagi masyarakat terdampak pemadaman.

Budi mengaku tidak pernah sekali pun telat membayar tagihan listrik bulanan, tapi mengapa pemadaman kerap terjadi secara serampangan. Budi bahkan tidak tahu informasi soal pemadaman kali ini.

“Tanpa pemberitahuan, begitu aja. Ini kan yang jadi masalahnya, ikan kalau terlalu lama bisa jadi untuk yang enggak kuat bisa mati,” sesal Budi kepada kontributor Tirto di toko ikan hias miliknya.

Saat pemadaman listrik terjadi, dia bersama pegawainya langsung bergerak cepat menyaring sejumlah ikan yang mulai kehabisan oksigen. Seperti yang dilakukan Alin dan Ikhwan, Budi memasukkan ikan-ikan itu ke kantong plastik berisi air dan oksigen.

Sejak pemadaman listrik menjadi lebih sering pada Juni 2026, Budi merasa beruntung karena masih mampu menyelamatkan ikan-ikan jualannya dari kematian. Tapi, itu tak lantas membuatnya lepas dari perasaan khawatir kala pemadaman terjadi. Budi selalu berpikir hari apes bisa datang kapan saja.

Pasalnya, dia pernah mengalami kejadian ikan-ikan mati akibat listrik mati beberapa tahun silam. Saat itu, kerugiannya bahkan mencapai jutaan rupiah.

“Mungkin, kurang lebih ada 15 tahun ke belakang. Itu pemadamannya begitu lama, lebih dari 12 jam,” ujarnya.

Pelaku bisnis ikan hias selama puluhan tahun ini pun berharap pemerintah turun tangan ketika kejadian serupa dialami masyarakat. Lagi-lagi, menurutnya, pelaku usaha atau masyarakat pada umumnya layak mendapat kompensasi atas dampak pemadaman listrik.

“Harusnya pemerintah, kalau sampai merugikan dunia usaha, harus ada kompensasi. Enggak pernah nunggak bayar listrik, tapi ini pelayanannya kenapa semakin buruk,” sesalnya.

Baca juga artikel terkait PEMADAMAN LISTRIK atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi