Menuju konten utama

Pasokan Aman, Chandra Asri Cabut Status Force Majeure

Chandra Asri resmi menghapus status force majeure usai memastikan bahan baku aman. Status force majeure sebelumnya diberlakukan terkait pasokan terbatas.

Pasokan Aman, Chandra Asri Cabut Status Force Majeure
Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR Chusnunia Chalim (kiri), Direktur Legal Hubungan Eksternal Chandra Asri Edi Riva'i (tengah), dan Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Taufik Bawazier (kanan) menyampaikan pendapat saat kunjungan kerja spesifik di PT Chandra Asri, Kota Cilegon, Banten, Jumat (22/8/2025). Kunjungan kerja spesifik tersebut untuk menyerap aspirasi dan menemukan solusi konkret terkait kebutuhan gas nasional guna menunjang sektor industri. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

tirto.id - PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri) mengumumkan berakhirnya status force majeure yang sebelumnya diberlakukan terkait pasokan polymer dan monomer.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi berujar, berakhirnya status force majeure menandai langkah perseroan untuk memastikan keandalan pasokan bagi sektor industri nasional.

“Sebagai Mitra Pertumbuhan industri Indonesia, prioritas kami adalah memastikan industri domestik tetap memperoleh bahan baku yang dibutuhkan. Karena itu, kami mengambil berbagai langkah yang dibutuhkan agar dapat terus menghadirkan pasokan yang andal dan mendukung pertumbuhan industri nasional,” ujar Suryandi, dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Dalam keterangan resminya, Chandra Asri menyatakan, dengan kondisi operasional yang bertahap semakin stabil, perseroan terus memperkuat kapasitas produksi dan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Keputusan ini diambil setelah perseroan menjalankan langkah strategis guna menjaga kesinambungan produksi di tengah tantangan rantai pasok global.

Chandra Asri disebut secara proaktif mengamankan sumber bahan baku alternatif dari berbagai pasar internasional, mengoptimalkan fasilitas kilang di Singapura, serta memperluas pengadaan hingga Amerika Serikat (AS) untuk memastikan kebutuhan pelanggan domestik tetap terpenuhi.

Pengiriman dari AS diklaim memerlukan waktu sekitar 50-70 hari, lebih panjang dibandingkan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang umumnya berkisar 15-20 hari.

Selain itu, nafta dari Amerika Serikat juga berada pada kisaran 150-200 dolar AS per metric ton lebih tinggi dibandingkan pasokan dari Timur Tengah. Upaya ini ditempuh karena perseroan memprioritaskan kebutuhan domestik di kondisi global saat ini.

Dalam upaya meningkatkan keandalan pasokan ke depan, produksi ethylene dari fasilitas olefin cracker kini diprioritaskan untuk kebutuhan internal polymer plant Perseroan.

Kebijakan ini disebut mendukung optimalisasi produksi polypropylene (PP) dan polyethylene (PE), yang merupakan bahan baku utama bagi berbagai sektor strategis seperti kemasan, otomotif, konstruksi, logistik, kesehatan, dan barang konsumsi.

Baca juga artikel terkait PETROKIMIA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra