tirto.id - Pendiri Partai Kecoak Janta India, Abhijeet Dipke mengumumkan jika ia akan kembali ke India untuk memimpin demonstrasi menuntut Menteri Pendidikan mundur dari jabatannya.
Melalui unggahan di akun X @abhijeet_dipke, pendiri Cockroach Janta Party (CJP), Abhijeet Dipke menyampaikan rencananya untuk kembali ke India untuk memimpin demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, sekaligus sebagai bentuk kritik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.
“Saya akan kembali ke India untuk menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan. Saya meminta kaum muda India untuk bergabung dalam protes damai ini di Jantar Mantar dan menggunakan hak konstitusional kita untuk menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah,” tulis Abhijeet pada 1 Juni 2026.
Apa Itu Partai Kecoak Janta India?
Partai Kecoak Janta atau Cockroach Janta Party (CJP) adalah sebuah gerakan politik berbasis media sosial di India yang telah menarik jutaan pengikut dalam waktu singkat dan memanfaatkan keresahan besar di kalangan generasi muda India terkait pengangguran, inflasi, serta berbagai masalah dalam sistem pendidikan.
Mengutip BBC pada 21 Mei 2026, CJP adalah kelompok satir berbasis internet yang memilih kecoak sebagai simbol gerakan politik mereka karena kecoak dianggap makhluk yang tangguh, tidak disukai, tetapi sangat sulit dimusnahkan.
Gerakan ini mulai mendapat perhatian luas setelah pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang dalam sebuah sidang disebut-sebut menyamakan sebagian pengangguran muda dengan kecoak dan parasit, meskipun kemudian ia mengklarifikasi bahwa ucapannya hanya merujuk pada pemegang ijazah palsu.
Namun, pernyataan tersebut sudah terlanjur menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi publik, termasuk lahirnya gagasan satir “Cockroach Janta Party” yang merupakan parodi dari partai berkuasa Narendra Modi, yaitu Bharatiya Janata Party (BJP).
CJP sendiri bukan partai politik formal, melainkan gerakan internet berbasis humor politik yang dipelopori oleh Abhijeet Dipke, seorang mahasiswa dan konsultan komunikasi politik yang pernah bekerja dengan Aam Aadmi Party (AAP).
Dipke mengaku ide tersebut awalnya hanya lelucon, namun berkembang jauh lebih besar dari perkiraannya setelah viral di media sosial.
Dipke mengklaim bahwa sekitar 800.000 mahasiswa telah menandatangani petisi yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan, meskipun pihak pemerintah maupun kementerian terkait belum memberikan tanggapan resmi seperti diberitakan Reuters (1/6/2026).
Partai Kecoak Soroti Isu Pendidikan yang Kacau di India
Gelombang ketidakpuasan yang melatarbelakangi munculnya CJP juga diperburuk oleh berbagai krisis yang sedang dihadapi India, termasuk skandal kebocoran ujian masuk perguruan tinggi kedokteran yang menyebabkan pembatalan ujian nasional dan memicu kemarahan publik.
Pemerintah bahkan dilaporkan mempertimbangkan langkah-langkah darurat untuk distribusi soal ujian ulang, termasuk penggunaan angkatan udara India sebagai pengganti sistem pos tradisional demi mencegah kebocoran.
Selain isu pendidikan, CJP juga menyoroti krisis ketenagakerjaan di kalangan pemuda, di mana tingkat pengangguran usia 15–29 tahun mencapai 9,9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Namun di balik popularitasnya, Dipke menghadapi tekanan dan kekhawatiran terkait keselamatannya. Ia mengaku bahwa keluarganya cemas jika dirinya akan ditangkap ketika kembali ke India.
Tak hanya itu, pemerintah India juga dilaporkan telah memblokir akun resmi CJP di platform X. Dipke juga menyebut akun Instagram kelompoknya sempat diretas sebelum berhasil ia pulihkan kembali.
Di sisi lain, Menteri Kabinet senior Kiren Rijiju menuduh CJP menyebarkan narasi yang dipengaruhi oleh lawan politik, termasuk tuduhan bahwa gerakan tersebut mencari dukungan dari akun-akun di Pakistan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































